Jumat 31 Desember 2021, 05:00 WIB

Proyeksi Kesehatan 2022

Ari Fahrial Syam Akademisi dan Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM | Opini
Proyeksi Kesehatan 2022

MI/Seno

 

SEPANJANG 2021 permasalahan kesehatan global dan di Indonesia telah didominasi permasalahan seputar pandemi covid-19. Awal 2021, kasus covid-19 di Indonesia sudah tembus angka psikologis 1 juta kasus. Hal yang kurang diprediksi pada saat kemunculan covid-19 di Indonesia.

Disaat angka kasus Indonesia sudah menyentuh 1 juta, angka kasus dunia sudah mencapai 100 juta, artinya bahwa Indonesia menyumbang 1% kasus covid-19 dunia. Pandemi yang diprediksi hanya berlangsung selama 1 tahun ternyata sampai hampir 2 tahun belum juga terlihat tanda-tanda berakhir.

Pemerintah berupaya melakukan tarik dan lepas rem dalam mengantisipasi lonjakan kasus. Namun, sayangnya istilah yang digunakan tidak konsisten. Di awal, masyarakat diperkenalkan dengan istilah pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dan diganti dengan istilah pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM). Tentu secara komunikasi massa, suguhan berbagai istilah yang dilempar ke masyarakat bisa membuat bingung dan sulit memahami. Mudah-mudahan istilah PPKM yang sudah populer saat ini tidak berubah-rubah di masa datang.

Vaksinansi covid-19, yang selalu disebut sebagai game changer, juga dimulai pada awal 2021, Presiden Joko Widodo menjadi orang pertama yang mendapat vaksinasi yang kebetulan menggunakan vaksin Sinovac buatan Tiongkok. Berjalan dengan pasti pemerintah terus mengupayakan untuk menghadirkan vaksin dengan berbagai merek untuk masyarakat Indonesia. Tentu saja melalui persetujuan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (Badan POM) Republik Indonesia.

Sampai menjelang akhir tahun sudah lebih 150 juta warga negara Indonesia yang mendapat vaksin pertama dan sudah lebih dari 100 juta penduduk Indonesia yang mendapat vaksin lengkap. Pada awal launching vaksin di Indonesia sasaran pertama ialah para tenaga kesehatan. Kendati ada masalah registrasi untuk tenaga kesehatan yang akan divaksin, tetapi dengan pengembangan platform Peduli Lindungi, masalah registrasi dan dokumentasi vaksin sudah semakin baik.

Prediksi awal bahwa infeksi dapat terkendali setelah gelombang pertama selesai, tidak terbukti. Yang terjadi malah peningkatan kembali dengan adanya penyebatan varian baru delta. Beredarnya varian delta ini menyebabkan Indonesia mengalami peningkatan jumlah kasus yang signifikan pada pertengahan 2021. Pada periode Juni-Juli 2021 peningkatan kasus Indonesia mencapai 1 juta dalam 1 bulan.

Padahal, penambahan 1 juta pertama selama 11 bulan penambahan kasus kedua berlangsung selama 5 bulan. Keberadaan varian delta membuat Indonesia mengalami gelombang kedua dan juga menyebabkan terjadinya kematian yang signifikan. Bahkan tenaga kesehatan khususnya dokter yang meninggal periode Juni-Juli 2021, mencapai 30% dari jumlah dokter yang meninggal selama hampir 2 tahun pandemi.

Bencana alam juga terus melanda Republik tercinta pada sepanjang 2021, terutama bencana banjir, gempa bumi dan bencana yang berkaitan dengan gunung berapi di Indonesia. Berbagai masalah kesehatan lain juga tetap ada selain permasalahan kesehatan seputar pandemi dan bencana alam sepanjang 2021.

 

Proyeksi kesehatan

Saya melihat secara umum permasalahan kesehatan Indonesia masih didominasi seputar pemasalahan seputar pandemi dan bencana alam. Kita banyak belajar dari bencana covid-19 ini bahwa ternyata memang ketahanan kesehatan sangat lemah. Permasalahan kesehatan yang muncul di 2022 juga dipengaruhi oleh berbagai faktor pendukung yang ada, misal keterbatasan big data, bahan baku obat, reagen dan alat kesehatan yang sebagian besar masih impor, kekurangan dokter di daerah karena distribusi dokter umum, spesialis dan subspesialis yang tidak merata.

Momok omicron juga melanda dunia di akhir 2021 akan menjadi permasalahan di 2022. WHO juga tidak mengangap remeh atas keberadaan omikron ini karena setelah melihat dampak penularan yang cepat di negara asal dan negara tetangga. WHO mengumumkan bahwa varian omikron yang pertama kali dilaporkan pada 24 November 2021 dari Afrika Selatan menjadi varian of corcern (VOC).

Memang wajar, kita memberikan perhatian penuh terhadap keberadaan varian omikron ini, karena hampir 1 bulan setelah pertama kali dilaporkan sudah 78 negara yang menyampaikan keberadaan omikron di negaranya melalui platform GISAID. Ini lebih cepat dari penyebaran Delta. Pada 2022, penyebaran varian omikron diprediksi akan semakin buruk, mengingat, kasus impor sudah meluas keseluruh dunia.

Bahkan di beberapa negara, omikron sudah mendominasi kasus baru di negaranya. Varian yang diawal saat ditemukan tampaknya dengan gejala ringan, ternyata beberapa negara maju misal Amerika, Inggris sudah melaporkan adanya kematian pada pasien yang menderita covid-19 karena varian omikron ini. Dengan melihat pengalaman pada gelombang kedua covid-19 di Indonesia pada Juni-Juli 2021, berbagai transformasi kesehatan harus dipercapat agar kita lebih siap dalam menghadapi dampak terburuk terjadinya gelombang ketiga di Indonesia.

 

Percepatan transformasi kesehatan

Obat dan alat kesehatan di Indonesia lebih dari 90% impor. Di awal pandemi ketika jumlah kasus covid-19 meningkat, kita dihadapi dengan berbagai permasalahan pengadaan alat kesehatan seperti alat pelindung diri, hand sanitizer, obat-obatan bahkan untuk obat seperti parasetamol saja bahan baku harus impor, reagen PCR dan sekuensing, pembuatan primer.

Selain kelangkaan barang habis pakai ini, kita juga mempunyai permasalahan seputar alat kesehatan untuk fasilitas di rumah sakit seperti oksimeter, ventilator, high flow nasal canulla (HFNC). Selama ini kita dininabobokan dengan barang-barang impor. Kita hanya menjadi penonton berbagai macam alat kesehatan berseliweran dari negara luar. Riset inovasi dalam beberapa tahun terakhir ini mulai dilakukan oleh institusi pendidikan kedokteran, sudah mulai direspons dengan baik oleh Kemenristek BRIN sebelum kementerian di bubarkan dan menjadi lembaga BRIN yang bertanggung jawab kepada Presiden.

Riset inovasi dengan melibatkan industri dari awal memang harus didukung dan tentu dengan pendanaan yang cukup besar dan multiyears agar produk riset inovasi ini bisa dihilirisasi. Vaksin merah putih harus terus didukung agar sesuai dengan peta jalan yang telah dibuat. Diharapkan vaksin merah putih sudah menjalani uji klinik pada pertengahan 2022 sehingga pada akhir 2022 masyarakat Indonesia bisa mendapatkan vaksin produksi dalam negeri.

Baca Juga

ANTARA

Dampak PMK bagi Manusia

👤Rondius Solfaine Dosen Peneliti Penyakit Hewan di Universitas Wijaya Kusuma Surabaya, mantan Peneliti di Laboratorium Virologi US Namru-2 Jakarta 🕔Jumat 27 Mei 2022, 05:10 WIB
SERANGAN penyakit mulut dan kuku (PMK) atau foot and mouth disease (FMD), saat ini sudah pasti menjadi ancaman...
MI/Seno

Menangkal Kembalinya Hantu Inflasi di Indonesia

👤Deni Friawan Peneliti Departemen Ekonomi, Centre for Strategic and International Studies (CSIS) 🕔Jumat 27 Mei 2022, 05:05 WIB
INFLASI kenaikan harga-harga barang dan jasa secara umum, yang tinggi pernah menjadi momok yang selalu menghantui perekonomian...
MI/Duta

Empat Kunci Peningkatan Kesejahteraan Manula

👤Rahmawati Madanih Dosen ilmu kesejahteraan sosial Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), kandidat PhD Universiti Sains Malaysia (USM) 🕔Jumat 27 Mei 2022, 05:00 WIB
TANGGAL 29 Mei ditetapkan sebagai Hari Lanjut Usia Nasional untuk meningkatkan kepedulian terhadap manusia usia lanjut...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya