Kamis 29 April 2021, 05:05 WIB

Kesalehan Profesional

Fathorrahman Ghufron Wakil Katib PWNU Yogyakarta dan pegiat di Center for Sharia Finance and Digital Economy (Shafi ec), Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta | Opini
Kesalehan Profesional

Dok. Pribadi

LAKONEH lakonah, kennengeh kennengah.”

Pepatah Madura di atas yang bermakna 'kerjakan apa yang menjadi pekerjaannya dan tempati apa yang menjadi tempatnya', memberikan pesan moral bagi kita: harus bersikap profesional dalam melaksanakan tugas dan menduduki jabatan.

Secara sosiologis, pepatah itu menguraikan dua kerangka metodologis dalam memahami sebuah kerja dan tempat yang perlu disikapi dengan baik, yaitu, pertama, konstruksi penanda yang berkaitan dengan tugas dan kepercayaan yang diberikan haruslah dikerjakan secara bertanggung jawab agar bisa memberikan manfaat bagi lingkungannya, baik secara kualitas dan kuantitas.

Kedua, konstruksi petanda, yang berkaitan dengan labelitas profesi yang melekat pada tempat dan jabatan yang diberikan agar diperlakukan sesuai dengan jalur yang diarahkan.

Dalam bahasa agama, kedua unsur penanda dan petanda mencerminkan nilai filosofis fi kulli ‘amalin makanun wa fi kulli makanin maqamun, yakni setiap pekerjaan memiliki tempat yang sesuai dengan kapabilitas dan kapasitas.

Dua nilai itu saling berjalin kelindan untuk menuju ke kesempurnaan kesalehan kita. Pertanyaannya, apakah kita telah memosisikan diri sebagai orang yang bisa melaksanakan tugas dan fungsi dengan baik dan tepat?

 

Tumpang-tindih

Banyak di antara kita yang tidak bisa memosisikan diri dengan baik ketika berhadapan dengan pekerjaan. Fenomena aktualisasi diri yang melampaui batas kewenangan yang ditegaskan dalam tugas dan fungsi telah menimbulkan kesemrawutan dan keteledoran yang justru merugikan banyak pihak. Sebagai contoh, banyak di antara kita manakala diamanati jabatan, yang seharusnya diekspresikan berdasarkan aturan main yang sudah ditegaskan dalam peraturan, justru dilampaui atas nama tindakan terobosan, yang terkadang diliputi nuansa kepentingan.

Indikasinya bisa dicermati pada beberapa kecenderungan yang marak terjadi di lingkungan kita seperti, pertama, tindakan merangkap segala jenis pekerjaan dan menguasai banyak tempat hanya karena iming-iming materi yang sangat menjanjikan.

Kedua, memosisikan diri sebagai pengamat yang di saat bersamaan sebenarnya identitas yang melekat pada dirinya ialah pelaksana tugas. Ketiga, menggeneralisasi perolehan pendapatan, antara satu tempat kerja dan tempat kerja lain, dan karena itu, bila sebuah tempat kerja tidak bisa menghadirkan pendapatan yang serupa dengan yang lain, harus dituntut sama. Padahal, bisa jadi sistem anggaran dan alokasi belanja yang dimiliki sebuah tempat kerja sangat berbeda dengan tempat kerja yang lain.

Berdasarkan beberapa indikasi di atas, banyak orang mengalami krisis dedikasi dan loyalitas terhadap pekerjaan yang sedang diamanati. Padahal, tugas yang diberikan kepada kita saat ini bisa jadi ialah sarana ekspresi diri untuk menunjukkan kepada khalayak bahwa kita bisa bertanggung jawab atas apa yang kita kerjakan dan tempati. Apabila kita bisa menunjukkan rekam jejak yang baik, bisa jadi dengan sendirinya kita akan memperoleh nilai tambah (barokah) dari apa-apa yang kita bayangkan, baik pendapatan materiel maupun imateriel.

Namun, anggapan kita sering kali menuntun pada sesuatu yang tidak sesuai dengan realitas kerja yang kita hadapi. Sementara itu, di saat bersamaan, kita selalu dihantui rasa gengsi (prestise) yang sebenarnya belum sepadan dengan prestasi yang harus dicapai. Dampaknya banyak pekerjaan yang seharusnya dikerjakan dengan profesional menjadi terbengkalai dan banyak jabatan yang seharusnya dikelola dengan proporsional menjadi telantar.

 

Momentum puasa Ramadan

Mencermati kondisi 'kerja' dan 'tempat' yang serbatumpang-tindih, kita perlu membangun sebuah tradisi baru, yang lebih memberikan kemaslahatan. Puasa Ramadan mengajarkan sebuah penghargaan diri secara profesional dalam memperlakukan 'kerja' dan 'tempat' dengan semangat pengabdian.

Di samping itu, penyikapan 'kerja' dan 'tempat' secara profesional perlu dibangun berdasarkan roh spiritualitas agar apa yang kita lakukan berkelindan dengan nilai-nilai keimanan (imanan) dan ketulusan dan kehati-hatian (ihtisaban), sebagaimana yang termuat dalam grand norm puasa Ramadan: barang siapa yang berpuasa pada Ramadan dengan penuh keimanan (imanan) dan ketulusan (ihtisaban) maka akan diampuni segala dosa-dosanya.

Dua nilai luhur dalam grand norm di atas menjadi saka guru kesalehan dalam kehidupan kita. Dalam hal ini, kesalehan tidak sekadar menjadi simbol ketaatan seseorang untuk menunjukkan komitmen dan ketulusan dalam menjalankan praktik peribadatan baik yang bersifat ritual-religius (hablun minallah) maupun kesalehan sosial yang berhubungan erat dengan tindakan-tindakan kedermawanan dan kebersahajaan kepada manusia. Akan tetapi, kesalehan profesional dapat menjadi jalan ketiga sebagai asas utama dalam mengimplementasikan segala bentuk tugas untuk menyelesaikan pekerjaan dengan baik, mulai proses hingga hasil yang diperoleh.

Secara epistemologis, kesalehan profesional mencerminkan sebuah ekspresi ketaatan yang memiliki esensialitas, antara pekerjaan dan religiositas. Satu sisi kesalehan merupakan kapasitas yang berbasis kepada nilai-nilai keberagamaan dan pada saat bersamaan profesional merupakan kapabilitas yang berbasis kepada nilai-nilai pengetahuan.

Dengan kata lain, meminjam pandangan Max Weber, kesalehan profesional harus bisa mengombinasi nilai-nilai keagamaan untuk meningkatkan spirit kapitalisme yang salah satu cirinya ialah nilai-nilai profesionalisme.

Oleh karena itu, sudah semestinya kita memperlakukan pekerjaan yang ditugaskan dan jabatan yang ditempati sebagai sarana pembuktian diri bahwa prestasi utama yang harus digapai ialah kemaslahatan bersama agar Indonesia menjadi negara yang bisa berkarya nyata.

Semoga puasa Ramadan kali ini menjadi medan pendidikan dan latihan (tarbiyah wa tajribiyah) yang bisa membentuk kesalehan profesional yang bisa bermanfaat bagi kita, negara, dan bangsa.

Baca Juga

Dok pribadi

Pajak Sembako dan Kegagalan Program Stunting

👤Muhammad Nalar Al Khair, Peneliti SIGMAPHI, Staf Ahli PKP Berdikari Bidang Ekonomi dan UMKM 🕔Selasa 22 Juni 2021, 21:20 WIB
Penurunan rasio penerimaan perpajakan tersebut menjadi dasar bagi Pemerintah untuk meningkatkan tarif pajak untuk menambah penerimaan pajak...
Dok. MI

Otsus Papua, Mau ke Mana?

👤Ketua Tim Papua dan Wakil Ketua Komnas HAM Amiruddin al-Rahab 🕔Selasa 22 Juni 2021, 05:20 WIB
STATUS otonomi khusus bagi Papua telah berjalan 20...
Dok. MI

Biopolitik dan Ihwal Identitas

👤Asep Salahudin Rektor IAILM Suryalaya Tasikmalaya dan Ketua Lakpesdam PWNU Jawa Barat 🕔Selasa 22 Juni 2021, 05:00 WIB
TENTU saja berbeda antara identitas politik (political identity) dengan politik identitas (political of...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Kereta Api Makassar-Parepare Membangun Ekonomi dan Peradaban

Belanda pernah membuat jalur kereta api Makassar-Takalar, namun sejak Jepang berkuasa jalur itu dibongkar. Dan baru era sekarang, Sulawesi Selatan kembali memiliki jalur  kereta api

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya