Headline

Transparansi data saham bakal diperkuat demi kerek bobot RI.

Dekontaminasi yang Mencerdaskan!

Geni Rina Sunaryo Kepala Pusat Teknologi dan Keselamatan Reaktor Nuklir 2014-2019, Peneliti Senior Batan
19/2/2020 06:30
Dekontaminasi yang Mencerdaskan!
(Dok.Pribadi)

BERITA kebun radiasi yang menggegerkan sebentar lagi sirna. Paparan radiasinya sudah jauh berkurang setelah clean up pada hari keempat. Sebanyak 172 drum berkapasitas 100 liter sudah terpakai untuk memindahkan tanah dengan mengeruk. Ini prosedur! Standar keselamatan nuklir dari International Atomic Energy Agency. Memang standarnya sangat tinggi. Makanya Nuklir itu aman! Tidak perlu takut. Kurang dari 20 hari, lokus akan bersih!

Acungan jempol untuk rekan Batan dari Pusat Teknologi Limbah Radioaktif yang telah bekerja keras. Juga untuk ketenangan dan kecerdasan bersikap dari penghuni kompleks Batan Indah. Sangat kooperatif. Ketenangan bersikap ini sangat membantu kelancaran proses clean up.

Satu hal lain yang menjadi sangat penting dalam menuntaskan tantangan ini. Polisi harus bisa menyelesaikan dan menangkap oknumnya dengan cepat. Tuntaskan apa modusnya? Yang jelas, keteledoran Batan juga ada. Apa itu? Sistim keamanan dalam mendeteksi kontaminasi di setiap pintu keluar masuk pagar kuning belum memadai. Makanya perlu ditingkatkan. Mahal? Memang mahal, tetapi keselamatan manusia dan lingkungan sangat penting.

Untuk itu, pemerintah perlu diyakinkan dalam mendukung pendanaannya. Adakah pengaruhnya kebun radiasi ini pada program PLTN Indonesia? Tentunya iya. Tapi seberapa besar? Sangat bergantung pada bagaimana kita memandangnya.

Belajarlah dari Jepang

Jepang ialah negara satu-satunya di dunia yang kenyang akan kejadian nuklir! Satu-satunya negara yang dibom atom, tepatnya di Kota Hiroshima dan Nagasaki. Paparan radiasinya jauh berjuta-juta kali lipat dari kebun radiasi Batan Indah. Juga kejadian Fukushima. Kontaminasi yang menghambur ke lingkungan. Besarannya pun jauh sangat tinggi ketimbang kebun radiasi.

Akan tetapi, satu catatan. Yang meninggal itu bukan karena PLTN Fukushima. Mereka terempas oleh tsunami. Sekarang, beberapa PLTN-nya sudah dioperasikan kembali karena mereka paham bahwa suplai energi listrik ialah darah perekonomian. Tidak ada aliran darah, tubuh akan mati. Perekonomian mereka akan terpuruk.

'Cepat bangkit' menjadi budaya Jepang yang harus kita tiru. Cepat bangkit dari fobia kebun radiasi Batan memang ada, tapi harus cepat bangkit juga. Paparannya jauh sangat kecil dari kejadian Fukushima, dan sebentar lagi juga sirna.

Tidak ada yang harus ditakutkan dengan paparan radiasi. Dalam kehidupan sehari hari, manusia sudah terpapar radiasi alam, seperti radiasi kosmik dari matahari.

Dalam setahun, rata rata tubuh manusia menerima paparan radiasi kosmik dari matahari sekitar 0,4 mSv/tahun. Menonton TV, misalnya, juga bisa terkena paparan radiasi 0,005 mSv/jam. Saat naik pesawat terbang, manusia terpapar radiasi jauh lebih besar jika dibandingkan dengan berada di bumi. Di kapal terbang paparan radiasinya 0,39 mSv per jam.

Dari makanan, radiasinya sekitar 0,4 mSv/tahun. Dari bahan bangunan atau dinding, sekitar 0,5 mSv per tahun. Malah, PLTN hanya memaparkan 0,0002 mSv/tahun. Ini berarti hanya 1/2.000 dari paparan radiasi makanan per tahunnya. Kecil sekali.

Adanya PLTN tidak akan menambah tinggi paparan radiasi di tubuh manusia. Bukan sesuatu yang menakutkan. Manfaat PLTN jauh lebih banyak. Jangan sampai isu radiasi di sepetak kebun akan melindas program pembangunan PLTN Indonesia.

Satu PLTN saja sudah bisa menjadi pengikat sistim energi di Indonesia, selain suplai energi listrik yang meningkat. Adanya PLTN akan sangat meningkatkan rasa percaya diri bangsa. Indonesia akan menjadi negara yang kuat dan disegani. Apalagi jika ditengok dari sisi ketahanan dan keamanan negara.

Banyak jenis PLTN, tapi generasi 4-lah yang mempunyai sistem keselamatan tertinggi. Salah satunya PLTN yang sudah dimulai desainnya oleh Batan, reaktor daya eksperimental (RDE).

Terjadinya tsunami atau gempa tidak akan mengulang kejadian Fukushima. Selain menghasilkan listrik, juga menghasilkan panas tinggi. Bisa digunakan mengeringkan batu bara. Jika dibakar, batu bara itu tidak menimbulkan polusi udara. PLTN dan PLT Batu bara bisa dibangun berdampingan.

Hayo! Selalu lihat sisi positifnya. Jangan sampai isu radiasi sepetak kebun menjadi sesuatu yang menakutkan, lalu melindas isu PLTN.

Teaser :

"Adanya PLTN tidak akan menambah tinggi paparan radiasi di tubuh manusia. Bukan sesuatu yang menakutkan. Manfaat PLTN jauh lebih banyak. Jangan sampai isu radiasi di sepetak kebun akan melindas program pembangunan PLTN Indonesia.

Satu PLTN saja sudah bisa menjadi pengikat sistem energi di Indonesia, selain suplai energi listrik yang meningkat. Adanya PLTN akan sangat meningkatkan rasa percaya diri bangsa. Indonesia akan menjadi negara yang kuat dan disegani. Apalagi jika ditengok dari sisi ketahanan dan keamanan negara."



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya