Sabtu 26 Maret 2022, 05:35 WIB

Revolusi 130 Hari Xavi

Suryopratomo Pemerhati Sepak Bola | Opini
Revolusi 130 Hari Xavi

MI/Ebet
Suryopratomo Pemerhati Sepak Bola

 

KETIKA 130 hari lalu kembali ke Barcelona, memang ada harapan besar yang dipikulkan ke pundak Xavi Hernandez. Salah satu legenda hidup Barca ini diharapkan mampu membangun kembali kebesaran klub besar Spanyol itu.

Namun, orang pun menyadari bahwa proses untuk meraih kembali kejayaan itu membutuhkan waktu. Xavi bukanlah tukang sulap yang bisa mengubah dalam sekejap. Apalagi, tingkat ‘kerusakan’ yang terjadi di Barca sudah tergolong kronis.

Di bawah kepemimpinan Josep Maria Bartomeu, Barcelona sempat mengalami salah kelola. Dugaan korupsi pun merebak. Ditambah aturan salary cap yang diterapkan Persatuan Sepak Bola Spanyol (RFEF) membuat Barca harus kehilangan ‘anak ajaibnya’, Lionel Messi.

Namun, sebagai orang yang dibesarkan Barcelona, Xavi tahu bagaimana menyelesaikan persoalan yang ada di klubnya. Ia pun segera bergegas untuk membenahi kelemahan yang ada, termasuk kesalahan yang pernah dilakukan pendahulunya, Ronald Koeman.

Xavi menjalankan apa yang menjadi rencana besarnya. Belajar dari apa yang dilakukan mantan pelatihnya, Josep Guardiola, dia pertama-tama menggariskan aturan di dalam tim. “Kalau aturan itu ada, semuanya akan mudah dilakukan. Namun, kalau itu tidak ada, semua akan menjadi chaos. Itu jelas!”

Setelah itu, Xavi menanamkan pentingnya kerja keras, nilai, respek, sikap, dan determinasi kepada seluruh pemain. Sebab, tanpa mengenal semua itu, tidak mungkin bisa dibangun sebuah tim yang kuat. “Apabila sudah bisa memahami pentingnya semua itu, baru kita bisa bicara mengenai pola permainan. Baru kita bisa memutuskan mau bermain seperti apa,” jelas Xavi.


Bermain dari sayap

Kekuatan yang membuat Barca selama ini begitu ditakuti ialah kemampuan untuk memanfaatkan lebar lapangan melalui operan pendek yang cepat dari kaki ke kaki, tiki-taka. Itulah yang membuat Xavi meminta Presiden Barcelona Joan Laporta mempertahankan penyerang asal Prancis, Ousmane Dembele, karena ia butuhkan untuk menjadi pemain sayap.

Ternyata seorang Dembele tidak cukup untuk membuat Barca bisa menggigit. Pada saat ada jendela transfer, Xavi meminjam Adama Traore Diarra dari Wolverhampton Wanderers. Ia pun beruntung memiliki pemain yang ditarik dari Manchester City, Ferran Torres.

Revolusi yang dilakukan Xavi semakin berjalan baik ketika ia melihat ada peluang untuk mendapatkan penyerang asal Gabon, Pierre-Emerick Aubameyang yang disia-siakan Arsenal. Dengan alasan Aubameyang tidak disiplin, pelatih Arsenal Mikel Arteta sering membangkucadangkan sang kapten kesebelasan.

Atas kesepakatan bersama, Arteta memperkenankan Aubameyang untuk pindah ke Barcelona. Di tangan Xavi, penyerang berusia 32 tahun itu mampu menunjukkan ketajamannya seperti ketika masih bermain untuk Borussia Dortmund.

Dalam 130 hari, Barcelona pun kembali menunjukkan kualitas mereka sebagai tim yang pantas disegani. Tidak tanggung-tanggung korban kebangkitan kembali Barca itu ialah musuh bebuyutan mereka, Real Madrid.

El Classico kedua di musim ini menjadi ajang pembuktian Barcelona. Setelah dipaksa menelan kekalahan pahit di Camp Nou, Minggu (20/3) lalu Barca membalas dengan mempermalukan Real Madrid 4-0 di Stadion Bernabeu.

Dembele dan Torres menjadi bintang yang memorak-perandakan Los Blancos. Torres membuat Dani Carvajal seperti bek kanan pemula, sementara Dembele membuat bek kiri Nacho tidak berdaya mengawal sektor pertahanan kiri Real Madrid.

Goyahnya pertahanan sayap tuan rumah membuat Aubameyang mendapat banyak peluang untuk mengempur gawang Real Madrid yang dikawal Thibaut Courtois. Tidak tanggung-tanggung, dua gol mampu dilesakkan penyerang kawakan itu.

Lepas dari kesalahan pelatih Carlo Ancelotti yang terlalu berani melakukan eksperimen, Barca tampil luar biasa untuk mengendalikan pertandingan. Tidak tanggung-tanggung, bek kanan Ronald Araujo bisa bebas keluar menyerang dan bahkan menyumbangkan satu gol kemenangan malam itu.

Wajar apabila Xavi begitu puas setelah pertandingan Minggu malam lalu. Ia tidak hanya mampu menghentikan tiga kali kekalahan Barca dalam El Classico, tetapi juga memastikan revolusi selama 130 hari yang ia lakukan sudah memberikan hasil.

 

10 pertandingan sisa

Xavi, seperti biasa, tidak mau sesumbar, apalagi larut dalam euforia. Meski di Stadion Bernabeu ia tidak bisa menutupi rasa ekstasinya, pelatih baru Barcelona itu merasa perjuangan untuk mencapai puncak masih jauh untuk dilalui.

“Keberhasilan untuk membangun kembali Barcelona tidak bisa diukur hanya oleh kemenangan atas Real Madrid. Kami baru bisa dikatakan sukses apabila mampu meraih kembali juara,” ujar Xavi.

Sepuluh pertandingan yang masih tersisa akan menjadi penentu sejauh mana revolusi yang dilakukan Xavi itu bisa dikatakan berhasil. Namun, dengan membawa kembali Barca ke posisi ketiga klasemen sementara, Xavi sudah memulai langkah awal yang besar.

Pertandingan pekan depan melawan Sevilla akan menjadi penentu, apakah Barca sudah bisa dikatakan menjadi ancaman besar lagi bagi Real Madrid. Kemenangan atas Sevilla tidak hanya akan membawa tim asuhan Xavi berada di posisi kedua, tetapi juga memperdekat mereka dengan sang musuh bebuyutan, Real Madrid.

Bagi Los Blancos dan Ancelotti, naiknya Blaugrana ke posisi kedua bisa menjadi mimpi buruk. Pengalaman 2014/2015 belum lepas dari benak Ancelotti. Gelar juara yang sepertinya sudah di tangan akhirnya lepas karena serangkaian kekalahan yang harus diterima Real Madrid di akhir kompetisi.

Meski masih unggul 12 poin dari Barcelona, sembilan pertandingan tersisa yang harus dimainkan Real Madrid jauh lebih berat jika dibandingkan dengan saingan berat mereka. Los Blancos masih harus bertemu dengan juara bertahan, Atletico Madrid, pada Mei mendatang.

Karim Benzema dan kawan-kawan tidak boleh lengah dan kecolongan di sisa pertandingan yang ada. Sekali saja mereka kecolongan akan mengoyahkan kepercayaan diri tim dan sebaliknya akan membuat Barca semakin bersemangat mengejar.

Xavi cenderung menjadikan musim sekarang ini sebagai modal untuk benar-benar bisa bangkit di musim mendatang. Ia sadar harus mulai memikirkan membangun sebuah tim yang baru karena empat pemain pilar sekarang, yakni Dani Alves, Gerard Pique, Jordi Alba, dan kapten kesebelasan Sergio Busquets, tahun depan akan berusia 39, 35, 34, dan 34 tahun.

Pelatih Barcelona itu sangat membutuhkan penyerang sayap sekelas Jadon Sancho dan Serge Gnabry karena kalau Wolverhampton tidak mau menurunkan tawaran dari 30 juta euro, ia akan kehilangan Adama. Sementara itu, perpanjangan kontrak untuk Dembele juga belum tuntas. “Masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan,” kata Xavi.

Baca Juga

Dok. Pribadi

Mencermati Proses Seleksi Bawaslu Provinsi

👤Neni Nur Hayati Direktur Democracy and Electoral Empowerment Partnership (DEEP) Indonesia, Wakil Ketua Nasyiatul Aisyiyah (NA), Tasikmalaya, Jawa Barat 🕔Selasa 17 Mei 2022, 23:00 WIB
SEJUMLAH 75 anggota dari 25 Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Provinsi, akan berakhir masa jabatannya pada September dan Oktober...
Dok pribadi

Budapest Treaty Jalan Menuju Referensi Dunia

👤Srining Widati, Perancang Ahli Madya-BRIN, Mahasiswa S3 Fakultas Hukum Unpad 🕔Selasa 17 Mei 2022, 21:45 WIB
SETELAH lebih dari 40 tahun sejak traktat ini bentuk, akhirnya Pemerintah Republik Indonesia bersikap untuk ikut...
Dok. Pribadi

Urgensi Solusi Urbanisasi

👤Nirwono Joga Pusat Studi Perkotaan 🕔Selasa 17 Mei 2022, 05:05 WIB
PUASA Ramadan dan perayaan Lebaran telah usai. Pemerintah sukses menyelenggarakan baik arus mudik maupun arus balik dengan relatif lancar...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya