Rabu 07 Agustus 2019, 11:50 WIB

Pelestarian Budaya Lokal sebagai Pencegahan Radikalisme

Osmar Tanjung, Sekjen Pusat Kajian Pengembangan Berdikari (PKPBerdikari) | Opini
Pelestarian Budaya Lokal sebagai Pencegahan Radikalisme

Dok Pribadi
Osmar Tanjung, Sekjen Pusat Kajian Pengembangan Berdikari (PKPBerdikari)

Peranan Kebudayaan

Menurut beberapa pakar radikalisme, ada hubungan erat antara perkembangan ranah seni-budaya dan pengurangan radikalisme, khususnya dalam upaya melawan kekosongan identitas (identity vacuum) serta rasa keasingan sosial (social alienation). Ini sering terjadi akibat  semakin pesatnya tingkat urbanisasi, globalisasi, dan migrasi.

Keterlibatan seni dan budaya dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat memberikan kontribusi besar terhadap penciptaan modal sosial (social capital), baik secara individu maupun kolektif dengan memperkuatkan jaringan-jaringan sosial.

Dalam pendekatan yang dilakukan beberapa ilmuwan sosial dan pakar kontra-terorisme, peningkatan social capital merupakan salah satu variable yang sangat menentukan ketahanan (resilience), baik secara individu maupun kolektif terhadap pengaruh kaum radikal.

Keterlibatan dalam kegiatan seni-budaya dapat menciptakan rasa memiliki komunitas serta akar identitas yang kuat (community ownership and identity).

Akibatnya, seorang individu maupun sebuah komunitas akan memiliki ketahanan (resilience) yang lebih tinggi untuk melawan radikalisme.

Di samping itu, kegiatan-kegiatan seni-budaya bisa diselenggarakan dengan tujuan meningkatkan daya pemikiran kritis (critical thinking) serta daya pemikiran mandiri (independent thinking).

Selain dapat meningkatkan pertahanan untuk melawan radikalisme maupun critical dan independent thinking, kegiatan kebudayaan dapat juga mengurangi kerentanan masyarakat terhadap hoaks dan isu-isu negatif lainnya.

Bentuk Kegiatan Seni-Budaya

Bentuk kegiatan seni-budaya yang dipilih tentu harus memiliki relevansi tinggi bagi masyarakat yang dituju. Bisa karena merupakan tradisi local, bisa karena dapat menyalurkan aspirasi masyarakat dan bisa karena cocok bagi segmen dan lapis masyarakat yang dituju.

Untuk itu, diperlukan upaya-upaya khusus untuk mencari inisiatif-inisiatif baru yang  dilengkapi dengan kampanye untuk meningkatkan kesadaran seni-budaya baik di tingkat lokal maupun nasional.

Yang dicari adalah kegiatan seni-budaya yang mampu menciptakan rasa bangga terhadap identitas diri sendiri sebagai perlawanan yang kuat terhadap pengaruh radikalisme.

Di samping itu, sangat mendesak mendukung bermacam bentuk karya seni visual termasuk lukisan, perfilman, teater, pertunjukkan tradisional dan yang lain untuk melawan simbolisme visual yang disebarkan melalui internet dan media sosial.

Mesikpun banyaknya kegiatan-kegiatan seni-budaya yang secara de facto terjadi di tingkat akar rumput, penting juga mengadakan kegiatan yang dapat menyatukan upaya-upaya tersebut sebagai gerakan kebudayaan yang diselenggarakan di tingkat nasional.

Contoh dari hal ini :
1. Memberikan penghargaan, apresiasi dan pengakuan (recognition) kepada mereka yang terlibat dalam kegiatan-kegiatan tersebut, mulai di tingkat komunitas dan sekitarnya sampai tingkat propinsi maupun nasional.
2. Memfasilitasi pertukaran budaya di tingkat lokal, nasional maupun internasional yang akan mendorong sikap tetap terbuka kepada dunia luas dan saling menghargai dengan memfasilitasi pertukaran pendapat, pengalaman.
3  Menyediakan pelatihan hubungan budaya internasional dan peranan budaya dalam mencegah dan melawan radikalisme dan ekstremisme.
4. Pencatatan bermacam jenis seni-budaya dan pemberian apresiasi sebagaimana dilakukan oleh Direktorat Kebudayaan.

Kesimpulan

Sangat mendesak memberi dukungan secara sadar dan terencana kepada kegiatan-kegiatan seni-budaya. Indonesia merupakan sebuah negara yang kaya dengan seni-budaya tradisional maupun modern. Seni-budaya harus diakui memiliki peranan penting dan tidak sebatas daya tarik pariwisata, kegiatan kaum elite perkotaan ataupun ritual kuno orang desa.

Seni-budaya harus merupakan akar diri kita, sumber pengetahuan dan kebijakan lokal yang dinamis, bukan sesuatu yang kaku, yang harus terus diberikan ruangan untuk berkembang dan mengimbangi dampak dari berbagai macam tantangan yang dihadapi dalam abad ke-21.

Baca Juga

Dok. Pribadi

Mewaspadai Lost Generation

👤Biyanto Guru Besar UIN Sunan Ampel, Anggota Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Nonformal (BAN PAUD dan PNF) 🕔Kamis 28 Januari 2021, 05:15 WIB
PJJ secara daring, jelas menghadirkan persoalan bagi peserta didik yang berdomisili di daerah berkategori 3T (tertinggal, terdepan, dan...
MI/Seno

Bencana dan Bahaya Pembangunanisme

👤Willy Gaut Peneliti Doktoral pada Department of Systematic Theology, Faculty of Theology and Religious Studies, KU Leuven, Belgia 🕔Kamis 28 Januari 2021, 05:10 WIB
MESKIPUN telah menjadi serupa bencana tahunan, banjir yang melanda beberapa wilayah di Indonesia awal tahun ini membawa cerita...
Dok. Pribadi

Pendidikan Karakter di Masa Pandemi

👤Alpha Amirrachman Sekretaris Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah PP Muhammadiyah, Alumnus PPRA LX Lemhannas 🕔Rabu 27 Januari 2021, 05:15 WIB
MENURUT laporan UNESCO (2020), sebagai akibat dari wabah covid-19, sebanyak 1.543.446.152 siswa atau 89% dari total siswa di 188 negara,...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya