Headline
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Kumpulan Berita DPR RI
PANDEMI covid-19 tidak hanya menyebabkan krisis kesehatan global, tapi juga menyeret ke bidangbidang lainnya, terutama sosial dan ekonomi. Masyarakat umum mungkin banyak yang terfokus pada aspek kesehatan hingga terlupa ada aspek lain yang juga sangat penting untuk diperhatikan saat ini, yaitu aspek kebutuhan pangan.
Pada akhirnya, pandemi ini tidak hanya mengancam keselamatan, kesehatan masyarakat, tapi juga meneror sektor pangan, dimulai dari produksi, distribusi, hingga konsumsi.
Potensi ancaman tersebut sempat disuarakan Organisasi Pangan Dunia (Food and Agriculture Organization/FAO). Menurut FAO, pandemi covid-19 bisa berakibat pada krisis pangan dunia. Rantai pasokan pangan dunia terancam karena kebijakan negara-negara dalam menekan penyebaran virus korona, seperti pemberlakuan karantina wilayah atau lockdown, pembatasan sosial, dan larangan perjalanan.
Kebijakan tiap-tiap negara dalam mencegah penyebaran covid-19 turut berimplikasi pada baik kebijakan pangan maupun kemampuan produksi mereka. Sejumlah negara mengalami kesulitan mempertahankan produktivitas mereka. Contohnya Italia yang disebut tidak bisa memaksimalkan masa panen pada Mei mendatang karena kehilangan 200 ribu pekerja tani akibat lockdown.
Selain produktivitas terganggu, rantai pasok terganggu karena adanya kebijakan larangan perjalanan. Kebijakan ini membatasi operasional pelabuhan, truk pengangkut, sampai penerbangan yang berperan penting dalam mendistribusikan pangan lintas wilayah dan negara.
Pada akhirnya, pandemi ini tidak hanya mengancam keselamatan kesehatan masyarakat, tapi juga meneror aspek lain, terutama upaya pemenuhan kebutuhan pangan, dimulai dari produksi, distribusi, hingga konsumsi.
Kondisi itu mendapatkan perhatian khusus dari Presiden Joko Widodo. Pada rapat terbatas mengenai bahan kebutuhan pokok, Selasa (21/4), terdapat empat poin penting yang disampaikan beliau.
Pertama, pastikan ketersediaan bahan pokok berbasis data yang empiris dan valid.
Kedua, rantai pasok sesuai dengan dinamika kebutuhan masyarakat. Ketiga, menjaga harga bahan pokok terjangkau oleh masyarakat dan, keempat, situasi covid-19 harus bisa dijadikan momentum reformasi kebijakan sektor pangan.
Dengan melihat perhatian besar yang ditunjukkan Presiden tersebut, para pelaku usaha tani tak lagi dapat dimungkiri memiliki peran penting dalam pencegahan penyebaran covid-19. Ibarat perang, serangan melawan covid-19 kita menggunakan taktik militer vanguard troops, yaitu tim medis dengan semua infrastruktur dan suprastrukturnya sebagai pasukan terdepan. Mereka ialah yang pertama maju. Pertama
bertemu lawan dan pertama untuk bertempur, dengan formasi yang dapat memaksimalkan kecepatan dan daya kejut.
Sementara itu, para pelaku usaha pertanian diposisikan sebagai posisi pertahanan. Dalam strategi perang, pertahanan ialah kondisi temporal untuk melawan usaha penyerang dengan menghentikan momentum serangannya.
Pertahanan menyiratkan penggunaan taktik bertahan. Strategi pertahanan ialah kebijakan mencegah serangan, atau meminimalkan kerusakan serangan, oleh kekuatan-kekuatan strategis.
Kecukupan pangan
Dalam konteks covid-19 ini, pertahanan yang paling strategis ialah kecukupan pangan bagi masyarakat. Program apa pun yang dilakukan untuk mencegah penyebaran covid-19, baik itu pembatasan sosial berskala besar (PSBB), pembatasan sosial berskala kecil, atau lockdown, sepanjang pangan pokok tersedia untuk rakyat, bisa efektif dijalankan.
Dengan kondisi global yang turut berpotensi mengalami krisis pangan, penyebaran covid-19 tampaknya benar-benar menjadi petaka global. Bahkan covid-19 menjadi ancaman yang paling nyata dan sebagai penyebab yang paling berpengaruh dalam proses perlambatan pertumbuhan perekonomian dunia.
Kemampuan negara dalam menjaga ketahanan pangan selama pandemi menjadi kunci penting yang menentukan keberhasilan kita mencegah penyebaran covid-19. Kebijakan pemerintah dalam mencegah penyebaran covid-19 hanya akan efektif jika pemerintah bisa menjamin ketersediaan dan akses pangan bagi masyarakat dengan harga yang terjangkau.
Dengan kondisi tersebut, sektor pertanian menjadi salah satu sektor yang sangat strategis dalam menahan pelemahan ekonomi meskipun sektor itu tetap mengalami gangguan karena covid-19.
Penyebaran covid-19 dapat membawa dampak ekonomi terhadap sektor pertanian di Indonesia. Setidaknya, melalui beberapa perspektif antara lain, pertama, melemahnya produktivitas tenaga kerja. Kedua, berkurangnya total faktor produktivitas. Ketiga, meningkatnyaongkos perdagangan produk-produk pertanian dan, keempat, meluasnya distorsi distribusi produk pertanian yang menyebabkan meningkatnya
harga komoditas pertanian.
Kenaikan harga komoditas pada poin ini bisa berdampak langsung denganpeningkatan biaya perdagangan, atau justru ongkos dagang tetap statis. Namun, harga pada tingkat konsumen yang bertambah.
Dari hasil analisis dengan berbagai perspektif yang ada, implikasi ekonomi dari penyebaran covid-19 terhadap perkembangan sektor pertanian di Indonesia dapat dilihat pada melemahnya produktivitas tenaga kerja sektor pertanian yang berkisar 0,3%-0,6%, akan berimplikasi pada pelemahan pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Diperkirakan, total faktor produktivitas telah berkurang sekitar 3,5% yang disebabkan turunnya produktivitas tenaga kerja. Sebaliknya, ongkos perdagangan menaik paling kurang 5%.
Kondisi itu berkaitan langsung dengan akan meningkatnya jumlah penduduk miskin dan rawan pangan di Indonesia dan akan meningkat pada keempat perspektif di atas, yang dijadikan sebagai alas kajian dalam tulisan ini, yakni masing-masing sekitar 2%, 7%, 10%, dan 20% hingga 30%-an, sebagai dampak langsung dari meluasnya covid-19.
Menurunnya daya tumbuh ekonomi global akibat tekanan covid-19 sudah pasti akan memengaruhi produksi pertanian dengan besaran yang berlainan pada setiap perspektif yang dijadikan acuan dalam tulisan ini. Tentu saja selain produksi pertanian, produksi sektor industri pangan dan sektor ekonomi lainnya akan mengalami penurunan, dalam jumlah yang masih sulit dianalisis karena belum ada yang bisa memastikan kapan tekanan covid-19 akan menurun atau berhenti.
Kondisi ketidakpastian itu mendorong terjadinya spekulasi harga--penurunan atau kenaikan harga pangan dan akan terjadi pada keseluruhan komoditas pertanian maupun nonpertanian.
Dampak ekonomi penyebaran covid-19 juga akan melemahkan nilai ekspor pertanian. Perspektif turunnya produktivitas tenaga kerja hanya meningkat 0,5%–1%, sedangkan pada perspektif turunnya total faktor produktivitas hanya subsektor hortikultura yang ekspornya bisa meningkat sebesar 0,5%-1,5%. Di sisi lain, kalau dipotret sementara pada perspektif terjadinya peningkatan biaya perdagangan, hampir semua ekspor pertanian akan turun antara 1,5% dan 7%.
Hanya subsektor tanaman pangan, hortikultura, dan tanaman lainnya yang tidak mengalami kenaikan impor jika dianalisis pada perspektif turunnya produktivitas tenaga kerja. Kalau dilihat perspektif turunnya total faktor produktivitas, kenaikan nilai impor pertanian berkisar 4% dan 5,5%. Sementara itu, pada perspektif peningkatan ongkos perdagangan, nilai impor pertanian akan meningkat 3%–6%.
Strategi utama
Ketidakteraturan dan ketidakpastian kondisi perekonomian global sebagai dampak dari semakin ganasnya penyebaran covid-19 akan semakin memperparah kondisi perekonomian global. Global chaos ini bisa jadi berimplikasi pada melemahnya kinerja sektor pertanian.
Oleh karena itu, diperlukan konsep mitigasi risiko yang jelas atas penurunan kinerja sektor pertanian tersebut untuk memastikan pertumbuhan sektor pertanian tetap stabil.
Strategi utama yang dapat dilakukan ialah dengan menyusun rumusan reorientasi kebijakan dan program pembangunan pertanian. Pertama, menyusun program pemberdayaan masyarakat (petani) yang bersifat padat karya, dan berbasis pada sektor pertanian, dengan model cash for work (CFW). CFW ini dimaksudkan untuk memberikan kesempatan kerja bagi petani yang kurang sejahtera dan menganggur/setengah menganggur sehingga bisa menekan angka kemiskinan petani.
Kementerian Pertanian saat ini mengusulkan penambahan ang garan kegiatan padat karya tunai dan bantuan bibit/benih serta sarana dan prasarana produksi (saprodi) pertanian ke Kemenko Perekonomian sebesar Rp6,38 triliun dengan rincian padat karya senilai Rp2,24 triliun dan saprodi pertanian Rp4,14 triliun. Bila disetujui, program itu bisa mengamankan kesejahteraan masyarakat perdesaan.
Apalagi perdesaan saat ini menjadi ‘katup pengaman’ (safety valve) dampak gangguan ekonomi di perkotaan akibat covid-19. Langkah berikutnya, menjamin ketersediaan dan akses pangan bagi masyarakat dengan harga yang terjangkau. Upaya itu perlu dibarengi dengan menjaga terjadinya lonjakan harga pangan dengan mengoptimalkan peran satgas pangan.
Kita juga perlu melakukan pemetaan ketersediaan (stok) pangan nasional dan menemukan sejak dini daerah yang dianggap potensial timbulnya berisiko rawan atau krisis pangan. Selain itu, kepastian akan kelancaran sistem logistik pangan antarwilayah serta kemampuan distribusi ke level konsumen tidak boleh terganggu.
Selain memastikan distribusi produk pangan tetap berjalan lancar, jalur distribusi subsidi pupuk kepada petani harus berjalan lebih efektif dan efi sien. Ketersediaan pupuk untuk petani harus tercukupi jumlahnya dengan melakukan penambahan subsidi pupuk, terutama pupuk cair organik untuk lahan-lahan di Pulau Jawa yang sudah jenuh.
Sebagai bentuk memastikan distribusi dan logistik berjalan lancar, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo telah berkirim surat kepada Presiden Jokowi yang ditembuskan kepada seluruh kepala daerah tingkat I dan II pada 31 Maret 2020 lalu, gubernur/bupati/wali kota memberikan akses di pintu keluar/masuk wilayah bagi kelancaran pengiriman logistik sarana produksi pertanian, suplai bahan pangan pokok dan komoditas ekspor pertanian, serta, arus tenaga kerja pertanian ke/dari berbagai wilayah di Indonesia.
Pemberian akses itu tetap memperhatikan protokol atau SOP penanganan covid-19 sebagaimana yang ditetapkan. Selain sejumlah upaya di atas, Kementerian Pertanian harus bekerja keras untuk meningkatkan jumlah petani penerima KUR dan jumlah asuransi pertanian dengan jalan menambahkan alokasi subsidi premi asuransi pertanian.
Dari beberapa konsep mitigasi di atas, sebagian besar berupa insentif yang diberikan kepada petani untuk menjaga dan meningkatkan produksi pertanian, di tengah tekanan penyebaran covid-19 yang semakin luas. Hal itu juga dilakukan secara bersamaan dengan peningkatan jumlah asuransi pertanian melalui tambahan alokasi subsidi premi asuransi pertanian.
Mitigasi di atas pun perlu dilakukan dalam kerangka sinergi dan kerja bersama. Seperti yang disebutkan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, upaya bangsa ini dalam melawan covid-19 merupakan pertarungan dunia-akhirat. Untuk
itu, diperlukan kerja sama dengan semua pihak dalam memastikan ketersediaan pangan bagi masyarakat.
Pada akhirnya, penguatan dan keberpihakan terhadap sektor pertanian di tengah wabah covid-19 ialah sesuatu yang tidak bisa ditawar. Hanya sektor pertanian yang mampu menyiapkan pangan untuk melawan covid-19.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved