Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Natal Menghadirkan Kebahagiaan Berkelanjutan

Darmin Mbula, Ketua Umum Majelis Nasional Pendidikan Katolik (MNPK) dan Anggota Dewan Pendidikan Tinggi (DPT)
24/12/2025 15:00
Natal Menghadirkan Kebahagiaan Berkelanjutan
Darmin Mbula Ketua Umum Majelis Nasional Pendidikan Katolik (MNPK) dan Anggota Dewan Pendidikan Tinggi (DPT).(Dok. Pribadi)

UMAT Kristiani di seluruh dunia merayakan Natal pada 25 Desember 2025 sebagai momen sukacita dan refleksi iman. Perayaan ini menegaskan kedatangan Kristus sebagai simbol kasih, damai, dan harapan bagi seluruh umat manusia. Natal juga menjadi kesempatan bagi setiap orang untuk mempererat hubungan keluarga, menumbuhkan solidaritas sosial, dan merawat ciptaan secara bertanggung jawab.

Natal merupakan perayaan damai dan bahagia yang tidak berhenti pada suasana emosional sesaat, melainkan mengajak manusia membangun kedamaian yang berkelanjutan. Dalam konteks bencana ekologis di bumi Nusantara seperti kerusakan hutan, pencemaran laut, dan krisis iklim, pesan Natal mengingatkan bahwa damai sejati lahir dari relasi yang harmonis antara manusia dan alam. 

Sukacita Natal menjadi panggilan untuk merawat ciptaan, menolak keserakahan yang merusak lingkungan, serta menumbuhkan gaya hidup sederhana dan bertanggung jawab demi masa depan bersama. Dengan demikian Natal menghadirkan kebahagiaan berkelanjutan.

Di tengah bencana kemanusiaan seperti kemiskinan struktural, ketimpangan sosial, dan konflik akibat perebutan sumber daya, Natal menghadirkan harapan dan solidaritas. Damai Natal mendorong keberpihakan pada mereka yang paling terdampak, sekaligus meneguhkan nilai kemanusiaan yang adil dan bermartabat. 

Kebahagiaan Natal tidak bisa dilepaskan dari upaya nyata melawan korupsi dan praktik oligarki ekstraktif yang menghisap kehidupan rakyat dan merusak tatanan sosial. Dengan semangat kasih, Natal mengajak masyarakat membangun keadilan sosial sebagai fondasi kebahagiaan bersama.

Natal menjadi inspirasi untuk membangun peradaban cinta yang sehat dan bahagia secara berkelanjutan. Cinta yang diwujudkan bukan sekadar kata, melainkan tindakan etis yang menolak kekerasan, keserakahan, dan penindasan. Dalam konteks Nusantara, peradaban cinta berarti keberanian merawat bumi, membela kemanusiaan, serta membersihkan ruang publik dari korupsi dan dominasi oligarki.Dengan demikian, damai dan bahagia Natal menjelma sebagai kekuatan transformatif yang menuntun bangsa menuju kehidupan yang adil, lestari, dan penuh harapan.

Kebahagiaan berkelanjutan

Konsep esensial bahagia berkelanjutan (sustainable happiness) secara holistik memandang kebahagiaan sebagai kondisi hidup yang utuh dan seimbang, mencakup dimensi fisik, psikologis, sosial, spiritual, dan kultural. Kebahagiaan tidak dipahami sebagai kepuasan sesaat atau akumulasi materi, melainkan sebagai kualitas hidup yang bertumbuh dari makna, relasi yang sehat, dan rasa cukup. 

Pendekatan humanis menempatkan martabat manusia sebagai pusat, dimana kebahagiaan lahir dari penghormatan terhadap hak asasi, keadilan sosial, empati, serta partisipasi aktif dalam kehidupan bersama. Dengan demikian, kebahagiaan berkelanjutan selalu terkait dengan kesejahteraan orang lain, bukan dicapai secara individualistik atau eksklusif.

Secara ekologis, bahagia berkelanjutan mengakui keterikatan mendalam antara manusia dan alam sebagai satu kesatuan kehidupan. Kebahagiaan yang sejati tidak mungkin dibangun di atas perusakan lingkungan, eksploitasi sumber daya berlebihan, atau penderitaan generasi mendatang. 

Oleh karena itu, sustainable happiness menuntut gaya hidup yang bertanggung jawab, sederhana, dan berorientasi pada keberlanjutan ekosistem. Dalam kerangka ini, kebahagiaan menjadi tindakan etis: merawat bumi sebagai rumah bersama, membangun solidaritas lintas generasi, serta menciptakan masa depan yang adil, lestari, dan penuh harapan bagi seluruh makhluk hidup.

Kerendahan hati dan kesederhanaan

Menghadirkan gaya hidup bahagia berkelanjutan menjadi sangat penting di tengah bencana ekologis dan bencana kemanusiaan yang kian meluas. Kerusakan alam, krisis iklim, kemiskinan, dan ketidakadilan sosial ekologis banyak bersumber dari pola hidup yang berlebihan, eksploitatif, dan berorientasi pada keuntungan semata. 

Dalam situasi ini, kebahagiaan sejati tidak lagi relevan jika diukur dari akumulasi materi, melainkan dari kualitas relasi dengan sesama dan alam. Gaya hidup yang berkelanjutan menuntut kesadaran bahwa manusia adalah bagian dari ekosistem dan komunitas kemanusiaan, sehingga pilihan hidup sehari-hari harus mengarah pada pemulihan, bukan perusakan.

Humility (kerendahan hati) dan simplicity (kesederhanaan) menjadi sikap kunci untuk melawan ketamakan, kerakusan, dan korupsi yang merusak tatanan hidup bersama. Kerendahan hati menolong manusia menyadari batas dirinya, dan menghormati hak orang lain serta alam, sementara kesederhanaan membebaskan manusia dari dorongan konsumsi berlebihan yang memicu eksploitasi. Dengan kedua sikap ini, kebahagiaan berkelanjutan dapat tumbuh sebagai kebahagiaan yang etis, adil, dan solider. Kebahagiaan yang tidak dibangun di atas penderitaan orang lain atau kehancuran bumi, melainkan di atas cinta, keadilan, dan tanggung jawab bersama.

Kebahagiaan yang etis, adil dan solider

Natal menghadirkan kebahagiaan berkelanjutan yang bersumber dari nilai-nilai etis, keadilan, dan solidaritas. Kebahagiaan ini bukan sekadar perasaan sukacita sesaat, melainkan buah dari hidup yang dijalani dalam kasih, kejujuran, dan kepedulian. 

Dalam keluarga, Natal mengundang setiap anggota untuk menghadirkan Tuhan melalui relasi yang saling menghormati, mengampuni, memaafkan dan melayani. Ketika keluarga menjadi ruang kasih yang adil dan solider, tanpa kekerasan, egoisme, dan ketidakpedulian, di sanalah kebahagiaan sejati tumbuh dan Tuhan sungguh dihadirkan dalam kehidupan sehari-hari.

Lebih luas lagi, Natal memanggil manusia untuk merawat dan melestarikan bumi sebagai rumah bersama, bagian tak terpisahkan dari iman dan tanggung jawab moral. Kebahagiaan Natal menjadi tidak lengkap jika alam terus dirusak dan kehidupan bersama dikorbankan oleh keserakahan. 

Dengan semangat inkarnasi, Tuhan yang hadir dalam dunia nyata, Natal mendorong komitmen merawat bumi Nusantara agar menjadi 'langit dan bumi baru': ruang hidup yang adil, lestari, dan bermartabat, berkeadaban bagi semua makhluk. Dalam jalan inilah kebahagiaan Natal menjadi kekuatan pembaruan yang membawa harapan bagi keluarga, masyarakat, dan segenap ciptaan.

Salam damai Natal

Salam damai Natal adalah ungkapan harapan akan kehidupan yang sehat dan bahagia secara berkelanjutan, bukan hanya bagi individu, tetapi juga bagi keluarga, masyarakat, dan seluruh ciptaan. 

Damai Natal lahir dari hati yang dipenuhi kasih, keadilan, dan kepedulian, sehingga mampu menyembuhkan luka-luka relasi, menguatkan solidaritas, dan menumbuhkan rasa aman. Dalam suasana damai inilah kesehatan dipahami secara utuh: kesehatan fisik, batin, sosial, dan spiritual yang saling terkait dan saling menopang dalam kehidupan sehari-hari.

Lebih jauh, salam damai Natal mengandung panggilan untuk membangun kebahagiaan yang bertahan lama, bukan kebahagiaan semu yang lahir dari keserakahan atau kekerasan. Kebahagiaan berkelanjutan hanya mungkin terwujud ketika manusia hidup selaras dengan sesama dan alam, mengedepankan kesederhanaan, kejujuran, dan tanggung jawab. 

Dengan demikian, salam damai Natal menjadi komitmen bersama untuk merawat kehidupan, memperjuangkan keadilan, dan menjaga bumi sebagai rumah bersama, agar damai, sehat, dan bahagia dapat diwariskan dari generasi ke generasi.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya