Headline
Presiden sebut dampak perang nuklir lintas batas dan jangka panjang.
Presiden sebut dampak perang nuklir lintas batas dan jangka panjang.
Kumpulan Berita DPR RI
BADAN Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) melansir belasan warga asal Sumatra Barat (Sumbar) ditangkap karena diduga terlibat jaringan dan aksi terorisme.
Kepala BNPT Komisaris Jenderal Polisi (Komjen Pol) Suhardi Alius mengatakan ada pola khusus terhadap keterlibatan warga dalam jaringan teroris. Kebanyakan terduga teroris asal Sumbar melakukan aksi di luar, namun masih kerap pulang kampung.
Di hadapan para petinggi Sumbar seperti Gubernur Irwan Prayitno, Kapolda Irjen Fakhrizal dan Danrem 032 Wirabraja Brigjen Bakti Agus Fadjri, dalam acara Duta Damai Dunia Maya di Padang, Senin (7/8) malam, Suardi membeberkan sejumlah nama warga asal Sumbar yang tertangkap oleh pihak keamanan karena kasus teror dan radikalisme.
"Ada teroris namanya R, alias I, alias Z, alias AZ di Bukittinggi Pak. Kemudian ada lagi YS alias KH, itu di Padang Panjang. Ini teroris semua urusannya," ujarnya. Dia mencontohkan, teror di Masjid Falatehan depan Mabes Polri, juga berasal dari Sumbar.
Bahkan, menurutnya, meski dibanding daerah lain, jumlah terduga teroris asal Sumbar masih kecil, namun beberapa nama sudah bergabung dengan kelompok ISIS. Dua di antaranya adalah perempuan.
"Di antaranya ada yang masuk jaringan ISIS. H, A, S Pasaman Barat itu ISIS. Dua perempuan yang saya sebut tadi juga ISIS," tandasnya.
Selain itu, warga sumbar yang terindikasi menjadi anggota teroris terdapat yang ahli merakit bom. Hal ini, dikatakan Suardi, sangat berbahaya dan perlu diantisipasi agar tidak meluas dan menyebar kepada yang lain.
Suhardi menambahkan perkembangan teknologi informasi melalui internet menjadi salah satu media yang digunakan oleh kelompok teroris untuk merekrut anggota teroris. Ia pun mengimbau agar masyarakat khususnya kaum muda untuk berhati-hati menerima informasi di dunia maya.
Mantan Kabareskrim ini juga menghimbau masyarakat dan pemerintah daerah untuk lebih meningkatkan kewaspadaan. Apalagi ia memastikan tidak ada satupun provinsi dan kabupaten kota di Indonesia yang bersih dari ancaman terorisme.
"Memang secara kuantitatif tidak sebanyak daerah lain, namun harus kita kurangi. Itu tadi yang sudah kita tangkap, yang sedang kita pantau banyak juga," bilangnya.
Gubernur Sumbar Irwan Prayitno mengatakan Pemprov Sumbar terus mewaspadai gerakan dan penyebaran paham-paham radikal dan terorisme. Dia menegaskan, meski jumlahnya tidak sampai satu persen, namun Pemprov Sumbar dan Kepolian Daerah (Polda) tetap mewaspadai gerakan paham-paham radikal dan terosisme di Sumbar.
"Jumlahnya belasan dari jumlah 1.200 itu kan tidak sampai 1 persen dan kejadian tidak terjadi di Sumbar, namun harus tetap waspada," ujarnya. Menurut Irwan, pernyataan BNPT terkait tidak ada daerah yang bebas dari masuknya paham radikal dan terorisme menjadi masukan yang sangat berarti.
Menurutnya, bicara radikalisme, Minangkabau memiliki kultur atau budayaegaliter dan tidak fanatik, sehingga paham radikal sebetulnya sulit berkembang. "Kekerabatan tinggi, silaturahim tinggi, ada ninik mamak sehingga mudah sekali ketahuan. Jadi susah untuk menjadi aneh kalau masih berada di Sumbar," pungkasnya.(OL-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved