Headline
Presiden mengecam keras tindakan keji yang menyebabkan gugurnya para prajurit TNI.
Presiden mengecam keras tindakan keji yang menyebabkan gugurnya para prajurit TNI.
Kumpulan Berita DPR RI
SEJAK Januari lalu, sindikat penyelundup 284,312 kilogram sabu yang ditangkap di Pluit, Jakarta Utara, pada Rabu (26/7) malam, sudah enam kali memasok narkoba ke Indonesia. Sabu disimpan di mesin pemoles sepatu untuk mengelabui petugas.
“Keterangan sementara dari para tersangka yang ditangkap menyebutkan mereka sudah enam kali memasukkan sabu ini ke Indonesia,” kata Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Budi Waseso, kemarin.
Total jumlah sabu selama ini yang diselundupkan sindikat Taiwan itu, Budi tak dapat menyebut pastinya. “Diperkirakan sama banyaknya dengan jumlah sabu yang ada sekarang ini,” kata Budi Waseso yang akrab disapa Buwas.
Buwas mengungkapkan modus penyimpanan tersebut tergolong baru. Terbongkarnya modus itu berawal dari informasi pihak kepolisian Tiongkok bahwa akan ada pengiriman sabu dalam skala besar melalui jalur laut satu bulan lalu.
Tim gabungan dari BNN, Direktorat Narkoba Mabes Polri, serta Direktorat Jenderal Bea dan Cukai kemudian menangkap tiga pelaku. Salah satunya warga negara Taiwan, Khe Huan Hong, 36, yang tewas ditembak petugas karena melawan saat ditangkap. Dua pelaku lain, Su, 40, dan HHD, 38, masih dalam pemeriksaan petugas.
Sabu tersebut dibungkus dengan aluminium foil dan dimasukkan ke delapan koli mesin pemoles sepatu. Agar tidak terdeteksi, pelaku juga memasukkan mesin itu ke peti kayu. “Dikirim dari Tiongkok melalui jalur laut ke Tanjung Priok. Itu dibungkus aluminium foil, biasanya yang sudah-sudah pakai bungkus teh,” jelas Buwas.
Direktur Tindak Pidana Narkoba Mabes Polri Brigjen Eko Daniyanto menjelaskan tadinya sabu itu akan dibawa ke sebuah ruko di daerah Tangerang untuk dikemas ulang. Setelah dikemas, sabu akan dijual ke beberapa kota besar di Indonesia.
“Rencananya disimpan di ruko itu dulu lalu dikemas ulang. Plastik yang digunakan itu kan sudah rusak, lalu barang (sabu) basah, packing lagi bagus, nilainya tinggi, sama mereka,” jelasnya.
Eko juga mengatakan sindikat Pluit ini tidak ada hubungannya dengan sindikat yang menyelun-dupkan 1 ton sabu yang terungkap di Serang, Banten, belum lama ini.
Sindikat Eropa
Saat ini tim gabungan dari Mabes Polri dan BNN juga tengah mengembangkan kasus penyelundupan narkoba dari Eropa dalam jumlah besar. Hal itu disampaikan Kapolri Jenderal Tito Karnavian saat menyampaikan pengungkapan kasus sabu 284,312 kilogram di Pluit.
“Pengungkapan sudah ada dalam jumlah cukup besar dari Eropa, tapi bukan jenis sabu, jenis yang lain. Tapi masih dikembangkan sedikit lagi. Satu atau dua hari akan kita sampaikan ke publik,” ujar Tito di Jakarta, Rabu (26/7) malam.
Kapolri enggan menjelaskan lebih rinci temuan narkotika jenis baru tersebut. Namun jumlahnya, kata Tito, sangat besar. “Yang Eropa saya belum mau sampaikan sekarang karena sedang dikembangkan dan jumlahnya cukup spektakuler.”
Sumber di kepolisian menyebutkan narkoba yang disita dari sindikat itu berupa ekstasi yang jumlahnya mencapai jutaan butir. Pengendali sindikat tersebut ialah narapidana di salah satu lembaga pemasyarakatan di Indonesia.
Tak hanya itu, sumber itu juga menyebut ekstasi tersebut sempat diproduksi di Indonesia. Polisi sampai saat ini masih mengejar otak sindikat internasional itu.
Sementara itu, pada Rabu (26/7) BNN Provinsi Bengkulu menggagalkan penyelundupan 1 kilogram sabu dari Tiongkok yang dipesan narapidana yang saat ini mendekam di LP Kelas I Benti-ring, Kota Bengkulu. Sabu tersebut masuk melalui pelabuhan tikus dengan menggunakan perahu nelayan di Aceh. (MY/Ant/X-10)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved