Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
SEMANGAT untuk menghalau pengaruh perubahan iklim dan pencemaran lingkungan membawa dampak terhadap keinginan untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi berbasis fosil. Berbagai negara seperti berlomba untuk menciptakan invensi untuk menghasilkan teknologi proses yang paling efisien dalam mewujudkannya.
Biomassa tanaman, atau lebih umum dikenal sebagai limbah pertanian, menjadi pilihan utama bahan bakunya. Negara-negara pertanian seperti Amerika Serikat dan Brasil adalah contoh yang berhasil secara konsisten meciptakan dan menerapkan teknologi produksi komersial bahan bakar nabati (BBN) cair dari bahan baku ini.
Satu kunci utamanya ialah komitmen pemerintah yang tidak mudah berganti dengan pergantian kabinetnya. Jika ini terjadi, masyarakat yang tidak sabar kemudian berinvensi sendiri tanpa landasan ilmiah yang memadai seperti yang terjadi di negeri kita ini.
TEKNOLOGI BBN BERBASIS BIOMASSA TANAMAN
Biomassa adalah sumber daya alam terbarukan yang sangat tinggi potensinya sebagai bahan baku BBN dan produk-produk berbasis nabati, mengurangi emisi karbon (C), dan mendukung implementasi ekonomi sirkuler. Bahan ini membantu mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil melalui perannya dalam produksi bio-plastik, bahan kimia berbasis nabati, pelumas, dan polimer mudah terlapuk.
Saat ini dilaporkan bahwa energi berbasis nabati dari biomassa pertanian menyumbang 11% dari keseluruhan pasokan energi dunia. Kemampuan biomassa tumbuh berkelanjutan dalam waktu yang relatif singkat membuatnya sebagai bahan terbarukan untuk BBN dengan keberlanjutan tinggi jika dibandingkan dengan BBM berbasis fosil.
Bagaimanapun juga, konversi biomassa yang mengubah menjadi bahan pembawa energi, BB, bahan kimia, dan material baru membutuhkan proses yang kompleks melibatkan pendekatan biokimia, termokimia, dan kimia fisik. Proses secara biokimia seperti fermentasi dapat mengubah gula dalam biomassa menjadi bioetanol, sedangkan proses secara termokimia melibatkan pirolisis atau gasifikasi untuk menghasilkan biogas atau biodiesel.
Biomass to liquid fuels mulai diperkenalkan pada sekitar tahun 2010-an dan digolongkan ke BBN generasi kedua dengan tanaman non-pangan sebagai bahan baku. Generasi pertama ialah yang menggunakan tanaman pangan seperti kelapa sawit, tebu, dan jagung. Yang ketiga ialah yang menggunakan alga mikro, alga makro, dan bakterisiano sebagai mikroorganisma fotoautotrop sebagai bahan baku. Adapun yang keempat ialah yang melibatkan pengembangan organisme transgenik.
Kekuatan dari biomassa tanaman sebagai bahan baku energi cair ialah pada kandungan selulosanya. Sesama material yang mengandung C dan hidrogen (H) maka secara teoretis biomassa dapat dikonversi menjadi BB cair melalui proses yang tepat yakni fermentasi. Fermentasi akan mengubah senyawa-senyawa HC dalam selulosanya menjadi gula dan selanjutnya menjadi alkohol yang memiliki karakter sebagai BB yakni etanol (C-rangkap).
Perlu diingat bahwa proses fermentasi tidak dapat berjalan sendiri tanpa peran aktif dari mikroba perombak senyawa lignoselulosa yang ada di dalam biomassa tanaman. Kesesuaian jenis mikroba (umumnya bakteri dan fungi) yang memiliki kemampuan menghasilkan enzim perombak tersebut menjadi kunci efisiensi dari teknologi produksi BB berbasis biomassa. Enzim-enzim seperti silanase, selulase, lakkase, pectinasem dan alfa-amilase memegang peran krusial dalam dekomposisi sruktur lignoselulosa menjadi gula sederhana melalui hidrolisis berkatalis yang kemudian dapat diubah menjadi bio-etanol melalui fermentasi.
Dalam skala komersial, teknologi ini sudah terbukti layak seperti pada produksi minuman anggur (wines) dan bio-etanol. Amerika Serikat adalah produsen bio-etanol terbesar dunia dengan produksi nasional sekitar 17 juta ton, dan Brasil di peringkat kedua dengan sekitar 7 juta ton per tahun.
KETERSEDIAAN BAHAN BAKU
Dalam industri BBN berbasis biomassa secara umum dibutuhkan ketersediaan bahan baku yang memadai untuk mencapai tingkat efisiensi produksi, keekonomian yang layak, dan keberlanjutan usaha. Negara-negara berbasis pertanian seperti Indonesia memiliki cukup keragaman bahan tersebut mulai dari limbah pertanian, sampah organik, kotoran hewan, dan biomassa tanaman energi non-pangan.
Indonesia memang sudah disebut oleh Energy Institute Statistical Review of World Energy pada 2023 sebagai salah satu negara penghasil bahan bakar berbasis biomassa terbesar di dunia. Jika minyak kelapa sawit dalam teknologi BBN generasi pertama mampu menjadi tumpuan produksi biodiesel terbesar di dunia, meski masih menyimpan potensi konflik soal isu pangan vs energi, maka dalam teknologi BBN generasi kedua komoditas ini masih dapat menjadi tumpuan harapan dengan memanfaatkan produk sampingnya berupa tandan kosong kelapa sawit (TKKS).
Kadar selulosa jerami padi (35%) hanya setengah dari TKKS (70%). Dengan luasan sekitar 16 juta hektare dan produksi nasional sekitar 50 juta ton minyak kelapa sawit, industri ini menghasilkan tidak kurang dari 50 juta ton TKKS yang mengandung senyawa lignoselulosa sebagai bahan baku energi baik berupa BB cair (bio-ethanol dan/atau bio-oil) dan/atau padat (bio-char).
Selain itu, masih tersimpan bahan di dalam biomassa lainnya, baik berupa nira dan pati di dalam batang kelapa sawit sisa program peremajaan kelapa sawit, yang dimanfaatka sebagai bahan baku produksi etanol. Hasil invensi dari tim peneliti Balai Besar Industri Agro (BBIA) – Kementerian Perindustrian, dengan dukungan pendanaan dari Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), telah berhasil membangun pabrik skala pilot untuk fraksinasi TKKS menjadi BB cair salah satunya. Beberapa penelitian lain dari beberapa perguruan tinggi dengan dukungan pendanaan riset yang sama, juga telah mampu mengolah berbagai bahan di atas dari kelapa sawit untuk BB dan pembawa energi.
Untuk bahan baku lain selain tebu meskipun memiliki potensi seperti jerami, kotoran ternak, brangkasan jagung, dan sebagainya, menghadapi kendala yang akan menentukan kelayakan tekno-ekonominya dalam skala industri. Kendala utamanya ialah sumber biomassa jenis ini umumnya tersebar dan tergantung wilayah. Dalam beberapa kasus, produksi memerlukan infrastruktur logistik yang signifikan untuk pengumpulan sumber biomassa. Selain itu, beberapa pasokan biomassa tidak konsisten sehingga kontinuitas sumber untuk produksi masih dipertanyakan. Terkait kelayakan ekonomi, biaya pembuatan bahan bakar biomassa masih tergolong mahal jika dibandingkan dengan bahan bakar fosil.
Untuk itu, diperlukan upaya inovasi teknologi agar lebih efisien serta insentif dari pemerintah untuk menurunkan beban biaya yang ditanggung oleh produsen dan konsumen. Tentu saja dengan mengacu pada kebijakan program biodiesel dari minyak kelapa sawit, sudah selayaknya biaya produksi BBN cair dari biomassa juga disubsidi oleh pemerintah.
PELUANG DAN TANTANGAN
Data tahun 2023 menunjukkan bahwa Amerika Serikat (AS) memimpin produksi dengan 804 ribuan barel setara minyak per hari (TBOEs/hari). AS juga membuat etanol dari jagung dan menggunakan biofuel ini untuk menghasilkan listrik dan mencampurnya dengan bensin untuk keperluan transportasi. Posisi produsen biofuel terbesar kedua ditempati oleh Brasil yang mencatatkan 455 TBOEs/hari. Meskipun bukan produsen biofuel terbesar, Brasil memimpin dalam penggunaan biomassa. Mereka berkomitmen untuk menjadi pengguna etanol terbesar di dunia yang terbuat dari tebu.
Sementara itu, Indonesia menempati posisi ketiga dengan angka produksi sebesar 194 TBOEs/hari. Dengan demikian, potensi bioenergi Indonesia sebagai sumber energi masa depan tergolong sangatlah besar. Arah dan tren ke depan dari pemanfaatan biomassa mempertajam cakupan pembangunan berkelanjutan, transisi energi, dan transformasi bio-ekonomi secara lebih kompleks.
Kecenderungan yang luas ini merefleksikan sinergi berbagai kekuatan termasuk kemajuan teknik konversi, perbaikan kebijakan dan regulasi, fluktuasi dinamika pasar, serta transformasi nilai-nilai sosial budaya dan perspektif lingkungan. Dengan kata lain, peluang bagi BBN cair dari biomassa bagi Indonesia sangat prospektif dari aspek ketersediaan bahan baku dan potensi pasar penggunanya.
Selain itu, dampak dari pengembangan bio-energi, produk-produk berbasis nabati, dan bio-refineri menyumbang penurunan emisi C hingga 4%-6%, transisi ke ekonomi sirkuler, dan mendorong pembangunan perdesaan. Bio-energi mengubah biomassa melalui proses seperti pembakaran, gasifikasi, dan pencernaan aerobik/an-aerobik untuk menggantikan bahan bakar fosil tradisional dan menurunkan emisi gas rumah kaca serta risiko keamanan energi.
Analisis mutakhir yang dilakukan oleh the International Renewable Energy Agency (IRENA) menunjukkan bahwa peningkatan dua kali lipat dari proporsi bahan terbarukan dalam bauran energi global pada 2030 berpotensi menghasilkan penghematan US$ 4,2 triliun, sekitar 15 kali lebih besar daripada biaya yang diperlukan. Di sisi lain bio-refineri merupakan pelopor dalam hal konversi biomassa menjadi produk bernilai tambah tinggi, sekaligus meminimalkan limbah dan dampak negatif terhadap lingkungan.
Bagaimanapun juga, terlepas dari berbagai peluang tersebut, biomassa menyimpan berbagai tantangan. Tantangan ini perlu ditangani dengan sungguh-sungguh sehingga pemanfaatannya dapat mencapai potensi secara penuh. Hambatan-hambatan yang sangat mungkin dihadapi mencakup persaingan penggunaan lahan, ketersediaan sumber daya, dan aspek keberlanjutan, dan semuanya perlu perhitungan dan pertimbangan yang matang.
Yang jelas kasatmata tantangan utama untuk usaha secara komersial dari teknologi ini ialah masalah keberpencaran bahan baku, yang tentu saja akan menjadi bagian biaya produksi yang tidak murah jika menggunakan bahan baku seperti jerami dan/atau brangkasan jagung. Efisiensi konversi energi yang masih relatif rendah memerlukan dukungan teknologi yang lebih efisien dan layak secara ekonomi.
DUKUNGAN TEKNOLOGI DAN FAKTOR KEAMANAN
Tidak dapat dimungkiri bahwa keberlanjutan industri produksi bahan bakar berbasis biomassa untuk BB cair sangat ditentukan oleh efisiensi teknologi, termasuk penggunaan bahan baku yang ketersediaannya relatif terpusat di titik-titik tertentu, misalnya pabrik kelapa sawit untuk TKKS. Berbagai teknologi proses untuk mengonversi biomassa TKKS menjadi bio-etanol sudah dihasilkan di Indonesia, dan ini menyangkut aspek mutu dan efisiensi proses.
Bahan bakar adalah produk vital yang sangat diutamakan menyangkut keselamatan manusia. Bukan sebuah produk sederhana seperti sabun cuci ataupun semir sepatu. Oleh karena itu, mutu sangat diutamakan, tidak saja menyangkut keselamatan penggunanya, tetapi juga terkait dengan kesesuaian dengan kontruksi mesin kendaraan yang menggunakannya.
Karena itu, pengembangan teknologi produksi BB cair dari biomassa tidak boleh main-main, harus mengikuti tahapan riset dan pengembangan berbasis kaidah ilmiah yang tepat untuk mencapai target sasaran produk tersebut. Mutu BB ditentukan oleh pemerintah cq Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), dengan hasil uji mutu dari Lembaga Minyak dan Gas (Lemigas) antara lain menyangkut viskositas, daya bakar, emisi, titik didih, kadar air, dan research octane number (RON).
Sebagai energi strategis nasional, pengembangan, produksi, dan pemasaran BB diatur secara ketat oleh pemerintah dengan beberapa peraturan seperti Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi (UU Migas) dan didukung oleh Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2004 tentang Kegiatan Usaha Hilir Migas.
Di samping itu, ada Peraturan BPH Migas (Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi). Tidak semua orang boleh menjual BB kepada publik karena sudah ditentukan bahwa pihak yang berhak berdagang BBM di Indonesia ialah badan usaha atas izin pemerintah. Contoh tidak sederhananya pengembangan BB dapat dicermati dalam pengembangan biodiesel dari kelapa sawit mulai dari campuran B10 hingga B40.
Pengujian mutu dan dampak penggunaannya dilakukan secara bertahap, didasarkan pada kajian ilmiah serta uji lapang secara memadai. Bahkan, dalam uji awal B50 baru-baru ini, informasi dari Ditjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE)-Kementerian ESDM, bahwa uji awal B50 yang programnya akan dimulai segera oleh pemerintah belum menunjukkan hasil yang memuaskan. Dalam hal penggunaannya terbukti mengakibatkan daya kendaraan turun dan filter BB perlu lebih sering diganti. Hal itu akan memberatkan masyarakat. Tentu saja, ini harus kembali ke langkah kajian ilmiah yang terkait standar mutu B100 yang digunakan dalam campuran B50 dengan solar.
PENUTUP
Sebagai produk strategis nasional yang menyangkut aspek keselamatan manusia, sudah seharusnya pihak pemerintah yang kompeten dan badan usaha yang memiliki izin usaha BB bersikap tegas dalam setiap upaya pengembangan produk baru BB, khususnya yang dilakukan oleh warga masyarakat.
Laporan hasil uji (LHU) dari Lemigas (jika sudah ada) perlu dikomunikasikan ke publik agar tidak tercipta ruang untuk promosi yang tidak berlandaskan pada kaidah-kaidah sesuai aturan hukum. Dengan semangat mendorong kreativitas dan invensi para inventor mandiri (anggota masyarakat), maka langkah tersebut dapat bermanfaat untuk memberikan informasi bagi inventor dalam menyempurnakan invensi jika belum memenuhi standar mutu yang ditetapkan, dan menghindarkan publik dari sasaran promosi gencar di media sosial yang belum tentu kebenarannya.
Kementerian ESDM dan Pertamina perlu bersikap tegas tentang hal seperti itu sehingga tidak perlu campur tangan Presiden untuk menghentikan informasi yang perlu dicegah dampak negatifnya. Pihak-pihak tanpa izin resmi tidak boleh memperdagangkan BBM, dan jika melanggar dapat dikenai sanksi pidana sesuai Pasal 53 UU No 22 Tahun 2001 dengan konsekuensi hukuman penjara hingga 6 tahun dan/atau denda hingga Rp60 miliar.
Lembaga riset pemerintah seperti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dengan nakhoda barunya, juga harus lebih tanggap terhadap isu sejenis ini karena memiliki segudang ahli, yang tentu saja mampu meluruskan informasi tentang kemungkinan produksi BB cair berupa etanol dan diesel dari bahan baku selulosa secara teori dan praktik memang dapat dilakukan secara ilmiah maupun ekonomi. Apalagi, ada informasi bahwa fasilitas produksi BB cair dari jerami memerlukan dana investasi hingga Rp280 miliar. Tentu saja pelurusan informasi akan menyelamatkan para calon investor untuk tidak terjebak oleh promosi sensasional di media massa.
Semoga invensi yang gencar ditampilkan di media sosial akhir-akhir ini tidak mengulang sejarah seperti Banyu Geni di zaman Presiden SBY atau Nikuba di zaman Presiden Jokowi, kecuali mungkin memang ada upaya pengalihan perhatian publik terhadap kasus-kasus besar yang sedang jadi sorotan publik.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menurunkan tim Lemigas untuk menyelidiki keluhan motor brebet di Jawa Timur usai pengisian pertalite.
Pengujian laboratorium dilakukan terhadap parameter uji yang mengacu pada standar yang ditetapkan
Hasil uji laboratorium Lemigas menunjukkan bahwa seluruh sampel BBM yang diperiksa berada dalam rentang batasan mutu yang dipersyaratkan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved