Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
KETUA MPR RI Zulkifli Hasan didapuk membuka seminar nasional bertajuk 'Islam dan Demokrasi' yang diselenggarakan Universitas Islam As-Syafi’iyah di Gedung Bukopin, kawasan MT Haryono, Jakarta, Selasa (25/7).
Berpidato di hadapan ratusan peserta seminar, Zulkifli menyinggung perihal implementasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Menurut Zulkifli, Pancasila sejatinya harus tercermin dalam perilaku seseorang. Sebagai dasar dan ideologi negara, Pancasila tidak boleh dieksploitasi menjadi alat kepentingan politik sesaat.
"Kalau yang bilang itu karena pilkada, itu ngarang. Pancasila itu perilaku, bukan soal dukung-mendukung pilkada. Pancasila jika dipakai jadi perilaku barulah bisa menjadi pemersatu kita," ujar Zulkifli.
Dengan nada bercanda, ia juga sempat menyinggung kampanye Presiden Joko Widodo mengenai Pancasila. "Kalau perilaku tepat, Pancasila bisa jadi pemersatu. Tapi, kalau dipakai alat, itu bisa memecah belah. Saya bukan Pancasila, saya Zulkifli Hasan, belum pernah ganti nama," ujar Zulkifli.
Seperti diberitakan, menjelang Hari Lahir Pancasila 1 Juni, Jokowi mengkampanyekan 'Saya Pancasila' melalui sebuah video yang diunggah di laman instagram pribadinya. Dalam video itu, Jokowi menyampaikan bahwa Pancasila selalu mengalir dalam aliran darah dan detak jantung kita.
"Pancasila itu jiwa dan raga kita. Ada aliran darah dan detak jantung kita, perekat keutuhan bangsa dan negara. Saya Jokowi, Saya Indonesia, Saya Pancasila, kalau kamu?" tulis Jokowi dalam video berdurasi 34 detik tersebut.
Lebih jauh, Zulkifli juga mengimbau semua pihak berhenti melakukan stigmatisasi menggunakan Pancasila. "Kalau mendukung ini disebut Pancasilais, kalau mendukung itu tidak Pancasilais. Ini tentu keliru. Kalau Islam yang baik, menjalankan agama yang baik, masa kamu dibilang radikal?" tuturnya.
Pada dasarnya, lanjut Zulkifli, Indonesia beragam karena terdiri dari berbagai suku, agama, dan ras. Sesuai dengan semangat Bhineka Tunggal Ika, seharusnya perbedaan itu tidak perlu diperdebatkan. "Enggak usah bahas perbedaan. Faktanya memang kita berbeda," tandasnya. (X-12)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved