Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
TERDUGA anggota kelompok radikal Islamic State (IS) yang ditangkap otoritas Filipina, Ilham Syahputra, bukanlah pemain baru dalam aksi terorisme. Saat diinterogasi, Ilham mengaku ikut merancang serangan bom di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, pada Januari 2016.
Pria berusia 32 tahun asal Medan, Sumatra Utara, itu ditangkap aparat Filipina di Marawi pada Rabu (1/11). “Memang sejak April ada dugaan keterlibatan WNI yang masuk kelompok terorisme. Satu paspor ditemukan saat aparat setempat berhadap-hadapan dengan kelompok teror di Marawi,” jelas Kabag Penerangan Umum Divisi Humas Mabes Polri Kombes Martinus Sitompul di Jakarta, kemarin (Kamis, 2/11).
Saat ini Ilham ditahan dan terus menjalani pemeriksaan untuk mengungkap jaringannya. Sepak terjangnya dalam aksi teror bukan yang pertama. Ia juga terlibat dalam peristiwa bom Thamrin. Dalam aksi teror itu delapan orang termasuk pelaku tewas dan 26 korban mengalami luka-luka.
Beberapa barang bukti juga sudah disita otoritas Filipina saat membekuk Ilham, di antaranya granat, pistol, paspor Indonesia, dan beberapa lembar mata uang asing.
Menurut Martinus, meski Ilham diduga teroris, pemerintah Indonesia tetap menginginkan yang bersangkutan mendapatkan hak-haknya. “Seperti didampingi pengacara dan diperlakukan sebagai tahanan sesuai dengan standar internasional.”
Kementerian Luar Negeri RI pun terus berusaha memverifikasi kepada otoritas Filipina penangkapan Ilham. Namun, kata jubir Kemenlu Arrmanatha Nasir, belum ada konfirmasi resmi soal itu.
Menurut jubir Wakil Polisi Nasional Filipina Inspektur Chai Madrid, Ilham dibawa ke Camp Crame, Manila, untuk ditahan.
“Dia tiba di Manila pada Kamis (2/11) dini hari setelah ditangkap pada pagi hari oleh Tim Aksi Perdamaian Barangay di Brgy Luksadatu, Kota Marawi,” tuturnya.
Saat hendak ditangkap, Ilham berusaha kabur dengan berenang menyeberangi Danau Lanao ke kota yang berdekatan dengan Marawi. Penampilannya yang asing menimbulkan kecurigaan warga yang kemudian melaporkannya ke polisi.
Gubernur Lanao del Sur, Zia Alonto Adiong, memuji kepedulian masyarakat dan kesigapan aparat sehingga Ilham bisa ditangkap. “Penangkapan WNI yang terlibat dalam pertempuran Marawi memvalidasi posisi bahwa partisipasi warga sipil sangat penting dalam usaha bersama kita untuk mengamankan masyarakat kita dari unsur-unsur teroris.”
Gerombolan IS menguasai sebagian wilayah Marawi sejak 23 Mei silam dan baru bisa diatasi pertengahan bulan lalu. Pemimpin IS di Asia Tenggara, Isnilon Hapilon, pun tewas pada Senin (16/10) atau di saat-saat terakhir pengepungan Marawi oleh militer dan polisi Filipina. (Sru/Ire/AlJazeera/X-8)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved