Headline

Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.

Olahraga Tapi Tidak Ada Hasil? Mungkin Stres Penyebabnya, Bukan Kurang Latihan

Thalatie K Yani
19/1/2026 10:56
Olahraga Tapi Tidak Ada Hasil? Mungkin Stres Penyebabnya, Bukan Kurang Latihan
Ilustrasi(freepik)

BANYAK orang percaya kunci keberhasilan dalam kebugaran adalah latihan lebih keras, konsisten, dan mengabaikan rasa sakit. Namun, bagi sebagian orang, masalah utamanya bukanlah kurangnya usaha, melainkan stres.

Stres kronis membuat sistem saraf terjebak dalam kondisi fight-or-flight (lawan atau lari). Kondisi ini secara diam-diam menyabotase kemajuan fisik bahkan sebelum latihan dimulai. Otot tetap tegang, pernapasan menjadi dangkal, dan pemulihan melambat. Alih-alih merasa berenergi, olahraga justru terasa berat dan melelahkan.

Bagaimana Stres Menyabotase Tubuh

Sistem saraf kita bekerja menyeimbangkan dua cabang utama. 

  • Simpatik: merespons ancaman dengan meningkatkan ketegangan otot dan detak jantung) 
  • Parasimpatik: mendukung pemulihan dan pencernaan).

Dalam kondisi stres kronis, tubuh tetap berada pada mode simpatik meskipun tidak ada bahaya nyata. Hal ini mengubah mekanika gerakan, membatasi mobilitas, dan meningkatkan risiko cedera. Hormon stres yang tinggi juga mengganggu kualitas tidur dan perbaikan jaringan tubuh.

Inilah alasan mengapa dua orang bisa menjalani program latihan yang sama namun mendapatkan hasil berbeda. Tubuh yang satu beradaptasi menjadi kuat, sementara yang lain justru merasa "hancur". Perbedaannya bukan pada disiplin, melainkan pada fungsi sistem saraf.

Regulasi Dulu, Latihan Kemudian

Solusinya bukan memaksa latihan lebih keras (overtraining), melainkan mengatur fisiologi tubuh agar mendukung tujuan kebugaran Anda. Berikut adalah beberapa strategi untuk menyeimbangkan kembali sistem saraf:

  1. Gunakan Pernapasan untuk Menenangkan Diri Napas dalam dengan embusan napas yang lebih panjang adalah cara tercepat mengaktifkan sistem saraf parasimpatis. Cobalah lakukan enam tarikan napas lambat saat bangun pagi untuk menetapkan garis dasar yang tenang bagi hari Anda.
  2. Mobilitas untuk Sinyal Keamanan Latihan mobilitas bukan sekadar meningkatkan rentang gerak, tetapi memberikan sinyal "aman" pada saraf. Lakukan gerakan lembut seperti putaran tulang belakang, pembuka dada, dan peregangan samping sekali atau dua kali sehari. Hindari peregangan ekstrem yang justru memicu proteksi sistem saraf.
  3. Prioritaskan Pemulihan Setiap Hari Pemulihan tidak hanya terjadi setelah latihan, tapi di setiap celah stres sepanjang hari. "Jangan mencoba memaksakan diri melewati kemerosotan di sore hari. Jika Anda berada di lingkungan yang memungkinkan untuk tidur siang, dengarkan tubuh Anda dan beristirahatlah," demikian saran pakar dalam studi ini. Tidur siang singkat terbukti efektif menurunkan stres dan memulihkan energi.


Kemajuan kebugaran tidak datang dari memaksakan sistem tubuh yang sedang stres, melainkan dari menciptakan kondisi yang memungkinkan perubahan itu terjadi. Ketika tubuh merasa aman, upaya latihan Anda baru akan membuahkan hasil yang maksimal. (CNN/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik