Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Walikota Tegal Ditangkap, Mendagri Ingatkan Falsafah Jawa

Muhammad Fauzi
30/8/2017 22:28
Walikota Tegal Ditangkap, Mendagri Ingatkan Falsafah Jawa
(ANTARA/Hafidz Mubarak A)

KECEWA atas penangkapan Walikota Tegal, Siti Masitha Soeparno atas dugaan suap oleh KPK, Mendagri Tjahjo Kumolo melontarkan perenungan tentang falsafah kehidupan masyarakat berbudaya jawa.

Dalam pesan Whatsapp yang diterima wartawan, Tjahyo mengingkan bahwa menginginkan sesuatu secara berlebihan akan menggendong lupa, atau siapa pun yang terlalu besar 'melik' (bahasa jawa berarti pamrih) akan sesuatu, ia akan mudah melanggar tata aturan dan norma.

"Melik berbeda dengan keinginan. Keinginan sama dengan angan-angan, cita-cita. Melik bersifat lebih keras, lebih parah, dan jika sudah terpaksa, orang yang memiliki melik akan melakukan cara apa pun," tulis Tjahyo, Rabu (30/8)

Tidak heran jika sudah sampai taraf melik, padahal sesuatu yang di-melik-i tersebut sulit tercapai, orang yang ber-melik akan menganggap tidak ada salahnya untuk mencuri. Bila terpaksa harus merebut, ia juga akan melakukannya.

Siapapun yang memiliki melik, pasti hatinya penuh dengan hawa nafsu. Nalar tidak berfungsi, akal buntu, rasa kemanusiaan juga lenyap. "Dia hanya mengejar satu, yaitu cara agar yang sesuatu yang diinginkannya itu secepat mungkin diraih, jika sudah pada posisi demikian, tak mengherankan bila ia seolah-olah kerasukan," tutur Tjahjo.

"Meminta juga tidak merasa malu, mencuri pun juga boleh. Segala cara dihalalkan. Toh, yang namanya aturan, batasan, kemanusiaan, hanyalah buatan manusia. Semua bisa diubah, dibuang, diinjak di bawah telapak kaki. Saat mencapai fase itu, aturan, batasan dan kemanusiaan tidak diperlukan karena yang perlu hanyalah bagaimana meliknya bisa tercapai. Alias kojuuur...(hancur)," pungkasnya. (X-12)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Ahmad Punto
Berita Lainnya