Headline

Presiden mengecam keras tindakan keji yang menyebabkan gugurnya para prajurit TNI.

Pemahaman Keagamaan yang Salah Ganggu Toleransi dan Keberagaman

Nov/Ant/P-5
24/7/2017 08:14
Pemahaman Keagamaan yang Salah Ganggu Toleransi dan Keberagaman
(Diskusi Ngobrol Kebangsaan di Gedung Konvensi Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan, kemarin. Mereka menilai saling menghargai dan menerima perbedaan merupakan kunci untuk menjaga keutuhan dan kedaulatan NKRI. -- MI/Susanto)

STAF Khusus Menteri Sosial, Mas’ud Said, mengatakan ancaman bagi negara Indonesia bukan pada kudeta militer, melainkan runtuhnya sendi-sendi sosial. Salah satu penyebab runtuhnya sendi-sendi sosial ialah paham keagamaan yang salah.

“Yang paling bahaya ialah paham keagamaan yang salah. Boleh teriak Allahu Akbar, tetapi tidak boleh membawa batu,” ujarnya pada diskusi Ngobrol Kebangsaan Merayakan Toleransi dalam Keberagaman di Gedung Konvensi Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, kemarin.

Penyebab lainnya ialah lingkungan pendidikan atau lingkungan sosial yang salah, ketimpangan dan etnosentrisme, aktivitas intoleransi, serta patron atau organisasi yang salah. “Organisasi yang salah itu seperti yang baru dibubarkan beberapa hari lalu,” cetusnya.

Ia menambahkan, Indonesia harus mewaspadai aksi pihak eksternal yang ingin menghancurkan bangsa ini. Apalagi, Indonesia sangat beragam dari sisi budaya, agama, suku, dan ras.

“Saat ini 28% perang antarnegara, 84% sisanya adalah perang internal. Harus diwaspadai ada pihak eksternal yang ingin mengganggu negara ini. Indonesia memberikan kebebasan penduduk untuk memilih agama. Yang tidak boleh itu mengganti Pancasila,” paparnya.

Pengajar di King Fahd University, Arab Saudi, Prof Sumanto Al Qurtuby mengaku prihatin dengan situasi yang saat ini terjadi di Indonesia dengan merebaknya radikalisme dan intoleran.

Menurutnya, hal itu harus segera diselamatkan sebelum menjadi lebih buruk. “Berbagai kegiatan ini (diskusi kebangsaan) harus terus digalakkan. Orang-orang yang tadinya diam harus bersuara dan menyerukan untuk kebaikan bersama dan negara,” ujar dia.

Ia menyebut Indonesia sebagai rumah yang penghuninya bukan hanya penduduk beragama Islam, melainkan juga penduduk Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu.

“Indonesia ini kan rumah bersama, yang mendirikan juga tidak hanya muslim, tapi ada agama lainnya. Maka dari itu kita harus tanggung jawab bersama, dan juga menjaga bersama keutuhan NKRI. Dengan saling menghargai dan menerima perbedaan, kita semua akan hidup dalam ketenteraman. Nah, karena rumah bersama, jadi kalau ada yang ganggu, ya harus dibersihin. Kalau perlu, gebuknya pakai perppu,” tegasnya.

Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor Yaqut Cholil Qoumas mendorong pihak yang selama ini mencintai dan menghargai keberagaman agar berani bersuara.

“Ayo keluar, nanti kalau ada apa-apa, Banser siap hadapi,” cetus dia. (Nov/Ant/P-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya