Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Bergotong Royong di Tengah Wabah Korona

Pitan Daslani Pemerhati Dinamika Sosial-Budaya
18/6/2020 05:55
Bergotong Royong di Tengah Wabah Korona
(ROMMY PUJIANTO)

ADA dua kabar baik yang muncul di tengah kesibukan bangsa ini mengatasiwabah coronavirus (covid-19). Pertama, Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 memperlembut pesan-pesan mengerikan yang muncul dalam konferensi pers, dengan dimunculkannya wajah ayu dokter Reisa Broto Asmoro.

Tampilnya dokter cantik lulusan Universitas Pelita Harapan (UPH) ini bukan sebagai promosi kecantikannya yang ramai diperbincangkan netizens, melainkan lebih dari itu, ada kesadaran bahwa masyarakat yang sudah lelah mendengar berita-berita mengerikan tentang penyakit dan kematian kini disuguhi suatu pemandangan yang menyejukkan suatu teknik komunikasi publik yang baik.

Teknik komunikasi publik ini ternyata mampu menghapus kesan mengerikan dari konferensi pers Gugus Tugas. Bahwa kematian itu pasti dan bukan hal baru, tetapi berita-berita tentang korona itulah yang membuat banyak orang merasa ngeri. Karena itu, kini pemberitaan tentang covid-19 disuguhkan dengan wajah komunikasi yang lebih nyaman.

Namun, ada kabar kedua yang jauh lebih bermakna, yaitu ramainya masyarakat di berbagai daerah bergotong royong, atas kesadaran sendiri, untuk membantu mereka yang terdampak covid-19. Kabar kedua ini perlu direnungkan maknanya secara mendalam. Di tengah kegaduhan politik dan kekhawatiran ekonomi yang terjadi, ternyata semangat gotong royong itu terbukti masih lestari di hati masyarakat.

Ada gotong royong konser virtual Iwan Fals diselenggarakan Bank Mandiri, konser virtual Berbagi Kasih bersama Bimbo dengan tema Bersatu melawan korona, didukung Ketua MPR RI, BPIP, Gugus Tugas, Kabinet Kerja, dan dimotori Yayasan Generasi Lintas Budaya dan Gerak BS.

Ada warga RT di Banyuwangi yang bergotong royong membantu penderita covid-19, Perhimpunan Suluh Muda Indonesia yang menyalurkan bantuan kepada masyarakat terdampak korona di Medan. Lalu, pemuda desa di Gresik bergotong royong membagikan sembako, serta warga Depok bergotong royong membantu penderita covid-19.

Ada lagi warga Cipageran di Cimahi sibuk bergotong royong membantu keluarga-keluarga yang berstatus ODP, ibu-ibu di Kalibata yang membagikan makanan, komunitas berbagai kampus bergotong royong membantu penderita covid-19. Ada pula toko oleh-oleh di Bandung yang menggalang dukungan dana untuk membantu penderita.

Selain itu, pengusaha, BUMN, berbagai media massa, dan komunitas media sosial bersinergi bersama seniman dan para pekerja seni sibuk berkreasi dan berinovasi, menggalang solidaritas untuk kemanusiaan di tengah wabah ini. Begitu pula, para tokoh adat serta kepala kepala daerah yang kreatif terus berinovasi untuk membantu warga mereka.

Nilai mulia

Itulah indahnya solidaritas kemanusiaan di negeri kita suatu nilai mulia yang tetap lestari di tengah masyarakat meskipun panggung politik selalu saja dicemari dengan tutur bahasa dan perilaku tak terpuji. Termasuk saling tuding, saling hujat, dan saling menjatuhkan, yang sungguh memuakkan masyarakat.

Nilai mulia dalam semangat bergotong royong ini ternyata mampu mengatasi semua perbedaan status, golongan, etnik, agama, dan kelompok, yang sebelumnya sering ditunggangi melalui politik identitas yang memecah belah warga bangsa.

Korona telah memaksa warga bangsa untuk meninggalkan semua perbedaan itu sehingga warga bersatu padu menghadapi musuh bersama yang masih mencengkeram negeri kita.

Hal ini patut kita renungkan sebab ternyata kita baru bisa kompak bersatu ketika ada musuh bersama. Ketika tak ada musuh bersama, cukup sulit bagi kita untuk kompak bersatu. Sejarah bangsa kita telah membuktikannya. Karena itu, kehadiran korona di Indonesia, selain perlu dilenyapkan, membawa berkah bagi kita sebagai bangsa. Dengan adanya musuh bersama yang tidak kelihatan, tapi sangat mematikan ini, kita akhirnya kompak bersatu bergotong royong menghadapinya.

Namun, 'berkah korona' yang mempersatukan warga bangsa kita ini perlu juga disesali. Seharusnya kita kompak bukan karena ada bahaya yang mengancam jiwa kita sebagai bangsa, melainkan kompak karena kita memiliki kepentingan bersama menuju masa depan, yang perlu direspons dengan baik.

Kepentingan bersama di masa depan itu ialah mewariskan disiplin sistem politik, sistem hukum, sistem ekonomi, dan tata nilai budaya yang baik untuk dilanjutkan generasi penerus. Namun, ada paradoks. Di satu sisi kita melihat adanya semangat gotong royong yang terus menyala dan lestari di tengah masyarakat. Namun, di lain sisi kita melihat penyelenggaraan negara belum mampu mengembangkan semangat gotong royong itu sebagai sumber energi bangsa.

Majelis Pemusyawaratan Rakyat (MPR) tak cukup hanya melakukan sosialisasi empat pilar kebangsaan. Yang lebih penting ialah mengembangkan semangat dan nilai gotong royong itu sebagai kekuatan dan energi bangsa yang dapat diterjemahkan ke dalam program-program nyata yang berkesinambungan, untuk memberdayakan masyarakat, memperkukuh persatuan, serta melestarikan budaya bangsa.

Institusi seperti Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) perlu menangkap fenomena gotong royong di tengah wabah korona ini untuk diusulkan pengembangannya ke dalam program-program kementerian dan lembaga serta pemerintahan daerah dan berbagai komponen masyarakat.

Terlalu sibuk pemerintah ini dengan urusan pembangunan fisik, tetapi lengah dalam urusan pembangunan nilai-nilai budaya yang merupakan potensi dan warisan para pejuang kemerdekaan serta pendiri negara ini. Karena itu, munculnya semangat gotong royong yang begitu besar, yang ditunjukkan masyarakat di berbagai daerah di tengah wabah korona ini, seharusnya dijadikan momentum pembaruan untuk menyeimbangkan antara pembangunan raga dan pembangunan jiwa bangsa.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya