Kamis 06 Oktober 2022, 05:00 WIB

Memaknai HUT TNI di Tengah Krisis Geopolitik

Iis Gindarsah Koordinator Laboratorium Indonesia 2045 (Lab 45) | Opini
Memaknai HUT TNI di Tengah Krisis Geopolitik

MI/Seno
Ilustrasi MI

 

TENTARA Nasional Indonesia (TNI) memperingati hari lahir mereka setiap 5 Oktober. Cukup banyak peristiwa global yang mengiringi momentum bersejarah tersebut pada tahun ini. Sebut saja perang Rusia-Ukraina, ketegangan baru di Selat Taiwan dan Semenanjung Korea, serta pelaksanaan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G-20 pada November nanti.

 

Empat pelajaran utama

Dalam rangka memperingati hari jadi TNI yang ke-77, ada empat pelajaran utama dari perkembangan geopolitik kekinian. Pertama, konfrontasi bersenjata di Ukraina semakin memperberat upaya pemulihan ekonomi pascapandemi covid-19. Meski aman dari desingan peluru atau perlintasan rudal, bukan berarti Indonesia terbebas dari risiko konflik.

Perang Rusia-Ukraina yang sudah berlangsung lebih dari 200 hari justru mengakibatkan ‘stagflasi’, yaitu resesi ekonomi yang diikuti angka inflasi tinggi. Kenaikan harga minyak dunia merupakan persoalan teramat besar bagi negara-negara pengimpor minyak seperti Indonesia. Lonjakan harga komoditas energi telah memicu inflasi harga-harga kebutuhan pokok di dalam negeri.

Itulah sebabnya dalam upacara peringatan HUT TNI kemarin, Presiden Joko Widodo memerintahkan jajaran TNI agar bersinergi dengan kementerian/lembaga untuk menyukseskan berbagai agenda nasional. Melalui gelar operasi perbantuan dan pemberdayaan wilayah pertahanan, TNI dapat membantu penanggulangan krisis pangan dan energi, serta pengendalian inflasi di daerah.

Kedua, krisis di Eropa Timur turut memengaruhi stabilitas geopolitik di Asia-Pasifik. Dalam menyikapi penolakan Tiongkok terhadap sanksi internasional atas Rusia, negara-negara anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) malah berencana memperkuat kemitraan mereka dengan negara-negara di luar kawasan terutama Australia, Jepang, Korea Selatan, dan Selandia Baru. Keamanan regional bahkan bertambah dinamis pascakrisis baru-baru ini di Selat Taiwan.

Disrupsi rantai pasok global pun cenderung berlanjut akibat perang dagang dan teknologi antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Salah satu implikasi utama dari ketegangan di Selat Taiwan ialah terganggunya pasokan sirkuit elektronik semikonduktor (microchip). Padahal, sesuai dengan anjuran Badan Energi Internasional (IEA) tentang pengurangan penggunaan energi fosil, pemerintah Indonesia berencana telah menginstruksikan agar pimpinan TNI mulai mengonversi kendaraan dinas militer dari berbahan bakar menjadi berbasis listrik atau berdaya baterai.

Ketiga, rivalitas antara NATO dan Rusia di Ukraina menunjukkan adanya pola-pola baru dalam strategi pertempuran di masa depan. Komunitas pengkaji pertahanan dapat menyaksikan penggunaan metode perang hibrida (hybrid war) atau operasi 'zona abu-abu' (grey zone operation). Pendekatan strategis tersebut mengombinasikan embargo teknologi atau sanksi dagang dengan serangan siber dan sabotase pada infrastruktur energi, seperti yang baru-baru ini terjadi dalam insiden pada jaringan pipa gas Nord Stream 2.

Oleh sebab itu, para pemikir TNI tidak boleh lengah dalam menyikapi perkembangan teknologi militer dalam konflik antara Ukraina dan Rusia. Meskipun puluhan tank dan kendaraan tempur Rusia hancur di medan pertempuran, negara-negara NATO justru mengaktifkan kembali ratusan tank tempur utama (main battle tank) yang dinonaktifkan pasca-Perang Dingin. Bahkan, konfrontasi militer tersebut menjadi ajang uji coba generasi baru dari persenjataan strategis seperti pesawat tempur nirawak dan rudal hipersonik.

Keempat, berbeda dengan perdagangan komersial, pasar senjata internasional justru sedang mengalami tren peningkatan (bull market). S&P aerospace and defense industry index mencatat apresiasi harga saham sejumlah perusahaan manufaktur persenjataan hingga empat kali lipat pada periode 2012-2022. Industri pertahanan cenderung menjadi ‘surga penyelamat’ (safe heaven) bagi para investor global selama resesi ekonomi.

Secara umum, ada dua perkembangan dalam industri pertahanan. Tren pertama ialah lonjakan permintaan persenjataan sejak perang Rusia-Ukraina pecah di awal 2022. Amerika Serikat, misalnya, mengirimkan sepertiga stok rudal antitank mereka kepada Ukraina yang baru bisa diganti 3-4 tahun ke depan. Rusia juga akan sibuk mengganti dan menambah stok persenjataan mereka untuk mengantisipasi kemungkinan perang berlarut.

Tren kedua berupa pemurnian rantai pasok senjata. Negara-negara NATO tampak berupaya mengamankan suku cadang persenjataan mereka dari ancaman embargo kompetitor utama mereka, seperti yang dilakukan konsorsium pesawat tempur F-35 pada komponen-komponen asal Tiongkok. Bersamaan dengan itu, Amerika Serikat dan sekutu mereka menutup akses negara lawan terhadap teknologi, yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan sipil dan militer (dual-use), melalui pemberlakuan Undang-Undang Melawan Penentang Amerika Serikat melalui Sanksi (CAATSA).

Perkembangan strategis tersebut akan berimbas kepada negara-negara nonblok, termasuk Indonesia. Peningkatan pesanan senjata kepada industri pertahanan menyebabkan daya tawar negara pembeli dan negosiasi ofset akan melemah. Restriksi teknologi dual-use pun semakin memperkecil kemungkinan alih teknologi militer untuk substitusi impor.

 

Terobosan kebijakan

Oleh sebab itu, pemerintah Indonesia perlu mengadaptasi strategi pengembangan industri pertahanan nasional, sesuai dengan karakter pasar senjata kekinian, yang kini lebih berorientasi pada pembentukan aliansi strategis. Apalagi, Menteri Pertahanan Prabowo Subianto sudah menargetkan defend ID untuk menjadi 50 besar perusahaan manufaktur persenjataan dunia. Ambisi tersebut hanya dapat terwujud melalui terobosan-terobosan kebijakan untuk mengintegrasikan industri strategis di dalam negeri dengan rantai pasok senjata global.

Terakhir, konflik terkini di Eropa Timur menyediakan pelajaran berharga tentang ‘pertahanan semesta’ (total defence). Pengerahan kekuatan cadangan dan pendukung tak terelakkan, baik oleh Rusia maupun Ukraina, untuk menghindari kekalahan mereka dalam perang berlarut. Keniscayaan tersebut hendaknya menjadi pengingat bagi setiap prajurit TNI dan segenap bangsa Indonesia untuk semakin memperteguh semangat kejuangan berdasarkan nasionalisme, patriotisme, dan kesadaran bela negara seperti yang digelorakan para pejuang kemerdekaan. Dirgahayu TNI!

Baca Juga

dok.pribadi

Anwar Ibrahim, The Lion of Malays

👤Dr. Syahganda Nainggolan, Sabang Merauke Circle 🕔Senin 28 November 2022, 06:30 WIB
MENULIS tentang DSAI ini tidaklah mudah. Karena kita akan berbicara tentang perjuangan panjang seorang manusia yang gagah berani, hidup...
Dok. Pribadi

Membangun Komunikasi Damai

👤Dody Wibowo Direktur Advokasi dan Pemberdayaan Masyarakat Yayasan Sukma Dosen Magister Perdamaian dan Resolusi Konflik Universitas Gadjah Mada 🕔Senin 28 November 2022, 05:10 WIB
KOMUNIKASI merupakan elemen paling penting dalam relasi antarindividu. Beragam masalah berujung pada tindak kekerasan...
MI/Duta

Membangun Budaya Damai melalui Umpan Balik

👤Asrita Guru Sekolah Sukma Bangsa Bireuen 🕔Senin 28 November 2022, 05:05 WIB
SERING kali kita mendengar hasil pembelajaran siswa akan sangat baik jika guru mampu memberikan umpan balik terhadap peserta didik...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya