BOLA pengembalian Andy Murray yang tidak sempurna pada gim ke-10 set kedua final Paris Masters, pekan lalu, memastikan Novak Djokovic kembali menorehkan namanya dalam sejarah dunia tenis. Petenis nomor satu dunia itu kini menjadi satu-satunya petenis di dunia yang berhasil menggenggam enam gelar juara turnamen Masters dalam satu musim kompetisi. Gelar Paris Masters menjadi gelar ke-10 Djokovic tahun ini. Selain enam turnamen Masters yang diraihnya di Indian Wells, Miami (Amerika Serikat), Monte Carlo (Monako), Roma (Italia), Shanghai (Tiongkok), dan Paris (Prancis), Djokovic juga sukses merebut tiga dari empat gelar grand slam, yaitu di Australia, Wimbledon, dan AS.
Bukan hanya itu, kemenangan di Paris juga melanjutkan kemenangan beruntun Djokovic yang didapat sejak AS Terbuka. Dari 13 partai final yang diraih tahun ini, suami dari Jelena dan ayah dari Stefan itu hanya kalah di tiga turnamen, yaitu grand slam Prancis Terbuka, Montreal Masters, dan Cincinnati Masters. Kini, petenis yang sudah mengumpulkan 10 gelar juara grand slam itu tinggal melewati lima pertandingan lagi untuk mengakhiri musim 2015 dengan sempurna. Lima pertandingan itu akan dihadapi oleh Djokovic di gelaran ATP World Tour Finals yang akan berlangsung di O2 Arena, London, Inggris, 15-22 November mendatang.
Sebagai unggulan utama, Djokovic memang punya momentum positif untuk bisa meraih gelar juara turnamen elite itu untuk keempat kalinya secara beruntun sejak 2012. Sebelum berlaga di Paris Masters pun, Djokovic telah mengemukakan dengan tegas bahwa Paris Masters dan ATP World Tour Finals menjadi prioritasnya di akhir tahun ini. "Tapi saya akan mencoba tidak terlalu berambisi untuk itu. Saya akan memainkan permainan saya karena itulah satu-satunya saya bisa meraih kesuksesan di lapangan. Saya akan terus berkembang karena saya tidak suka status quo. Namun, meskipun gagal di London, tahun ini tetap menjadi tahun sempurna untukku," kata petenis asal Serbia tersebut
Di London, petenis yang punya julukan the Joker itu akan bergabung dengan Roger Federer (Swiss), Thomas Berdych (Republik Ceko), dan Kei Nishikori (Jepang) di Grup Stan Simth. Pertandingan fase grup akan memberlakukan sistem round robin (saling bertemu) untuk menentukan dua petenis yang akan berlaga di semifinal. Selain Stan Smith, grup lainnya ialah Illie Nastase yang dihuni Andy Murray (Inggris Raya), Stanislas Wawrinka (Swiss), Rafael Nadal, dan David Ferrer (Spanyol). Pertandingan antara Djokovic dan Nishikori, Minggu (15/11), akan menjadi pembuka ATP World Tour Finals 2015. Sementara itu, Grup Illie Nastase baru akan memulai pertandingan pada Senin (16/11).
Memihak Djokovic Jika melihat peluang tiga penantang Djokovic di fase grup, hanya Federer yang punya peluang untuk bisa mengalahkannya berdasarkan catatan statistik. Keduanya sudah 42 kali bertemu dan sama-sama mengoleksi 21 kemenangan. Namun, di 2015, enam pertemuan keduanya yang selalu terjadi di partai final ATP tur, empat kali dimenangi Djokovic, termasuk di dua final grand slam, Wimbledon dan AS Terbuka. Namun, Federer punya modal lain selain data statistik. Pekan ini, petenis 33 tahun itu untuk ke-11 kalinya menjadi olahragawan terbaik versi ATP yang berhak meraih trofi Stefan Edberg.
Untuk ke-13 kali secara beruntun, pemilik 17 gelar juara grand slam itu menjadi petenis terbaik pilihan para fan. ATP pun punya statistik menarik yang menunjukkan Federer merupakan petenis terbaik dari segi break point, pengembalian bola, dan servis kedua. "Yang tersulit dari turnamen ini ialah saat melangkah untuk menghadapi pertandingan pertama. Ini merupakan turnamen yang hanya diikuti oleh delapan petenis teratas, sehingga butuh momentum yang bagus untuk bisa melewati pertandingan pertama. Untuk lawan selanjutnya di fase grup, kita akan lihat nanti," kata Federer. Berdasarkan data statistik, dua petenis lainnya di fase grup seperti tidak punya peluang untuk bisa menang melawan Djokovic.
Berdych yang tahun ini tiga kali berjumpa dengan Djokovic selalu takluk di tangan petenis Serbia itu. Dari 22 kali pertemuan, Berdych hanya mampu 2 kali menang lawan Djokovic, kemenangan terakhir petenis yang bertinggi badan 196 cm itu terjadi pada 2003 di Roma Masters. Nishikori yang tahun ini baru satu kali berjumpa dengan Djokovic punya masalah sendiri dengan kebugarannya ketimbang catatan pertemuannya yang di tiga pertemuan terakhir selalu gagal meraih kemenangan dari Djokovic. Tahun ini, Nishikori yang merebut tiga gelar juara ATP tur beberapa kali mengundurkan diri dari turnamen akibat cedera. Sejumlah turnamen besar dilewati Nishikori akibat cedera tersebut.
Ia melewatkan grand slam Wimbledon dan Cincinnati Masters. Ia pun absen dari turnamen yang berlangsung di kampung halamannya, Rakuten, Jepang. Di Paris, minggu lalu, Nishikori juga undur diri dari pertandingan melawan Richard Gasquet akibat masalah otot. "Saya sangat menantikan bisa kembali berlaga di London. Menjadi bagian dari delapan petenis terbaik dunia merupakan suatu kehormatan dan saya terus berusaha keras setiap hari menutupi kekurangan saya. Turnamen ini merupakan turnamen pamungkas setiap tahun dan saya selalu ingin kembali merasakannya," kata Nishikori.
Tidak ideal Setelah fase grup, petenis tuan rumah, Andy Murray digadang-gadang menjadi penghalang utama bagi Djokovic untuk bisa kembali meraih trofi juara di O2 Arena. Namun, fokus pemegang medali emas Olimpiade London 2012 itu sedikit terpecah karena juga harus mempersiapkan diri membela Inggris di final Piala Davis menghadapi tuan rumah Belgia di Ghent, Belgia. Repotnya, Flanders Expo yang akan menjadi arena pertandingan final Piala Davis, 27-29 November mendatang, merupakan arena tanah liat yang tidak disukai Murray.
Ia pun harus menjalani sesi latihan yang sibuk selama pekan ini dengan berlatih di lapangan tanah liat di Queen's Club kemudian beralih ke latihan di lapangan keras menyesuaikan dengan O2 Arena. "Saya bisa katakan persiapan saya untuk ke O2 Arena tidaklah ideal. Namun, saya berusaha sebisa mungkin untuk bisa tampil baik di O2 Arena dan final Piala Davis. Sangat penting bagi saya untuk tidak memaksakan diri terlalu berat dan berharap bisa segera mendapatkan momentum ketika berada di lapangan keras," kata Murray. Final Piala Davis 2015 menjadi penting bagi Murray karena itu kali pertama sejak 1978 tim Inggris berhasil melaju ke ajang beregu itu.
Terakhir kali Inggris menikmati gelar juara Piala Davis ialah pada 1936. Karena itulah persiapan menuju Ghent menjadi prioritas utama Murray sebelum berlaga di O2 Arena. Murray bahkan sempat mewacanakan akan absen di ATP World Tour Finals untuk mempersiapkan diri dengan baik. Rencana itu kemudian mendapatkan tentangan keras dari ATP yang menyebutkan seorang petenis yang sudah terpilih berlaga di O2 Arena tidak boleh absen, kecuali mengalami cedera. Jika dilanggar, konsekuensi serius akan dihadapi sang petenis. Setelah memastikan partisipasinya di O2 Arena, Murray kini memikul beban dari publik Inggris Raya yang ingin melihat petenis Inggris pertama yang bisa menjadi juara di turnamen elite penutup musim itu. Prestasi terbaik Murray sejauh ini hanyalah tiga kali menjadi semifinalis yang terakhir dicapai pada 2012.