Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Sindrom Karantina dan Perlindungan Warga

T Satrio Nugroho Diplomat, Ketua Satgas Penanganan Covid-19 KBRI di Washington, D
26/8/2020 02:15
Sindrom Karantina dan Perlindungan Warga
(Dok.MI/Seno)

PANDEMI covid-19 telah mengubah dunia. Globalisasi dengan karakteristik; mobilitas tinggi barang dan manusia, pentingnya peran aktor nonnegara, dan keramahtamahan melalui industri pariwisata; dalam waktu singkat diguncang dengan kewajiban menjaga jarak.

Aktivitas manusia, seperti sekolah, bekerja, dan aktivitas sosial lainnya terbatas di rumah. Masyarakat mengalami sindrom karantina dengan ciri, antara lain orientasi mengamankan diri sendiri, kecurigaan terhadap orang di luar keluarga, dan menurunnya peran aktor nonnegara.

Sejarah mencatat dua pandemi dengan skala yang lebih besar, tetapi manusia berhasil mengatasinya dalam wujud munculnya peradaban baru. Kematian Hitam (1347-1353) dengan total kematian berkisar antara 17 juta-28 juta jiwa, dan flu Spanyol (1918-1920) dengan total sekitar 50 juta korban; merupakan periode yang mencekam bagi dunia.

Namun demikian, umat manusia berhasil mengatasi dan keluar dengan peradaban baru, antara lain budaya Renaisans berkembang pada akhir abad ke-14. Sementara itu, siaran radio pertama muncul di AS pada 1920 yang telah mendorong pembangunan media massa secara lebih masif.

Diaspora dan sindrom karantina

Sekitar 142 ribu diaspora Indonesia tinggal di AS. Sebagian besar bergabung dalam berbagai organisasi- berdasarkan hobi/minat, profesi, suku, dan agama- yang tersebar di Amerika Serikat. Beberapa organisasi yang berskala nasional, antara lain Indonesian Muslim Society in America (IMSA), Persatuan Mahasiswa Indonesia di AS (Permias), Indonesia Diaspora Network United (IDN United), Indonesia Diaspora Network Global (IDN Global), serta Amerika Bersatu.

Bersinergi dengan Perwakilan RI di AS ataupun secara mandiri, Diaspora Indonesia melakukan berbagai cara yang secara simbolis dapat dimaknai sebagai 'perlawanan' terhadap sindrom karantina, antara lain kegiatan amal. Diaspora Indonesia melakukan pengumpulan dana, sembako, masker, dan termometer dengan nilai sekitar US$150 ribu hingga US$200 ribu. Bantuan tersebut tidak saja didistribusikan bagi Diaspora Indonesia yang membutuhkan, tetapi juga untuk masyarakat di Indonesia.

Imbauan untuk kegiatan amal mendapat tanggapan antusias. Sumbangan yang diterima mulai US$10 hingga US$2.000 per orang. Pendistribusian sembako juga merupakan tantangan tersendiri, selain adanya potensi terpaparnya relawan pengantar, hampir seluruh negara bagian menerapkan kebijakan tinggal di rumah secara ketat.

Bantuan dari Pemerintah AS

Dalam menanggulangi dampak pandemi covid-19, Pemerintah AS mengeluarkan berbagai program bantuan sosial kepada masyarakat yang membutuhkan. Salah satunya ialah pendanaan Coronavirus Relief Fund berupa hibah kepada pemerintah negara bagian dan lokal sebesar US$142 miliar. Indonesian American Association (IAA) yang telah didaftarkan sebagai organisasi nirlaba di AS berhasil mendapatkan bantuan tersebut dari pemerintah tingkat kabupaten (county) di Montgomery dan Fairfax dengan nilai US$45 ribu.

Pembentukan pusat krisis. Permias bekerja sama dengan Perwakilan membuka pusat krisis untuk merespons permintaan bantuan bagi mahasiswa Indonesia, baik pada masalah kesehatan maupun isu nonkesehatan. Sebagai contoh, mengikuti protokol kesehatan dari pemerintah setempat, beberapa universitas menutup asrama. Permias telah membantu mahasiswa Indonesia untuk mencarikan akomodasi baru dengan informasi yang detail, seperti harga sewa kamar, lokasi, dan jarak tempat dengan dokter ataupun apotek.

Monitoring kesehatan. Pos kesehatan dibentuk KBRI Washington, DC dengan para dokter Indonesia yang tinggal di AS. Layanan pos kesehatan, antara lain memberikan penyuluhan melalui webinar tentang covid-19. Dampak penyuluhan ini membantu untuk mengurangi berbagai informasi yang tidak akurat seperti dikatakan Sekjen PBB Antonio Guterres tentang apa yang disebut a pandemic of misinformation. Pos kesehatan juga memberikan sosialisasi tidak saja oleh dokter, tetapi juga psikolog terkait dengan kesehatan mental.

Pembentukan organisasi baru. Untuk memfasilitasi komunikasi dan pemantauan, beberapa komunitas Indonesia bekerja sama dengan Perwakilan Indonesia membentuk organisasi, antara lain kelompok warga senior di daerah DC-Maryland-Virginia (DMV), serta kelompok diaspora di Baltimore dan Richmond.

Kelompok warga senior merupakan kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus, karena mereka ialah kelompok rentan apabila terpapar virus covid-19. Melalui pembentukan beberapa kelompok WA, dilakukan pemantauan kesehatan, antara lain melalui pemeriksaan suhu tubuh setiap hari, berkomunikasi dengan kelompok-kelompok kecil melalui obrolan WA, bahkan membuat acara Radio-Video untuk menghibur para manula.

Menebalkan solidaritas antara diaspora di AS-Kanada, masyarakat Indonesia serta para pemimpin agama. Dilakukan secara virtual pada 16 Mei 2020, acara dengan tajuk Rantai Doa dan Aksi oleh para tokoh agama di Indonesia dan di AS-Kanada. Lebih dari 7.000 penonton telah berpartisipasi dalam acara ini.

Perlindungan Warga 2.0

Pandemi belum mereda di AS dalam waktu dekat. Situasi diperkirakan belum membaik hingga tahun depan. Syarat penting hilangnya pandemi covid-19 ialah vaksin yang efektif segera ditemukan, dan dapat didistribusikan secara luas. Seperti umat manusia di mana pun berada, pandemi telah berdampak pada masalah kesehatan, serta dampak ekonomi dan lainnya. Namun demikian, Diaspora Indonesia - bersinergi dengan seluruh Perwakilan RI di luar negeri- telah mencoba yang terbaik untuk menghadapi sindrom karantina.

Melihat pengalaman di atas, strategi ke depan untuk perlindungan warga negara lebih ditekankan, antara lain pertama, aspek pencegahan, terutama mengenai masalah kesehatan, dengan membentuk pos kesehatan yang melibatkan tenaga ahli kesehatan. Kedua, mendorong organisasi diaspora untuk lebih terlibat dengan orang-orang Amerika dan lembaga pemerintah (seperti mendaftar sebagai organisasi nirlaba lokal).

Selain itu, diaspora diharapkan dapat berperan sebagai pelobi yang mempromosikan kepentingan Indonesia dengan pemerintah atau komunitas lokal di Amerika. Penunjukan Konsul Kehormatan (Konhor) dari Diaspora Indonesia (yang WN AS) kiranya dapat dipertimbangkan. Sebagai perbandingan, Jepang memiliki lebih dari 200 Konhor di AS.

Mengingat penugasan Konhor relatif tidak memerlukan anggaran, Diaspora Indonesia diangkat sebagai Konhor yang dilibatkan dalam beberapa fungsi perlindungan warga negara merupakan alternatif yang dapat dikaji. Berbagai Konhor negara asing di AS memaksimalkan fungsi Konhor selain terkait dengan promosi perdagangan, budaya, dan pariwisata, juga membantu dalam hal perlindungan warga negaranya, utamanya tempat yang secara fisik jauh dari kantor perwakilan.

Pandangan pribadi.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya