Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
PERILAKU kelompok intoleran yang suka memojokkan kelompok lain (penganut populisme) belakangan semakin menguat di sejumlah negara. Di Indonesia, fenomena itu bisa dilihat dari pelaksanaan Pilkada DKI 2017.
Hal ini dijelaskan Robert W Hefner, Director of Institute on Culture, Religion, and World Affairs (CURA) Universitas Boston, Amerika Serikat, dalam diskusi bulanan Institute of International Studies Universitas Gadjah Mada.
Berikut sari wawancara wartawan Media Indonesia Furqon Ulya Himawan bersama Hefner seusai diskusi yang bekerja sama dengan Institute for Interfaith Dialogue in Indonesia (DIAN/Interfidei) di Fisipol UGM, kemarin.
Apakah isu agama yang terjadi di Pilkada DKI 2017 akan merembet ke daerah lain?
Saya rasa belum tentu karena komunitas muslim di Indonesia sangat majemuk. Saya cenderung menganggap fenomena di Jakarta kemarin merupakan isu yang saat itu memang memiliki keistimewaan. Isu ini saya rasa tidak mungkin terjadi di wilayah lain. Saya melihat di beberapa wilayah, saya melihat ada beberapa orang (muslim) yang mencoba mengatasi, menghadapi, dan mendamaikan situasi seperti di Jakarta. Jadi, saya sangat percaya komunitas muslim di Indonesia sangat majemuk.
Tadi saat diskusi dikatakan media sosial berpengaruh dalam populisme. Apakah ini nanti juga akan terjadi dalam pilkada mendatang?
Media sosial ialah salah satu ironi dari zaman kita. Sebuah teknologi komunikasi yang demikian canggih dan dianggap sebagai alat yang bisa membantu berjalannya demokrasi. Namun, media sosial juga bisa dipakai untuk tujuan yang sangat bertentangan dengan demokrasi dan kebangsaan. Jadi, ada segregasi. Di negara saya juga seperti itu, timbulnya wacana antimuslim, anti-Meksiko, dan anti-anti lainnya. Awalnya saya kaget, isu itu tidak muncul dari media massa yang konvensional, tapi malah dari media sosial. Ini terjadi di mana-mana, sangat serius. Ada juga di Jakarta kemarin (Pilkada DKI 2017) dan di Amerika lebih besar lagi. Ini salah satu tantangan untuk demokrasi dan kebinekaan yang harus kita hadapai.
Untuk penegasan, apakah populisme akan dipakai sebagai alat kampanye untuk memenangi Pilkada 2018 seperti di Jakarta?
Kemungkinan besar politisi belajar dari peristiwa itu. Politisi akan melihat. Kalau ada alat diĀterapkan di satu wilayah dan itu berhasil, mereka akan menerapkan alat atau instrumen yang serupa di wilayah lain. Namun, saya cenderung menganggap politisasi isu etnik, agama, yang serupa di Jakarta, belum tentu berhasil di wilayah lainnya. Saya masih sangat optimistis dengan muslim di Indonesia tidak mudah percaya. Pertama, orang Indonesia sangat dewasa jika dibandingkan dengan negara saya (Amerika Serikat). Ini bisa dilihat dari fenemona Donald Trump. Kedua, komunitas muslim di Indonesia sangat majemuk. Di Jakarta kemarin itu 27% atau lebih dari komunitas muslim memilih Ahok. Padahal, ada dikotomi dan isu agama dan terus dipolitisasi oleh kelompok yang mengatasnamakan agama. Itu mencerminkan sebuah kedewasaan yang cukup bagus. Dari situ saya tumbuh optimisme kepada komunitas muslim di Indonesia.
Optimisme seperti apa?
Terlepas dari isu pilkada, secara umum saya melihat semangat patriotisme komunitas muslim di Indonesia. Seperti NU dan Muhammadiyah. Saya optimistis terhadap kebinekaan di Indonesia akan terus terjaga. Sebagian besar dari mereka melihat tantangan intoleransi yang lebih penting lagi, yaitu tantangan pada nasionalisme kebangsaan Indonesia. Jadi, menurut saya, walaupun ini belum menjadi gelombang, tapi ada gejala kebangkitan patriotisme Indonesia dalam menjaga kebinekaan. Komunitas muslim NU dan Muhammadiyah bersatu memperjuangkan kebangsaan Indonesia.
Saya lihat ada keyakinan dari komunitas muslim agar selalu bekerja untuk negara Indonesia. Sebagai orang muslim mereka tidak mau ada kelompok pendatang dari luar dan menjadi terorisme. Atau kelompok dari dalam negeri sendiri yang tidak peduli dengan kebinekaan Indonesia dan mereka membayangkan akan ada institusi global yang mengganti kebinekaan.
Apakah itu yang dimaksud dengan menolak Hizbut Tahrir Indonesia (HTI)?
Melihat fenomena yang terjadi dan saya amati, sangat terasa sekali. Mereka menolak HTI karena mereka melihat bahwa Indonesia adalah bagian dari mereka dan Indonesia ialah sesuatu yang dicintai komunitas muslim NU dan Muhammadiyah.
Lalu bagaimana dengan gelombang populisme di Indonesia dan bagaimana jika dibandingkan dengan negara lain dan apa pengaruhnya terhadap politik?
Gelombang populisme di Indonesia sedikit meningkat. Namun (masih kalah jika) dibandingkan dengan negara yang lain seperti di Amerika Serikat, Belanda, dan Prancis. (Di negara-negara itu) jauh lebih besar dan jauh lebih berpengaruh dalam lapangan politik. Di Indonesia, ada kelompok muslim (NU dan Muhammadiyah) yang membela keberagaman dan kebinekaan di Indonesia. Mereka menolak gagasan transnasional yang mempertentangkan gagasan kebangsaan dengan agama.
Adanya dukungan dari masyarakat Indonesia itulah yang membedakan dan menimbulkan optimisme di hati saya.
Saya tidak tahu mau ke mana politik Amerika Serikat. Trump tidak disukai sebagian masyarakat Amerika, tapi dia sangat kuat. Lihat orangnya, dia rasialis, anti-muslim dan sangat bertentangan dengan agama dan etika. (P-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved