Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
WAKTU boleh berjalan, seragam boleh berganti, tapi beberapa tempat tak pernah benar-benar melepaskan sosok yang mereka kasihi. Sabtu malam (Minggu, 27/1/2026 WIB) di American Airlines Center menjadi bukti itu. Luka Doncic kembali ke Dallas, kali ini sebagai lawan. Namun sambutan yang ia terima lebih mirip kepulangan seorang anak ke rumah.
Hampir setahun telah berlalu sejak kepindahannya dari Dallas Mavericks ke Los Angeles Lakers mengguncang NBA. Banyak yang memperkirakan kembalinya Doncic ke Texas akan diwarnai kecanggungan, bahkan penolakan. Yang terjadi justru sebaliknya. Di tengah cuaca dingin yang menusuk tulang, ribuan penggemar memenuhi arena, bukan untuk mencemooh, melainkan untuk memberi hormat.
Ketika lampu arena meredup dan nama Doncic diperkenalkan, sorakan menggema dari segala penjuru. Saat ia berdiri di garis lemparan bebas, teriakan “MVP!” menghampar di udara. Penghormatan ini biasanya hanya diperuntukkan bagi pahlawan tuan rumah. Malam itu, warna seragam seolah tak lagi relevan.
“Saya senang bisa kembali ke sini,” ujar Doncic dalam konferensi pers usai pertandingan. “Saya sempat mampir ke rumah, melihat mobil-mobil saya. Tapi tentu saja, ini selalu emosional. Saya sangat menghargai bagaimana mereka bersorak untuk saya saat perkenalan. Ini akan selalu menjadi tempat yang spesial bagi saya.”
Doncic membalas sambutan itu dengan bahasa yang paling ia pahami: permainan. Ia memimpin Lakers meraih kemenangan 116–110 atas Mavericks, dengan catatan impresif 33 poin, 11 assist, dan 8 rebound.
Efisiensi permainannya pun menakutkan, menembus akurasi 57,3%. Setiap step-back jumper, setiap umpan presisi, seolah menjadi pengingat mengapa Dallas pernah menjadikannya pusat perhatian mereka.
Namun malam itu bukan hanya soal angka di papan skor. Ini tentang hubungan yang terbangun selama bertahun-tahun, sebuah hubungan yang tak putus oleh sebuah transfer pemain.
Bagi Doncic, Dallas bukan sekadar persinggahan karier. Di kota inilah ia tumbuh dari remaja berbakat menjadi salah satu wajah NBA. Ia menghabiskan tujuh tahun bersama Mavericks, melewati kemenangan, kegagalan, dan ekspektasi yang terus meningkat.
“Saya berada di sini selama tujuh tahun, melewati banyak hal, baik dan buruk,” kenangnya. “Saat saya pergi ke Madrid pada usia 13 tahun, setiap kali kembali ke Slovenia, ada rasa tenang. Itu sebabnya Dallas akan selalu menjadi tempat yang spesial bagi saya.”
Perasaan itu rupanya juga dirasakan penggemar. Meski sang bintang kini mengenakan ungu dan emas, mereka memilih merayakan apa yang pernah ada, bukan meratapi apa yang telah pergi.
“Itu sangat spesial. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi sebelumnya, karena saya tahu bagaimana kota ini saat cuaca sangat buruk, tapi melihat begitu banyak orang hadir sungguh berarti bagi saya,” tambahnya.
Kini, Doncic melangkah bersama Lakers, memikul ambisi juara dan tekanan kota besar. Namun Dallas tetap menjadi bab penting dalam kisahnya, bab yang ditutup bukan dengan amarah atau penyesalan, melainkan dengan rasa saling menghargai.
Sabtu malam itu, Doncic datang sebagai lawan. Tapi saat ia melangkah keluar dari American Airlines Center, satu hal terasa jelas: di Dallas, ia tidak pernah benar-benar pergi. Sekali lagi, ia pulang untuk diingatkan bahwa beberapa cinta seperti permainan indah Luka Doncic tak pernah padam.
| Menit Bermain | 36,37 |
|---|---|
| Poin | 33,43 (57,26% FG) |
| Rebound | 7,8 |
| Assist | 8,66 |
| Steal | 1,6 |
| Block | 0,51 |
| Turnover | 4,31 |
Oklahoma City Thunder akhirnya berhasil memutus kutukan saat berhadapan dengan San Antonio Spurs dalam lanjutan musim reguler NBA, Rabu (14/1).
LEBRON James kembali dari cedera dan langsung membantu Los Angeles Lakers mengalahkan Utah Jazz 140 126 pada laga NBA, Rabu (19/11).
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved