PARA pemilik kios pupuk di Kabupaten Subang, Jawa Barat, mengeluhkan biaya pengiriman pupuk dari distributor. Biaya pengiriman yang mereka tanggung itu memangkas pendapatkan sebagai penjual. Meningkatnya jumlah permintaan pupuk dari petani menjelang masa tanam memang disambut gembira para pemilik kios pupuk. Para pemilik kios pun harus menambah stok untuk memenuhi kebutuhan pupuk. Salah satunya Surahman, pemilik kios pupuk di Ciasem, Subang, Jabar. Untuk memenuhi permintaan para petani, ia menyediakan stok sekitar 4 ton dalam sepekan, meningkat dari sebelumnya yang hanya 2 ton. "Permintaan melonjak dua kali lipat," jelas Surahman, kemarin. Harga pupuk berada pada kisaran Rp1.800/kg untuk jenis urea dan Rp2.300/kg untuk jenis ponska. "Namun, kami dibebani biaya pengiriman dari distributor, sedangkan harga pupuk tidak boleh naik. Akibatnya kami yang terbebani," ungkap Surahman, yang berharap ada solusi untuk mengurangi beban mereka.
Di bagian lain, distributor pupuk di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, diminta untuk mematuhi aturan yang berlaku. Pendistribusian pupuk yang tidak mematuhi aturan sangat merugikan petani sebagai konsumen. Hal itu sesuai dengan prinsip 6 (enam) tepat, yakni tepat waktu, tepat jumlah, tepat mutu, tepat jenis, tepat harga, dan tepat tempat. Asisten II Sekretaris Daerah Kabupaten Brebes Mohammad Iqbal, kemarin, menyebut para distributor pupuk dan pengecer perlu dibina untuk menumbuhkan kesadaran mereka bahwa dalam mendistribusikan pupuk tetap harus mematuhi peraturan perundang-undangan. "Mengingat pupuk yang diedarkan merupakan pupuk bersubsidi yang ditujukan untuk petani, agar baik petani maupun pedagang sama-sama memperoleh kesejahteraan," ujar Iqbal, di Gedung Korpri Brebes, kemarin.
Iqbal menegaskan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Brebes terus berkomitmen untuk berupaya menyejahterakan petani, mengingat mayoritas masyarakat Brebes ialah petani. "Sektor pertanian dapat menyumbang hingga 51%-52% jika dibandingkan dengan sektor yang lainnya di Kabupaten Brebes," ucap Iqbal. Sementara itu, sejak sepekan terakhir harga beras dari penggilingan padi di Temanggung, Jateng, mulai turun Rp200-Rp500 per kilogram. Turunnya harga beras mengikuti harga gabah yang juga mulai turun. Muntamimah, 54, seorang pengelola usaha penggilingan padi di Kelurahan Jurang, Kecamatan Temanggung, mengatakan, semula harga beras kualitas medium dijual Rp10 ribu/kg. Namun, sejak sepekan ini harga beras turun menjadi Rp9.800/kg jika dijual eceran dan Rp9.500/kg jika dijual dalam jumlah besar.