Sabtu 09 Januari 2021, 05:00 WIB

Demokrasi dan Korupsi di AS Melalui Agenda Kepalsuan

Suzie S Sudarman Ketua Pusat Kajian Wilayah Amerika Universitas Indonesia | Opini
Demokrasi dan Korupsi di AS Melalui Agenda Kepalsuan

Dok.Pribadi

PARA pendiri bangsa Amerika Serikat, sebelum diundangkannya Konstitusi Amerika Serikat 1787, dan untuk mendorong ratifi kasi, melakukan diskusi yang diabadikan dalam 85 artikel dan essai hasil tulisan Alexander Hamilton, James Madison, dan John Jay dengan nama samaran Publius. Kumpulan tulisan diberi judul The Federalist Papers, yang berdebat adalah kelompok federalis melawan kelompok antifederalis, penentang konstitusi, karena khawatir posisi presiden bisa berevolusi menjadi monarki atau muncul faksi demagog

Dalam essai yang dikenal sebagai Federalist No 10 dalam The Federalist Papers, tersirat rasa khawatir akan dominasi faksi tertentu. Keinginan untuk melakukan tambahan checks and balances dikhawatirkan langkah yang bersifat nasional akan menjadi sulit.

Hal ini, kemudian dibahas dalam Federalist No. 51. Akhirnya konstitusi diratifi kasi dan pandangan kelompok antifederalis mendorong disertakan United States Bill of Rights. Sepuluh unsur Bill of Rights itu, adalah sebuah konsesi dan menjadi bagian amendemen Konstitusi A.S.

 

Perang terhadap realitas

 

Pemilihan umum AS pada 2016, memenangkan seorang kandidat yang tidak lazim. Karena, hanya seorang yang bergerak di bidang bisnis dan juga seorang selebriti di tayangan reality show The Apprentice. Namun, terwujudlah konvergensi antara sistem kapitalis dengan teknologi komunikasi, dan elite mampu mempertahankan dominasi
dengan cara mencegah kalangan lain untuk mengangkat permasalahan dan meniadakan kesempatan untuk memprotesnya.

Sejak awal, daya tarik masyarakat terhadap aktor-aktor yang menayangkan dirinya di media telah membuat demokrasi Amerika Serikat semakin tidak bisa menghindarkan kerusakan yang akan melukai bangsanya. Di saat ini, mereka merasa tidak berbahagia dan rasa bangganya terhadap AS turun drastis.

Pidato-pidato Presiden Trump bisa dimaknai sebagai melancarkan perang terhadap realitas. The New York Times mengabarkan bahwa sejarah AS tidak pernah mengalami disorientasi seperti yang terjadi di masa Presiden Trump. Tujuan Donald J Trump semenjak sebelum menjabat Presiden, bukan saja hanya untuk berbohong. Namun, sekaligus juga memusnahkan perbedaan antara kebenaran dan kepalsuan. Sehingga, publik tidak lagi merasa memiliki pandangan yang serupa, ia dengan sengaja membentuk pandangan publik dengan misinformasi dan disinformasi.

Ditegaskan Peter Wehner dari The New York Times, bahwa Trump sedang mendorong terciptanya kondisi vertigo epistemi (epistemological vertigo=mengacaukan pandangan publik) secara massal (Wehner, 2020).

Sesungguhnya yang ingin diwujudkan Presiden Trump adalah sebuah narasi palsu. Staf presiden dan dan para pemaaf di media sayap kanan, membantu mendistorsi fakta untuk memberikan gambar yang berbeda dari kenyataan. Mereka menggambarkan kalangan yang protes sebagai perusuh dan Presiden Trump sebagai orang religius yang memulihkan
kete r t i b a n dan menci p t a k a n perdamaian.

Klaim Presiden Trump mirip dengan klaim George Orwell, ia terus-menerus berbohong, kepada Media, FBI, komunitas intelijen. Yang dikatakannya ialah jangan percaya apa yang dilihat dan didengar karena carilah fakta sesungguhnya dari Presiden Trump. Ikuti Presiden Trump karena apa yang diberitakan itu palsu (fake news).

P e r kembangan ini bisa diinterpretasikan sebagai langkah otoritarian untuk mengonstruksikan keseluruhan realitas palsu. Sudah bertahun tahun Presiden Trump memberi tahu publik, agar jangan percaya pada media, komunitas intelijen, penegak hukum, para hakim, tenaga kesehatan, legislator, wali kota dan gubernur.

Jika seorang otoritarian menciptakan realitasnya sendiri, mereka sesungguhnya sedang menghentikan intrusi realitas. Presiden Trump secara perlahan mendorong agar realitas itu berada jauh di luar pagar Gedung Putih dengan jalan terus berbohong dan meminta pendukungnya agar hanya melihat Amerika seperti apa yang telah dikonstruksinya.

Dia terus menggambarkan konspirasi deep stateatau rezim/administrasi sebelum Trump sebagai kalangan yang membuat Amerika kini kurang sejahtera. Ideologi nasionalisme ekonomi itu menjadi gerakan ideologis dan berkembang di kalangan komunitas online. Lahirlah kemudian Trump extremists.

Kondisi ini seperti membalikkan pandangan Marxist bahwa pertarungan kelas (class warfare) akan menghancurkan kelas kapitalis, ternyata terbukti di era Presiden Trump berkat
ekologi menyatunya difusi informasi dan teknologi komunikasi elite, mampu menciptakan agenda untuk mempertahankan dominasi melalui pembingkaian budaya superstruktur.

 

Negara yang berubah


Pada akhirnya, semakin banyak yang sadar bahwa Presiden Trump itu seorang penjahat (crook). Trump selalu menentang aturan hukum sejak tahun 1970-an, soal perilaku rasisnya, pencucian uang, soal penyalahgunaan pajak, yang akhirnya mewariskan hal yang sangat buruk dari Trumpism kepada budaya politik Amerika. Trump mewariskan pandangan bahwa
hukum itu sebagai kategori moral yang kosong. Hukum adalah senjata bagi kalangan berkuasa untuk melawan musuh-musuhnya. Bahwa kalangan yang dilawannya itu, pasti criminal (The other side is where there are crimes).

Melalui realitas palsu yang diciptakannya, Trump merubah kelaziman liberal internasionalisme di bidang perdagangan. Presiden Biden nantinya akan mengubah aturan perdagangan menjadi lebih akrab dengan kelas menengah Amerika. Amerika Serikat akan menghadapi kompetisi strategis jangka panjang dengan Rusia dan China, juga soal nonproliferasi yang berkenaan dengan Korea dan Iran.

Biden akan mengawali pemerintahannya dengan menciptakan tema-tema kunci, yang secara simbolis akan mencerminkan tema-tema tersebut, memperbaiki kerusakan institusional di departemen, dan kantor-kantor keamanan nasional, serta menyelesaikan hal-hal yang diabaikan administrasi Trump, seperti isu diplomasi, politik, dan organisasi, juga soal perubahan iklim.

 

Baca Juga

Dok.Pribadi

Guru Honorer dan Hukum Rimba Pendidikan

👤Khairil Azhar Divisi Pelatihan Yayasan Sukma, Alumnus Program Pendidikan Guru di Tampere University, Finlandia 🕔Sabtu 23 Januari 2021, 00:20 WIB
WEBINAR pendidikan yang difasilitasi oleh Denpasar 12 bertajuk Polemik Guru Honorer dan Tata Kelola Pendidikan...
Dok./alif.id

Titik Balik Pendidikan Vokasi Indonesia

👤Budy Sugandi Kandidat PhD Jurusan Education Leadership and Management, Southwest University China & Excellent International Student, SWU China 2019-2020 🕔Sabtu 23 Januari 2021, 00:15 WIB
MENGHADIRKAN pendidikan vokasi yang mapan memang tidak semudah membalikkan telapak...
Ilustrasi Bencana Alam

Bencana, Teologi Kemaslahatan, dan Kemanusiaan

👤Har Yansen Teolog Kontekstual STFK Ledalero-Maumere 🕔Jumat 22 Januari 2021, 00:50 WIB
SEPERTI 'Editorial' Media Indonesia (11/1), Indonesia menghadapi duka kemanusiaan. Sejumlah kabar duka dan bencana alam terjadi di...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya