Headline

Presiden sebut dampak perang nuklir lintas batas dan jangka panjang.

Pengembangan Sekolah dan Manajemen Kelas

Ahmad Baedowi Direktur Pendidikan Yayasan Sukma,Jakarta
24/7/2017 00:16
Pengembangan Sekolah dan Manajemen Kelas
(MI/ADAM DWI)

BERDASARKAN pengalaman, agak sulit mengetahui secara persis, mana yang lebih baik dilakukan terlebih dahulu, pengembangan program sekolah atau manajemen kelas yang efektif. Ada ribuan sekolah di RI kurang peduli dengan aspek pengembangan sekolah berbasis manajemen yang terukur dan terbuka. Akibatnya, ada banyak sekolah yang seolah berjalan di tempat karena tidak memiliki rancangan program pengembangan sekolah. Kualitasnya tak berkembang dan cenderung statis. Ada ribuan kepala sekolah dan guru yang menganggap sekolah hanya soal bekerja, bukan problem kependidikan anak yang masalah terus berkembang dari tahun ke tahun.

Implikasi ketiadaan program pengembangan sekolah yang terukur berdampak langsung pada bagaimana cara guru mengelola kelas. Kelas seolah hanya dibatasi empat sudut tembok dengan sekumpulan murid yang setiap hari selalu diberi label berdasarkan kecenderungannya, juga dilihat sebagai gelas kosong yang siap diisi dengan cara apa pun. Imajinasi dan kreativitas guru amat memprihatinkan sehingga pengelolaan kelas dari waktu ke waktu juga berjalan statis dan tanpa pengembangan. Akibatnya, kelas hanya berfungsi sebagai tempat memberikan instruksi semacam PR, ujian materi yang menakutkan, serta indoktrinasi alias memarahi siswa karena gaduh dan tanpa kendali.

Kebangkrutan
Tanda-tanda kebangkrutan suatu negara sebenarnya dengan mudah dideteksi dari kondisi sistem pendidikan nasional yang dijalankannya. Banyak sekali hasil studi menyebutkan, jika kondisi ekonomi sebuah negara memburuk, itu pasti berkorelasi positif terhadap kondisi sekolah. Sebaliknya, jika stabilitas ekonomi mampu meningkatkan produktivitas dan pendapatan masyarakat, dapat dipastikan sistem pendidikan negara itu berfungsi dengan baik. Dengan demikian, kualitas sekolah memiliki pengaruh jelas terhadap kemampuan daya beli masyarakat, sekaligus meningkatkan pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

Para ahli ekonomi telah memberikan perhatian sangat serius kepada efek human capital terhadap berbagai hasil ekonomi. Investasi di bidang keterampilan yang diselenggarakan melalui pendidikan akan selalu relevan dengan pasar tenaga kerja jika sistem pendidikan suatu negara memiliki ketersambungan dengan pasar dan dunia industri. Artinya, investasi SDM melalui pendidikan merupakan tolok ukur sederhana untuk melihat sejauh mana relevansi sekolah dan dunia usaha bersinergi. Sekaligus mengukur sebuah sekolah itu memiliki ciri dan kriteria berkualitas.

Kondisi pendidikan atau situasi persekolahan saat ini mengalami banyak sekali tekanan dari berbagai pihak, baik secara internal maupun eksternal. Secara internal, sekolah belum memiliki kemampuan mengidentifikasi aspek-aspek yang menjadi kelemahan mendasar seperti efektivitas manajemen dan relasi sekolah-masyarakat. Sementara itu, secara eksternal, meskipun telah memiliki UU tentang sistem pendidikan nasional No20/2003, dalam praktiknya masih terdapat kesalahan mendasar dalam menafsir masalah otonomi pendidikan, sistem pengujian hingga kebijakan pengembangan kurikulum yang selalu membuat pelaksana pendidikan bertambah bingung.

Padahal menurut penelitian Elmore dan Fuhrman (2001), sebuah proses pendidikan akan baik dan berkualitas jika masalah yang berkaitan dengan tanggung jawab internal sekolah mendapatkan prioritas untuk diselesaikan. Terkait dengan sekolah berkualitas, Peter Senge dalam bukunya The School That's Learn (2003) menawarkan lima prinsip pendidikan yang menekankan pentingnya melihat sekolah dan atau proses pembelajaran sebagai suatu institusi pendidikan semacam perusahaan yang memerlukan kerja kelompok dan menuntut keahlian tertentu.

Secara ringkas kelima disiplin kolektif itu terdiri atas, pertama, penguasaan diri, merupakan praktik mengartikulasikan gambaran koheren dari pandangan para pribadi yang terlibat dalam setiap sekolah--hasil yang paling ingin kita dapatkan dalam hidup--di samping pengamatan nyata dari kehidupan sehari-hari. Kedua, keberanian setiap pengelola sekolah berbagi pandangan, sebuah disiplin kolektif yang menekankan perhatian pada tujuan bersama. Ketiga, pembentukan mental, sebuah disiplin yang ingin menekankan sikap pengembangan kepekaan dan persepsi--baik dalam diri sendiri atau orang sekitarnya.

Keempat, bentuklah kelompok belajar, sebuah disiplin dalam interaksi kelompok. Melalui teknik-teknik seperti dialog dan skillful discussion, sekelompok kecil orang dapat mentransformasikan pikiran kolektif mereka, belajar memobilisasi energi dan kegiatan untuk mencapai tujuan bersama dan mengembangkan kepandaian dan kemampuan mereka lebih besar jika dibanding dengan bila bakat anggota kelompok digabungkan. Kelompok belajar dapat dikembangkan dalam kelas, antara guru dan orangtua murid, antara anggota komunitas, dan dalam kelompok utama yang mengejar perubahan sukses dalam sekolah.

Sementara itu, yang terakhir ialah disiplin kolektif tentang sistem berpikir, yaitu dalam disiplin ini kita belajar memahami ketergantungan dan perubahan. Dengan demikian, kita dapat menghadapi dengan lebih aktif tekanan yang membentuk konsekuensi dari sebuah tindakan. Peralatan dan teknik yang digunakan dalam melatih sistem berpikir ini seperti diagram stock and flow dan berbagai simulasi yang membantu siswa untuk memahami lebih dalam dari apa yang dipelajari.

Siklus kelas efektif
Selain program pengembangan sekolah, para guru harus diingatkan soal pentingnya manajemen pengelolaan kelas yang efektif. Untuk menciptakan mood kelas yang baik, guru perlu memiliki strategi efektif mengajar.Salah satunya dengan pembuatan lesson plan yang menarik. Pada tahap ini guru akan diajak membuat lesson plan melalui tahapan proses belajar mengajar dengan menggunakan beragam model seperti: (1) Enroll, sebagai usaha menumbuhkan minat belajar dan menangkap perhatian siswa untuk mengetahui apa manfaat yang ia pelajari bagi kehidupan.

Di awal kelas, guru dapat bertanya hal-hal yang menimbulkan penasaran dan menegaskan manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari, (2), experience, proses belajar harus menciptakan dan mendatangkan pengalaman yang dapat dialami langsung siswa.
Setelah itu, (3) guru bisa memberikan label learning terhadap setiap materi, setelah para siswa diajak untuk mengetahui dan mengalami langsung pembelajaran dan menemukan hal-hal yang sifatnya faktual/nyata. Dalam label learning, sebaiknya perhatikan empat aspek, seperti fact, feeling (perasaan yang dirasakan saat melakukan sesuatu), finding (temukan hikmah yang bisa dipelajari), dan future (bisa diterapkan pada kehidupan yang akan datang).

Aspek nomor (4) demonstrate, yaitu menyediakan kesempatan kepada siswa menunjukkan mereka tahu (siswa mempraktikkan teori yang sudah diberikan), sambil memberikan beragam pandangan (5) review terhadap mata pelajaran atau materi yang mereka pelajari. Siklus terakhir (6) ialah celebration, yaitu setiap proses belajar harus dirayakan dengan cara memberikan apresiasi terhadap apa yang sudah dipelajari. Pengakuan terhadap sebuah penyelesaian, partisipasi, perolehan keterampilan, dan ilmu pengetahuan layak dirayakan setiap hari. Siklus manajemen kelas yang efektif akan memengaruhi program pengembangan sekolah yang baik, juga berlaku sebaliknya.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya