BIARPET alias pemadaman bergilir kerap terjadi di Kalimantan Ti mur (Kaltim). Warga di Kaltim mengeluhkan seringnya listrik ma ti. Bahkan kerap terjadi pemadaman total (black out) yang mengganggu aktivitas ekonomi di semua daerah Kaltim. "Tidak terhitung berapa kali. Sampai alat-alat elektroniknya rusak semua," keluh Arul yang mengaku tidak terhitung lagi berapa sering mati listrik di daerahnya. Selain pemadaman, masih ada sejumlah desa yang belum pernah menikmati listrik. Banyak warga desa hingga kini belum pernah melihat cahaya listrik. Padahal, Kaltim merupakan daerah peng hasil sumber daya alam yang melimpah, mulai batu bara, minyak, hingga gas. Kendati demikian, sumber energi tak terba rukan yang dimiliki Kaltim lambat laun akan habis setelah dieksploitasi secara masif untuk konsumsi kebutuhan masyarakat dunia.
Untuk itu, Pemprov Kaltim mempersiapkan energi murah untuk menghadapi masa keemasan pascaenergi fosil. Gubernur Kalimantan Timur Awang Faroek Ishak, ketika ditemui di Samarinda, beberapa waktu lalu mengatakan pemadaman listrik merupakan alah satu fakta persoalan kekurangan kebutuhan energi yang terjadi di daerah, termasuk Kalimantan Timur. “Untuk itu, saat ini Kaltim berupaya mengubah struktur ekonomi yang selama ini memiliki ketergantungan dengan energi berbasis fosil dengan mencari alternatif ener gi baru terbarukan (EBT). Salah satunya ialah nuklir yang bisa menjadi pengganti energi minyak bumi, gas, dan batu bara yang mahal dan hampir habis,†ujar Awang Faroek. Wilayah potensial Menurutnya, pola pembangunan ekonomi jangka panjang ini sangat tepat, khususnya bagi Kaltim yang mempunyai potensi pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN). Di samping itu, Kaltim juga memiliki potensi bahan baku nuklir yang apat dimanfaatkan untuk kebutuhan non energi, misalnya untuk pertanian, kesehatan, peternakan, sterilisasi produk farmasi dan kedokteran, dan pengawetan bahan makanan. Apalagi, Malaysia dan Vietnam sekarang sedang menyelesaikan konstruksi PLTN. Negeri serumpun bahkan menargetkan PLTN beroperasi pada 2021. Hal itu memerlukan kajian yang lebih dalam, yang dapat dilakukan Balitbangda (Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah) guna mengetahui potensi kualitas dan bahan baku nuklir tersebut di Kaltim. Pada 2007, pemprov telah bekerja sama dengan Batan melakukan survei tapak untuk pengembangan kawasan industri nuklir, tepatnya di kawasan Kariangau-Balikpapan dan Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU).
"Ada persoalan yang dihadapi ketika me munculkan kata nuklir. Sering kali dianggap sebagai momok dan sulit membayangkan bagaimana sesungguhnya nuklir memberikan manfaat untuk pembangunan dan mendukung kecukupan energi," ungkap gubernur. Pemerintah telah menegaskan pemanfaatan energi nuklir bukan untuk persenjataan, melainkan untuk industri pangan, per tanian, kedokteran, hingga pembangkit listrik. Di sektor pertanian, energi nuklir digunakan untuk mengembangkan varietas padi sidenuk dan bestari yang tingkat produktivitasnya mencapai 8 ton-9 ton gabah kering giling per hektare. Namun, di Kaltim, pemprov lebih fokus pada pembangunan PLTN karena sering terjadi krisis listrik. Pemprov Kaltim telah melakukan MoU dengan Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) untuk melakukan studi kelayakan dan memberikan rekomendasi pembangunan PLTN. Dari hasil kajian terpilih Kabupaten Berau tepatnya di Kecamatan Talisayan. Daerah tersebut merupakan usul Batan. Apalagi, Talisayan direncanakan akan menjadi daerah berkembang dan bagian dari Berau pesisir. Lokasinya dekat dengan laut.
"Di daerah tersebut masih ada lahan luas. Saya yakin sangat cocok dibangun PLTN di sana. Pemprov siap mengalokasikan anggaran termasuk untuk pembebasan lahan. Sayatelah menginstruksikan kepada Balitbangda Kaltim untuk merealisasikan ini ke Batan," tegas Awang. Rencana pembangunan PLTN pun sudah disampaikan ke Presiden Joko Widodo saat bertemu di Istana Negara. Menurutnya, presiden mendukung rencana itu dan meminta segera dilakukan koordinasi dengan Bappenas, Kemenristek Dikti, Batan, dan PLN. Dalam pembangunan PLTN ini, Kaltim selain mengandalkan APBD dan APBN, tetap harus ada dukungan swasta. Terlebih dari letak geografi snya jauh lebih aman karena jauh dari gempa bumi. "Meski ada yang menghadang, saya tetap lanjut karena pusat mendukung saya," tegasnya. Pada kesempatan berbeda, Kepala Balitbangda Kaltim Dwi Nugroho Hidayanto menambahkan Kaltim merupakan daerah potensial pembangunan PLTN. Berdasarkan survei Batan pada 2007-2008, Kaltim daerah paling layak untuk pembangunan PLTN. Gelombang seismik atau pergerakan kerak bumi di Kaltim tergolong rendah.
Dalam kurun seratus tahun hanya terjadi beberapa kali gempa dengan magnitudo berkisar 3,2-5,4 SR. Meski aman, informasi menakutkan tentang nuklir jauh lebih seru dan populer di masyarakat. "Tapi kita mesti sadar bahwa cepat atau lambat energi fosil seperti batu bara, minyak, dan gas akan habis. Kita per lu nuklir untuk masa depan Kaltim," ujarnya. Dia menjelaskan pembangunan PLTN yang akan diterapkan di Kaltim sudah memenuhi standar International Atomic Energy Agency (IAEA). Standar itu berlaku di seluruh negara yang menggunakan reaktor nuklir sebagai pembangkit listrik. Seluruh keamanan sangat ketat. Pembangunan PLTN akan memakai teknologi paling mutakhir. Jika pembangunan PLTN dimulai pada 2017 di Kaltim, pengoperasiannya baru bisa dilakukan pada 2027. Bahkan Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) secarakhusus mengawasi segala proses perizinan, konstruksi, dan persiapan PLTN. "Sekarang tinggal urusan politik. Dapat izin dari pemerintah pusat atau tidak," tambah Dwi, yang juga Guru Besar Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman itu.