Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Tugas Parpol Perkuat Kemampuan Komunikasi Kader

Christian Dior Simbolon
07/8/2017 20:49
Tugas Parpol Perkuat Kemampuan Komunikasi Kader
(Ilustrasi)

PARTAI politik mesti serius memberikan pendidikan politik kepada para kader, khususnya terkait etika berbicara di depan publik. Pasalnya, tidak jarang pernyataan-pernyataan kontroversial dari politikus memicu kegaduhan di kalangan masyarakat.

"Kita tidak bisa melarang kebebasan berekpresi, tapi sebagai pejabat yang dipilih oleh rakyat, semestinya harus ada etika dan tanggung jawab moral yang dipegang ketika bicara di depan publik," ujar peneliti Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi) Lucius Karus saat dihubungi Media Indonesia di Jakarta, Senin (7/8).

Pernyataan Lucius menanggapi sejumlah politikus yang dilaporkan ke kepolisian. Seperti diberitakan, beberapa waktu lalu, Wakil Ketua Umum Gerindra Arief Poyuono dipolisikan karena menyebut PDI-Perjuangan identik dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Tak berselang lama, Ketua Fraksi Partai NasDem DPR RI Viktor Laiskodat juga dilaporkan ke polisi karena menyebut sejumlah parpol mengusung ide khilafah. Viktor juga dilaporkan kepada Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR oleh PKS karena diduga melanggar etika.

Menurut Lucius, hal itu menunjukkan buruknya penguasaan komunikasi politik yang dimiliki politikus. Selain itu, fungsi kaderisasi yang dijalankan parpol juga tidak efektif dalam meningkatkan kompetensi dan kualitas kader.

"Partai politik harus menjalankan fungsi kaderisasi tidak hanya terkait penambahan jumlah saja, tetapi yang paling utama tentu saja kualitas para kader. Jangan sampai karena kader bicara serampangan, partai politik harus menanggung ketidakpercayaan dari publik," ujarnya.

Diakui Lucius, saling serang antarlawan politik merupakan sesuatu yang lumrah di dunia politik. Perdebatan bahkan sampai menyerang hal-hal yang subyektif kerap terdengar di ruang-ruang politik.

"Akan tetapi tentu saja perdebatan atau saling serang antar politisi ini bisa kita terima jika isi perdebatan itu sesuatu yang konstruktif. Ada nilai yang kemudian bisa dipertanggungjawabkan dalam setiap pernyataan-pernyataan mereka. Sehingga serangan itu tak hanya akan melahirkan fitnah," tandasnya. (X-12)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Ahmad Punto
Berita Lainnya