Headline

Presiden sebut dampak perang nuklir lintas batas dan jangka panjang.

Cegah Intoleransi dan Radikalisme Lewat Sejarah

10/7/2017 06:35
Cegah Intoleransi dan Radikalisme Lewat Sejarah
(ANTARA/NOVA WAHYUDI)

MATERI-MATERI sejarah dapat dimanfaatkan untuk mencegah dan mengikis sikap intoleransi dan radikalisme di kalangan siswa.

Bahkan, jika diberikan dengan metode yang tepat, materi sejarah itu akan memperluas cara pandang siswa.

Hal itu diungkapkan mantan Ketua PP Muhammadiyah Buya Syafii Maarif di depan peserta Sarasehan Guru Sejarah bertajuk Guru Sejarah Pengawal NKRI, Menangkal Intoleransi, dan Radikalisme dari Ruang Kelas di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, Sabtu (9/7).

"Cukup efektif karena sejarah itu sumber informasi tentang manusia yang tidak akan pernah habis digali," kata Buya.

Menurut Buya, dengan berpijak pada sumber-sumber pengalaman bangsa dan kemanusiaanya, sejatinya materi-materi sejarah mampu mencerahkan kehidupan bangsa, termasuk menepis masuknya paham-paham radikal dan intoleransi.

"Meski demikian, materi itu bisa memiliki fungsi demikian hanya bila disampaikan oleh guru atau dosen dengan metode yang tepat," tutur Buya.

Buya juga menekankan bahwa sejarah itu baru mempunyai makna jika guru sejarah bisa menghayati persoalannya.

Selain itu, sejarah berfungsi mencerahkan kehidupan bangsa berdasar pengalaman sejarah bangsa atau kemanusiaan.

Untuk menangkal sebaran paham-paham radikal dan intoleran, Buya mengusulkan materi sejarah harus hidup, tak boleh kering.

Oleh karena itu, guru sejarah harus mempunyai wawasan luas dan minat bacanya harus tinggi.

Bagi Buya, sejarah itu bukan untuk orang mati. Namun, bagi mereka yang hidup yang dapat menggugah, menginspirasi, hingga memancing rasa ingin tahu terhadap peristiwa dan kemudian memetik pelajaran yang ada dari sejarah itu.

Pengajar sejarah Universitas Sanata Dharma Anton Haryono pun mengakui materi sejarah khususnya sejarah nasional efektif menumbuhkan semangat kebangsaan dan nasionalisme siswa.

"Materi itu memang muaranya bertujuan membangun semangat kebangsaan siswa."

Meski demikian, Anton berharap materi sejarah tidak sekadar disampaikan seperti pidato atau ceramah.

Materi sejarah harus disampaikan secara komunikatif dua arah dan mampu disesuaikan dengan konteks saat ini.

"Siswa cenderung apriori terhadap sejarah. Itu tergantung model pengajarannya." (AU/P-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Vicky
Berita Lainnya