Headline

RI tetap komitmen perjuangkan kemerdekaan Palestina.

Polri Wajib Monitor Ketat WNI dari Suriah

Golda Eksa
29/6/2017 08:30
Polri Wajib Monitor Ketat WNI dari Suriah
()

KEPOLISIAN Negara Republik Indonesia (Polri) diminta meningkatkan kewaspadaan, kepekaan, dan langkah antisipatif guna meminimalkan berulangnya serangan yang menyasar personel Korps Bhayangkara itu.

Teror berdarah di Markas Polda Sumatra Utara oleh dua WNI anggota Islamic State (IS) membuktikan teroris yang berkiblat ke kelompok militan itu masih mengancam.

Pendapat tersebut disampaikan secara terpisah oleh pengamat terorisme Al Chaidar dan Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane. Al Chaidar bahkan menyarankan Polri agar memperketat pengawasan dan memantau pergerakan sejumlah WNI di Tanah Air yang pernah bertolak ke Suriah, khususnya terhadap mereka yang terindikasi bergabung ke kelompok IS.

“Di Suriah itu ada dua kelompok, IS dan Jabhah Nusrah. Jadi, yang bergabung dengan IS itu yang perlu diwaspadai. Kalau Jabhah Nusrah, mustahil (melancarkan aksi teror) dan tidak perlu,” ujarnya ketika dihubungi Media Indonesia di Jakarta, kemarin.

Aksi teroris dengan pisau yang menewaskan Aiptu M Sigalingging saat sedang bertugas itu, tambah Chaidar, merupakan program yang telah lama direncanakan. “Prinsipnya serangan harus dilancarkan meski tanpa bawa bahan peledak,” ujarnya.

Hal senada diungkapkan Neta. Menurutnya, penyerangan terhadap polisi dengan pisau merupakan tantangan serius bagi Polri. Apalagi menjelang Hari Bhayangkara 2017, publik selalu berharap Polri senantiasa bersikap profesional, baik dalam melindungi masyarakat maupun diri sendiri.

Dibawa ke Jakarta
Tiga terduga teroris kasus penyerangan Polda Sumut, yakni Syawaludin Pakpahan, Firmansyah Putra Yudi, dan Boboy dibawa ke Jakarta. Ketiganya akan menjalani penahanan di Rumah Tahanan Mako Brimob Kelapa Dua Depok.

Analis Kebijakan Madya Bidang Penerangan Masyarakat Divisi umas Polri Kombes Sulistyo Pudjo menjelaskan penahanan dilakukan setelah tim Densus 88 Antiteror memeriksa ketiga terduga tersebut. Peristiwa penyerangan Polda Sumut terjadi di pos penjagaan pada Minggu (25/6) pukul 03.00 WIB. Akibat peristiwa itu, satu pelaku tewas dan satu lainnya sekarat ditembak anggota Brimob.

Di sisi lain, tim khusus yang dibentuk Polda Banten masih memburu pelaku penyebaran pesan teror. Ciri-ciri pelaku telah diketahui karena saat meletakkan pesan teror, pelaku terekam kamera CCTV.

Pelaku aksi teror memberi ancaman terhadap jajaran Polda Banten dan sejumlah tempat di Kota Serang, Banten, pada secarik kertas. Kertas berisi ancaman tersebut kemudian diletakkan pelaku di wiper kaca mobil patroli dan pengawalan (patwal) polisi di pos lalu lintas Alun-Alun Timur, Kota Serang.

Akibat ancaman tersebut, pos lalu lintas di Alun-Alun Timur, Kota Serang, diminta untuk dikosongkan. Tidak hanya itu, seluruh anggota kepolisian di Polda Banten dilengkapi dengan rompi antipeluru. “Saya minta semuanya tenang. Nanti kalau sudah tertangkap, pasti saya beri tahu,” ujar Kapolda Banten Brigjen Listyo Sigit Prabowo.

Pelaku pesan teror diduga berasal dari jaringan IS Marawi, Filipina. Warga Kota Serang diminta meningkatkan kewaspadaan dan mengawasi orang-orang yang dianggap mencurigakan. (WB/MTV/Ant/X-7)

[email protected]



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Vicky
Berita Lainnya