Headline

Presiden sebut dampak perang nuklir lintas batas dan jangka panjang.

Waspadai Kepulangan Eks Milisi IS

12/7/2017 09:00
Waspadai Kepulangan Eks Milisi IS
()

MELEMAHNYA kekuatan Islamic State (IS) di Irak dan Suriah menjadi perhatian pemerintah Indonesia. Pemerintah pun akan terus mewaspadai pulangnya warga negara Indonesia yang ikut berperang bersama IS.

"Kita selalu waspada. Kewaspadaan yang total terhadap kemungkinan masuknya FTF (foreign terrorist fighter), termasuk masuknya para milisi pejuang IS yang berasal dari Indonesia dan kembali ke Indonesia," ujar Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto. Seperti diberitakan sebelumnya, pasukan Irak kembali merebut Kota Mosul dari tangan IS, beberapa hari lalu. Mosul merupakan salah satu basis utama pertahanan IS di Irak.

Sejumlah WNI bergabung dengan IS untuk ikut berperang melawan pasukan pemerintah Irak yang disokong militer Amerika Serikat.
Menurut Wiranto, dinamika yang terjadi di Timur Tengah khususnya yang terkait dengan IS selalu menjadi perhatian pemerintah.

"Bukan hanya jatuhnya Mosul. Bukan hanya tergencetnya kekuatan IS di Suriah. Kita selalu mewaspadai dan melakukan langkah-langkah agar mereka (eks milisi IS) tidak mengganggu stabilitas di Indonesia.

"Wiranto juga meminta masyarakat ikut aktif dalam mendeteksi keberadaan teroris. "Masyarakat yang tahu tetangganya mungkin ada sesuatu yang patut dicurigai, segera lapor. Ini semua harus kita galakkan," tambah dia.

Mantan Panglima TNI itu menilai pelibatan publik dalam sistem deteksi teroris ini akan efektif dalam mengurangi aksi-aksi radikal di dalam negeri. Oleh karena itu, Wiranto mengatakan perlunya melibatkan masyarakat dengan cara memberdayakan mereka untuk masuk ke jaringan early warning system. Selain menggandeng masyarakat umum, ada beberapa langkah lain yang dapat dicanangkan pemerintah sebagai upaya untuk menanggulangi penyebaran ideologi radikal.

Itu, di antaranya, dengan kembali menghidupkan ajaran-ajaran Pancasila serta penerapan kegiatan bela negara yang sedang dikaji Dewan Ketahanan Nasional (Wantannas).

Sebelumnya, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Suhardi Alius mengakui pendekatan kekerasan tidak efektif dalam menangani aksi terorisme. Oleh karena itu, BNPT lebih mengedepankan pendekatan lunak (soft approach) yang dinilai jauh lebih efektif karena mencapai akar masalah.

"Kami sentuh keluarga mereka (pelaku teror), seperti anak, istri, dan jaringannya. Mereka jangan dimarginalkan," kata mantan Kepala Bareskrim Mabes Polri itu.

Selain itu, BNPT menggencarkan deradikalisasi dan kontrapropaganda dengan melibatkan sejumlah ahli dari berbagai bidang guna mengimbangi dalil-dalil salah dan narasi yang dipropagandakan kelompok radikal. Deo/Ant/P-2



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Vicky
Berita Lainnya