Jumat 10 Maret 2023, 05:00 WIB

Wapres dan ‘Pohon Jati’ Indonesia

Ahmad Erani Yustika Kepala Sekretariat Wakil Presiden | Opini
Wapres dan ‘Pohon Jati’ Indonesia

MI/Seno

 

SAAT persiapan Pilpres 2019 dan pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) telah diumumkan, saat itu saya mengabdi sebagai Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi. Salah satu gugus tugasnya ialah memberi saran kepada presiden tentang aneka perkara ekonomi yang dihadapi negara.

Pada saat momen pilpres itu, saya (yang juga sebagai akademisi) diajak bertukar pikiran oleh salah satu cawapres. Peristiwa itulah yang membuat saya mengenal lebih dekat persona Prof Dr KH Ma’ruf Amin sebagai cawapres (mendampingi Joko Widodo). Singkat kisah, ia kemudian terpilih menjadi wapres. Lintasan sejarah tersebut yang juga kemudian membawa saya menjadi Kasetwapres (Kepala Sekretariat Wakil Presiden).


Sikap hidup

Hari-hari sebagai Kasetwapres ialah ‘sedekah kemewahan’ yang saya dapatkan begitu mendampingi nyaris seluruh kegiatan Wakil Presiden (Wapres) dari jarak (amat) dekat. Segera terpancar sekurangnya tiga sikap hidup yang saya dapatkan dari sosok KMA. Pertama, beliau menampakkan teladan utuh sebagai manusia pembelajar dan pendonor ilmu pengetahuan.

Begitu jeda kegiatan, hal pertama yang dikerjakan ialah membaca. Di perjalanan dengan memakai pesawat terbang, misalnya, jarang sekali waktu dipakai tidur, tetapi sebagian besar digunakan membaca majalah/koran. Hampir seluruh bahan pidato dikoreksi kata demi kata agar tidak ada logika/diksi yang meleset. Selebihnya, diskusi merupakan kegemaran yang tiada putus.

Pada momen itulah peragaan ilmu dan ingatan akan keluar satu per satu. Saya menjadi santri seutuhnya: mendengarkan dengan takzim dan takjub. Kedua, salah satu titik kritis sebagai Kasetwapres ialah mengelola jadwal yang banyak dan mesti menyesuaikan dengan urgensi acara. Namun, setelah dijalani hari demi hari, ternyata ia ialah figur yang mempercayai utuh mekanisme kerja yang disusun oleh kantor.

Seluruh jadwal yang dirancang selalu dilakoni dengan riang gembira. Jarang sekali ada pertanyaan tentang jadwal yang dibuat, seluruhnya dipenuhi dengan semangat menyala. Hal lainnya, jadwal yang telah didesain dijalankan dengan disiplin tinggi. Jika acara dimulai jam 9, pada jadwal itu beliau sudah tiba di tempat. Tidak jarang, ia tiba di acara lebih cepat dari jadwal yang telah disusun. Etos kerjanya sulit dilawan.

Ketiga, Wapres selalu meletakkan nilai moral melampaui dimensi material. Posisi wapres merupakan persilangan dari hilir mudik aneka kepentingan. Wapres mesti mengambil keputusan setiap saat sesuai mandat yang diberikan negara ataupun presiden. Pada saat menjalankan tugas atau mengambil sikap, argumen teknokrasi yang dilandasi oleh etika/moral menjadi pilihan yang tidak bisa diganggu.

Laba ekonomi/politik dikesampingkan demi menjaga maslahat bangsa dan warga negara. Ia juga selalu menyatakan, sebagai wapres tetap harus ikut garis arahan presiden. Kurang lebih, “Fungsi wapres sebagai penghubung, perekat, pelengkap, pendukung, dan penyempurna kerja presiden.” Keyakinan ini dijaga secara konsisten dari waktu ke waktu saat mengamalkan tugas.


Strategi kerja

Pengalaman hidup yang panjang dalam berbagai bidang telah membentuk pikiran dan karakter pribadi, baik dalam hal mengambil keputusan, mengorganisasi kesumberdayaan, maupun mengeksekusi pekerjaan. Keseluruhan paket itu kemudian menjelma menjadi strategi kerja. Wapres merupakan organisator yang ‘masak pohon’ sehingga selalu menyiapkan kerangka kerja secara rapi. Salah satu yang bisa dicuplik ialah strategi pengembangan ekonomi dan keuangan syariah (EKS). Pada level nasional telah dibentuk Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS), yakni Wapres sebagai Ketua Harian/Wakil Ketua.

Wapres melihat perkembangan EKS relatif bagus, tetapi merasa belum optimal dikerjakan. Salah satu titik lemah yang dilihatnya ialah kaki penggeraknya kurang banyak. Ia langsung menyokong gagasan (dan bergerak gesit) tentang perlunya dibentuk lembaga semacam itu pada setiap provinsi, yang kemudian diberi nama KDEKS (Komite Daerah Ekonomi dan Keuangan Syariah) agar percepatan pengembangan ekonomi dan keuangan syariah bisa dilipatgandakan.

Berikutnya, hal yang mudah terlihat dari efektivitas kerja Wapres ialah kemampuan membuat prioritas. Setiap pemimpin sering tergoda mengerjakan banyak hal. Padahal, sumber daya yang dimiliki terbatas. Pada titik inilah, keterampilan menyusun prioritas kerja menjadi keniscayaan. Salah satu gugus tugas yang menjadi mandat Wapres, misalnya reformasi birokrasi, terdapat rintangan berupa kompleksitasnya yang amat tinggi.

Selama ini, problem tersebut sukar diurai karena berdimensi luas dan dipenuhi ragam kepentingan. Wapres mempelajari bahwa hakikat dari reformasi birokrasi ialah pelayanan publik. Berdasarkan pemahaman mendasar ini, lalu dibuat prioritas program percepatan pembentukan mal pelayanan publik (MPP) di setiap kabupaten/kota. Hasilnya, sekarang telah terbentuk lebih dari 100 MPP di kabupaten/kota.

Di samping itu, Wapres mempertontonkan adegan tiap hari bahwa kemuliaan tertinggi bagi pejabat publik ialah fokus menjalankan pekerjaan, bukan mentransaksikan kepentingan. Setiap saat disibukkan mengurai persoalan, mengelola kesumberdayaan, dan memfasilitasi penyelesaian (perkara). Seluruh aktivitas dikerjakan secara senyap, tidak fokus sorotan publikasi, dan berorientasi kepada hasil.

Jabatan tinggi yang disandang, tidak membuatnya silau meraup keuntungan material maupun pengaruh lainnya demi hasrat pribadi (kekuasaan maupun kekayaan). Kekuasaan dikembalikan sesuai fitrahnya: pelayanan kepada warga. Kekuasaan juga selalu dibalut dengan dua lapis komitmen: kapasitas dan moralitas.  Singkatnya, sosoknya merupakan ‘pohon jati’ dalam jagat Indonesia. 


Mandat kerja

Sekurangnya, terdapat lima mandat yang secara intensif dikawal oleh Wapres (di luar tugas yang lain). Pertama, sejak lama Wapres risau terhadap soal ketimpangan dan kemiskinan di negeri ini.

Salah satu jalur, yang tidak pernah lupa dan letih ditekankan oleh Wapres adalah pemberdayaan. Bantuan/bantalan sosial memang dibutuhkan sebagai penopang primer kebutuhan hidup kaum miskin. Namun, fondasi utama yang mesti disangga ialah derajat kesanggupan manusia untuk bisa hidup secara mandiri dan bermartabat.

Terdapat korelasi antara tingkat pendidikan (pengetahuan dan keterampilan) dengan kemiskinan, juga soal tengkes (stunting). Pemberdayaan pengetahuan akan meninggikan kapasitas berpikir dan mengakses peluang usaha/berekonomi. Jadi, isu pokok dalam penanganan kemiskinan/tengkes tidak lain, ialah membuat lonjakan keberdayaan warga lewat strategi pemberdayaan yang layak.

Kedua, pusat pertempuran selanjutnya ialah perkara pelayanan publik. Jimmy Carter, salah satu Presiden AS yang amat dihormati, pernah membuat pernyataan bernas terkait pelayanan publik. “You cannot divorce religious belief and public service. I’ve never detected any conflict between God’s will and my political duty. If you violate one, you violate the other.”

Wapres sangat gigih soal penyediaan pelayanan publik. Baginya, MPP merupakan salah satu standar layanan yang wajib ditunaikan pemerintah  agar urusan warga bisa diperoleh dengan sederhana, cepat, dan murah. 

Wapres meng insafi penuh, bahwa setiap insan yang menceburkan diri ke dunia publik harus menempatkan pelayanan publik sebagai panggilan moral tertinggi. Ketiga, menopang pengembangan eko nomi dan keuangan syariah.

Sistem ekonomi nasional diperkaya dengan ragam pilihan model dan perkakas praktik ekonomi yang saling melengkapi sehingga tujuan keadilan dan kemakmuran bisa digapai. Wapres getol menginisiasi Kawasan Industri Halal (KIH) di beberapa provinsi sebagai tempat berbiaknya produk halal.

Di samping itu, juga dirintis modernisasi pengelolaan dan pemanfaatan dana sosial syariah, seperti wakaf dan zakat, agar menjadi lebih produktif bagi penguatan ekonomi rakyat. Perlu disampaikan, sejak dini wapres memberikan kata kunci pengembangan EKS bersifat inklusif, tidak didesain untuk diikuti oleh hanya kelompok (agama) tertentu. Pilar ini selalu disampaikan karena Republik terikat konsensus kebangsaan, yakni Pancasila.

Keempat, bangsa ini didirikan di atas aneka perbedaan, baik suku, agama, ras, dan antargolongan. Kebinekaan menjadi sumber kelekatan bangsa karena masing-masing akan saling mengisi dan menyangga. Wapres sebagai pemimpin umat memiliki kesadaraan teologis: hubbul wathan minal iman. Mencintai Tanah Air merupakan bagian dari iman. Pemeluk antarumat beragama mesti hidup berdampingan, rukun, dan saling menolong.

Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dipromosikan dan turut disangganya sebagai penopang keutuhan bangsa. Ia dalam banyak forum selalu menasbihkan pentingnya memahami dan mengamalkan Islam Wasatiyyah (tengah/moderat) sehingga yang wajib dijaga ialah praktik moderasi beragama.

Terakhir, percepatan pembangunan Papua. Wapres menghayati Papua sebagai mutiara Indonesia. Sebagai Ketua Pengarah BP3OKP (Badan Pengarah Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua) Wapres rutin menyelenggarakan rapat-rapat dengan para menteri/kepala lembaga/TNI/Polri/dan pemangku kepentingan lainnya untuk merancang pembangunan dan mempromosikan kesejahteraan.

Wapres beberapa kali ke Papua meluangkan waktu sampai 5 hari berkunjung ke beberapa wilayah. Ia begitu militan dan mencintai Papua sepenuh hati. Setiap terjadi tindak kekerasan di sana, hatinya ikut terluka. Pendekatan yang amat diyakininya ialah kemanusiaan dan kesejahteraan, bukan kekerasan.

Delapan dekade pengabdian Besok, 11 Maret wapres tepat berusia 80 tahun. Rasanya ia adalah wapres paling tua dalam sejarah Republik Indonesia. Setiap hari waktu diperas, fisik dikuras,  dan pikiran diringkas. Saya menjadi salah satu penyaksi atas kekuat an lahir dan batinnya dalam menjalankan amanah. Ia juga senantiasa menjadi sumber harapan bahwa hidup layak dimekarkan, persis seperti yang di nyatakan oleh Napoleon Bonaparte: a leader is a dealer in hope. Ia kerap mengucapkan secara eksplisit ataupun implisit, ketika nanti usai menunaikan tugas formal sebagai wapres, akan terus membaktikan jiwa dan raganya untuk umat. Hidupnya ialah pengabdian dan pelayanan, seperti yang dinukilkan dengan bagus oleh Andre Malraux: to command is to serve, nothing more and nothing less. Selamat ulang tahun, Prof Dr KH Ma’ruf Amin.

Semoga selalu dikaruniai kebugaran badan, kejernih an pikiran, dan kelurusan amalan. Pohon jati akan tetap tegak berdiri meski musim berganti.

Baca Juga

Ist

Dunia Kerja, MBKM, IKU, dan Implikasi Kurikulum 

👤Munzir Busniah, Dosen Fakultas Pertanian Universitas Andalas 🕔Selasa 21 Maret 2023, 10:49 WIB
MBKM adalah program yang bertujuan mendorong mahasiswa untuk menguasai berbagai keilmuan yang menjadi bekal memasuki dunia kerja sesuai...
Dok. CSIS

Mempertanyakan Subsidi Kendaraan Listrik

👤Deni Friawan Peneliti Departemen Ekonomi, Centre for Strategic and International Studies (CSIS) 🕔Selasa 21 Maret 2023, 05:15 WIB
PEMERINTAH baru saja mengumumkan pemberian subsidi pembelian kendaraan bermotor litrik berbasis baterai (KBLBB). Kebijakan itu bertujuan...
MI/Seno

Anomali Hukum Perppu Pemilu

👤Titi Anggraini Pembina Perludem dan pengajar pemilu Fakultas Hukum Universitas Indonesia 🕔Selasa 21 Maret 2023, 05:00 WIB
Akrobat hukum mencari pembenaran atas tidak adanya persetujuan Perppu Pemilu hanya membuat kita makin tampak bermain-main dengan konstitusi...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya