Sabtu 24 Juli 2021, 05:00 WIB

Messi dan Dilema Barcelona

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group | Opini
Messi dan Dilema Barcelona

MI/Ebet
Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group

PESTA besar sepak bola berakhir sudah. Piala Eropa akhirnya direbut Gli Azzurri, Italia. Copa America diraih Argentina. Tuan rumah Inggris dan Brasil gagal membuat pesta besar, sama-sama tersandung di pertandingan puncak.

Brasil tidak pernah bisa berjaya di kandang sendiri. Mereka boleh lima kali menjadi juara dunia, tetapi tidak pernah berjaya di hadapan pendukungnya sendiri. Dua kali menjadi tuan rumah Piala Dunia, dua-duanya berakhir dengan patah hati.

Pada 1950, rakyat Brasil sangat berduka karena mimpinya untuk mengangkat Piala Dunia dibuyarkan oleh tetangganya, Uruguay. Saat kemudian dipercaya menjadi tuan rumah Piala Dunia 2014, lagi-lagi jogo bonita mengecewakan pecintanya setelah dipaksa menyerah Jerman 1-7 di semifinal.

Kedukaan kembali harus dialami di ajang Copa America 2021. Neymar sebenarnya hanya tinggal selangkah untuk membalas kekecewaan 2014 lalu. Meski harus berhadapan dengan sahabatnya, Lionel Messi, Tim Samba diunggulkan untuk menjadi juara.

Kesalahan elementer yang dilakukan bek kiri Renan Lodi dalam mengontrol bola membuat Angel Di Maria mendapatkan durian runtuh. Ia bisa bebas langsung berhadapan dengan kiper Ederson Moraes dan dengan cerdik melepaskan tendangan lob yang tidak mungkin bisa ditahan kiper Brasil itu.

Neymar pun kembali harus berduka, sementara Messi tersenyum lega. Setidaknya Messi bisa mematahkan ‘kutukan juara’ saat memakai kaus kebanggaan Argentina, La Albiceleste.


Masa depan

Messi tidak bisa dimungkiri merupakan salah satu pemain sepak bola terbesar yang pernah ada. Enam kali menjadi Pemain Terbaik Dunia dan belasan gelar yang dipersembahkan untuk Barcelona selama dua dekade. Itu membuat Messi tidak salah dijuluki Messiah.

Namun, sayang nasibnya dengan La Albiceleste tidak pernah berjalan mulus. Memang tidak semua pemain besar pernah mengangkat Piala Dunia. Michel Platini merupakan salah satunya. Johan Cruyff sosok yang lain. Ferenc Puskas juga sampai akhir hayatnya tidak pernah tercatat mengangkat piala tertinggi sepak bola.

Kegagalan demi kegagalan yang dialami sempat membuat Messi frustrasi dan patah arang. Ia sempat memutuskan untuk tidak pernah mau bermain lagi untuk Argentina setelah tersingkir di Piala Dunia 2018. Namun, Argentina tanpa Messi sama dengan Barcelona tanpa bintang sepak bola yang satu ini. Messi dibujuk untuk tetap mau membela La Albiceleste.

Keberhasilan untuk membawa Argentina memenangi Copa America membuat Messi tidak merasa sia-sia untuk membela tim nasionalnya. Ia pun tersenyum lega dan bersama rekan-rekan mudanya ia merayakan kemenangan di Stadion Maracana, Rio de Janeiro.

Setelah keberhasilan di Copa America, pemain berusia 34 tahun itu harus berpikir tentang nasib dirinya. Terutama masa depannya dengan Barcelona yang menjadi bagian dari perjalanan kariernya sejak usia 13 tahun.

Dua musim terakhir, Messi memang sempat ingin meninggalkan Barca karena persoalan dengan manajemen Barcelona yang ia anggap tidak peduli dengan prestasi tim. Korupsi yang terjadi di dalam manajemen Barcelona membuat Messi kecewa dan ingin meninggalkan klub itu.

Namun, manajemen Barcelona sangat sadar, tanpa Messi, tidak ada ikon yang bisa dijual. Bisnis Barcelona akan terpukul kalau sang kapten kesebelasan sampai keluar. Dengan segala cara, termasuk dengan menggunakan kekuatan ayahnya, manajemen Barcelona mati-matian tidak mau melepas Messi.

Presiden baru Barcelona, Joan Laporta, kini dibuat pusing. Pasalnya ada peraturan baru yang ditetapkan La Liga. Total gaji pemain yang bisa dikeluarkan setiap klub maksimal hanya boleh 70% dari pendapatan tahunan mereka.

Pada 2019, Barcelona menjadi klub pertama di dunia dengan pendapatan tahunan di atas US$1 miliar. Pendapatan mereka merosot tajam ketika pandemi covid-19 terjadi. Di musim lalu semua pertandingan tidak boleh dihadiri penonton. Musim ini pun mungkin kondisinya masih sama.

Laporte dibuat pusing kepala karena tiga perempat pendapatan Barcelona habis untuk membayar kontrak Messi. Biaya yang harus dibayarkan Barca untuk mempertahankan Messi selama empat musim mencapai US$675 juta.

Sebuah laporan surat kabar di Spanyol menyebutkan gaji yang diterima Messi di Barcelona memang fantastis. Setiap pekan pemain asal Argentina menerima gaji US$1,4 juta. Untuk mau Messi menandatangani kontrak, ia diberi bonus US$139 juta. Kemudian untuk kesetiaan terus bermain bagi Barcelona, Messi mendapatkan bonus tambahan US$93 juta.

 

Tidak bisa ditawar

Chief Executive La Liga Javier Tebas menegaskan peraturan pembatasan pengeluaran gaji dari setiap klub tidak akan diubah. Kebijakan itu diperlukan agar pertandingan bisa lebih kompetitif dan menarik karena tidak ada lagi klub yang bertaburan bintang.

Tebas tidak mau membuka ruang bagi Barcelona untuk melakukan negosiasi. “Krisis keuangan yang dihadapi Barcelona merupakan kesalahan mereka sendiri. Kalau Real Madrid bisa melakukan penyesuaian terhadap peraturan ini, seharusnya Barcelona pun bisa,” ujar Tebas.

Di samping mempertahankan Messi, untuk musim mendatang ini Barcelona sudah memutuskan untuk mendatangkan tiga pemain baru, yakni penyerang asal Argentina Sergio Aguero, pemain asal Belanda Memphis Depay, dan pemain belakang asal Spanyol, Eric Garcia. Padahal, dengan peraturan pembatasan gaji, Barca harus memotong anggaran sampai US$200 juta.

Karena itu, Barca terpaksa harus melepas beberapa pemain andalan. Tiga pemain yang pasti dilepas ialah kiper Marc Andre ter Stegen, gelandang Frenkie de Jong, dan pemain muda berbakat Pedri. Ini pilihan yang harus diambil untuk mempertahankan Messi.

Kebijakan salary cap kini diterapkan semua negara di Eropa. Inggris juga menerapkan aturan demi terciptanya kompetisi yang lebih seru. Bahkan UEFA pun mendukung kebijakan itu untuk membuat kompetisi antarklub Eropa bisa berlangsung lebih menarik.

Musim lalu Manchester City nyaris terkena hukuman karena melakukan rekayasa keuangan. Mereka memperbesar pendapatan yang berasal dari suntikan modal pemilik Syekh Mansour bin Zayed Al Nahyan dari Uni Emirat Arab. City nyaris dihukum dua musim tidak boleh ikut Liga Champions dan beruntung bisa selamat setelah melakukan arbitrase ke Court of Arbitration for Sport.

Namun, kasus di Inggris sendiri belum berakhir. Pengadilan Tinggi Inggris meminta Liga Primer untuk terus menyelidiki dugaan rekayasa keuangan yang melanggar prinsip fair play. Laporan majalah Der Spiegel membeberkan bagaimana pelanggaran aturan keuangan yang dilakukan City.

City berupaya agar penyelidikan terhadap klub mereka dihentikan karena tidak ada bukti yang meyakinkan. Namun, tiga hakim tinggi menilai argumen yang disampaikan pihak legal City 'penuh dengan fantasi' dan mempersilakan penyelidikan terhadap rekayasa keuangan City dilanjutkan.

Baca Juga

MI/Ebet

Udara Bersih

👤Adiyanto Wartawan Media Indonesia 🕔Minggu 19 September 2021, 05:00 WIB
Berdasarkan penelitian WHO pada 2017, polusi udara merupakan penyebab satu dari empat kematian anak-anak balita di seluruh...
MI/Duta

Covid-19 bukan hanya Virus Semata bagi Anak

👤Seto Mulyadi Ketua Umum LPA I, Dosen Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma 🕔Sabtu 18 September 2021, 05:05 WIB
WALNYA, tahun lalu, sempat ada anggapan bahwa anak-anak bukan merupakan kelompok yang berisiko terpapar virus...
Dok. Pribadi

Islam Indonesia untuk Peradaban Islam Dunia

👤Iksan K Sahri Antropolog pesantren, Pengurus Lakpesdam PWNU Jawa Timur, Direktur Lembaga Penelitian Sekolah Tinggi Agama Islam Al Fithrah, penulis buku Pesantren, Kiai, dan Kitab Kuning 🕔Sabtu 18 September 2021, 05:00 WIB
Tujuan puncaknya bukan lagi hanya untuk konteks keislaman, melainkan juga menjadi rahmat bagi semesta...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

AS, Inggris, dan Australia Umumkan Pakta Pertahanan Baru

 Aliansi baru dari tiga kekuatan tersebut tampaknya berusaha untuk melawan Tiongkok dan melawan kekuatan militernya di Indo-Pasifik.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya