Rabu 29 April 2020, 04:50 WIB

Covid-19, Noli Me Tangere dan Solidaritas Global

Otto Gusti Doktor dari Hochschule fuer Philosphie, Muenchen, Jerman | Opini
Covid-19, Noli Me Tangere dan Solidaritas Global

MI/Tiyok

EGALITARIANISME radikal sedang menjadi nyata di hadapan guncangan pandemi covid-19. Pandemi ini menghantam siapa saja tanpa pandang perbedaan status sosial, ekonomi, ras, agama, dan warna kulit.

Entah Anda saleh atau kafir juga belum menjadi jaminan aman dari serangan virus mematikan ini. Bahkan, inflasi kesalehan dengan mengabaikan panduan akal sehat dalam menghadapi pandemi korona tak mustahil berujung pada tragedi kematian.

Pandemi virus ganas ini telah menginfeksi sekitar 2,9 juta penduduk dunia. Sementara itu, angka kematian sudah melampaui 200 ribu orang. Untuk menghentikan penyebaran virus ini, bukan isolasi diri, melainkan kerja sama antarnegara pada tingkat global dipandang sangat urgen (Bdk Yuval Noah Harari, 2020).


Noli me tangere

Seruan untuk membangun kerja sama pada tingkat global dirasakan sebagai sebuah paradoks. Alasannya, model kunci dalam menghentikan penyebaran virus korona justru merupakan antagonisme dari sosialisasi, yakni self-isolation dan social distancing, sebab kedekatan dalam model apa saja dapat berarti maut.

Paradoks ini dirumuskan filsuf neomarxis asal Slovenia, Slavoj Zizek, dengan ungkapan noli me tangere. Noli me tangere ialah ungkapan bahasa Latin yang berarti ‘jangan menyentuh saya’.

Peringatan itu disampaikan Yesus kepada Maria Magdalena yang hendak menjamah-Nya karena terkejut bercampur gembira melihat Yesus yang bangkit dari antara orang mati pada Minggu Paskah. Zizek berpandangan bahwa pernyataan Yesus itu membingungkan atau paradoksal. Bagaimana mungkin Yesus yang semasa hidupnya selalu berbicara tentang kasih, bela rasa, dan solidaritas melarang orang yang sangat mengasihi-Nya datang mendekat dan menyentuh-Nya.

Zizek yang mengaku sebagai seorang Kristen ateis menjelaskan paradoks itu: Yesus yang bangkit dari antara orang mati tidak lagi hadir sebagai pribadi atau persona yang dapat disentuh. Ia hadir secara simbolis di antara umat manusia yang menghayati kasih dan solidaritas. “Do not touch me, touch and deal with other people in the spirit of love”—’Jangan menyentuh saya, tapi jamahlah dan hiduplah dengan orang-orang dalam semangat kasih’ (Zizek, 2020:1).

Jadi, di tengah pandemi covid-19, tidak penting menyentuh secara fisik orang yang kita kasihi. Sebaliknya, belas kasih dan bela rasa harus kita tunjukkan dengan menciptakan jarak fi sik. Jarak fisik bukan berarti jarak sosial sebab pandemi ini hanya dapat dihadapi dengan antibodi sosial, yakni keadilan, kasih, dan solidaritas.

Jika selama ini egalitarianisme sering menjadi jargon kosong, pandemi covid-19 memberikan awasan serius bahwa manusia sungguh setara di hadapan kerentanan sebagai korban. Egalitarianisme kerentanan harus menjadi titik tolak kerja sama global.

Peta politik global menampilkan satu contoh menarik beberapa waktu lalu. PM Israel Benjamin Netanyahu di luar dugaan menawarkan bantuan dan kerja sama kepada Palestina. Tawaran bantuan itu tentu saja bukan atas dasar pertimbangan kemanusiaan atau kedermawanan, melainkan semata pertimbangan pragmatis, rakyat Israel dan Palestina sama-sama rentan terinfeksi virus korona (Zizek, 2020:14).


Solidaritas global

Namun, kerja sama global tentu saja harus melampaui pertimbangan strategis-pragmatis semata dan berubah menjadi solidaritas global. Pandemi covid-19 ialah momen memperteguh solidaritas global itu.

Pemimpin sejagat Gereja Katolik Roma, Paus Fransiskus, mengingatkan kita, dunia sekarang sedang berada dalam kondisi dilanda globalization of indifference (globalisasi ketakpedulian) yang berdampak ketidakmampuan menangis dan mengambil bagian dalam penderitaan orang lain. Di tengah dunia yang diwarnai apatisme dan ke tak pedulian, kita perlu mempromosikan budaya tandingan, yakni sikap bela rasa dan belas kasih.

Pandemi covid-19 menyadarkan dan membuka kembali kesamaan antara umat manusia, yakni kerentanan universal. Sebagai manusia, kita terbentuk dari materi yang sama dan rentan. Karena itu, kita semua ialah saudara dan saudari terlepas dari perbedaan agama, ras, budaya, status sosial, dan bangsa.

Kemanusiaan yang rentan itu menjadi basis persaudaraan dan solidaritas antarumat manusia. Persaudaraan itu mendesak kita bersikap peduli terhadap yang lain, terutama yang menderita lewat imajinasi, kreativitas, dedikasi, dan sikap dermawan. Sikap peduli dan solidaritas berawal dengan mengakui dan menerima kerentanan kita bersama.


Politik ekonomi pascacovid-19 

Solidaritas global dan sikap etis di atas hanya dapat bertahan jika diterjemahkan ke dalam sebuah sistem politik. Tak dapat dimungkiri bahwa model pembangunan ekonomi global yang diterapkan 30 tahun terakhir, salah satu faktor penyebab munculnya pandemi virus korona.

Sebanyak 174 ilmuwan Belanda beberapa waktu lalu mengeluarkan sebuah manifesto tentang model politik ekonomi pascacovid-19.  Manifesto itu dapat dijadikan panduan pembangunan ekonomi global di masa depan, termasuk di Indonesia.

Model pembangunan neoliberal yang memberikan penekanan pada pertumbuhan telah bermuara pada kerusakan dan bencana ekologis
yang membuka peluang bagi munculnya sejumlah virus mematikan seperti covid-19. Untuk itu, transformasi agrikultural harus menciptakan model pertanian regeneratif yang berpijak pada keselamatan biodiversitas serta promosi pangan lokal dan vegetarian yang berkelanjutan.

Perhatian juga hendaknya diberikan pada pembangunan sejumlah sektor publik krusial seperti clean energy, kesehatan, pendidikan, dan pengentasan rakyat dari kemiskinan.

Sementara itu, model pembangunan yang tidak sustainable dan hanya mendorong konsumsi harus dikurangi. Hal ini terutama berkait dengan sektor privat minyak, gas, pertambangan, dan bisnis iklan. Paradigma ekonomi masa depan juga harus lebih banyak memberikan perhatian pada redistribusi yang adil. Untuk itu, perlu ditetapkan upah minimum universal yang bertolak dari sistem kebijakan sosial universal, penerapan sistem pajak progresif untuk penghasilan, laba bisnis dan kekayaan, serta pengakuan akan nilai intrinsik kerjakerja sosial, pelayanan publik seperti pendidikan dan kesehatan.

 

Baca Juga

Yeremias Jena Dosen Filsafat/Etika di Unika Atma Jaya, dan Sekretaris Himpunan Dosen Etika Seluruh Indonesia (Hidesi)

Salah Kaprah Revolusi Akhlak

👤Yeremias Jena Dosen Filsafat/Etika di Unika Atma Jaya, dan Sekretaris Himpunan Dosen Etika Seluruh Indonesia (Hidesi) 🕔Sabtu 05 Desember 2020, 05:05 WIB
NOVEMBER 2019, Robert Baker menerbitkan sebuah buku berjudul The Structure of Moral Revolution (MIT,...
Dok.UI

Deklarasi Papua Barat Merdeka yang Cacat Hukum

👤Arie Afriansyah Dosen Hukum Internasional Fakultas Hukum Universitas Indonesia 🕔Sabtu 05 Desember 2020, 05:00 WIB
AWAL Desember 2020, rakyat Indonesia kembali dikejutkan dengan adanya sebuah pernyataan kontroversial. Benny...
Dok. Pribadi

Obat Covid-19

👤FX Wikan Indrarto Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S-3 UGM 🕔Jumat 04 Desember 2020, 02:10 WIB
TELAH dilakukan sebuah penelitian yang membandingkan efek beberapa jenis pengobatan untuk penyakit Coronavirus disease 2019...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya