Headline
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Kumpulan Berita DPR RI
BADAN Penanggulangan Bencana Daerah Halmahera Barat, Maluku Utara, menetapkan status tanggap darurat bencana gempa hingga 6 Desember 2015, sejak gempa 4,8 pada skala Richter mengguncang wilayah itu pada Jumat (20/11).
Akibat gempa tersebut, sedikitnya 371 rumah warga dan dua sekolah rusak, serta ribuan warga mengungsi ke 20 titik lokasi pengungsian yang disediakan pemerintah setempat.
Banyaknya warga mengungsi dilaporkan karena mereka ketakutan berada di dalam rumah akibat guncangan yang berlangsung dan terus dirasakan warga.
Mantan Kepala Badan Geologi Surono mengatakan daerah Halmahera memang sudah sering mengalami gempa.
Hal itu disebabkan lempeng tektonik yang kompleks di daerah itu.
"Gempa di sana cukup sering karena bila dilihat dari sesar laut di Maluku, pusat gempanya hampir tegak lurus di bawah laut. Sampai sekarang memang sering terjadi gempa. Mengakibatkan rumah yang konstruksinya tidak bagus menjadi retak," ujar Surono.
Namun, menurut pria yang akrab disapa Mbah Rono itu, gunung api di Halmahera memang tidak ada yang normal, seperti Gamalama, Gamkonora, dan Dukono.
"Masyarakat juga sudah biasa dengan letupan kecil dan hujan abu."
Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono meyakini bahwa gempa yang terjadi di Halmahera Barat merupakan gempa tipe swarm, yang kekuatannya relatif kecil.
"Tipe gempa ini unik karena tidak memiliki gempa utama (mainshocks), sehingga kita sulit mengenali mana gempa pendahuluan (foreshocks) dan gempa susulannya (aftershocks). Kekuatan/magnitudo yang terjadi hampir seragam dengan kekuatan kurang dari 5,0 pada skala Richter," ujarnya saat dihubungi Media Indonesia, kemarin.
Energi gempa yang sekarang memang hampir seragam dengan kekuatan kurang dari 5,0 pada skala Richter.
Paling tidak, kata dia, kalau gunungnya cukup kritis dan misalnya energinya besar, mungkin harusnya gunung sudah meletus.
BMKG memantau sudah ada tren menurun baik kekuatan dan frekuensi kejadian.
Daryono menambahkan, gempa swarm, bagi ahli gempa, merupakan fenomena alam biasa.
Namun, gempa swarm jarang terjadi dan tidak dipahami masyarakat, sehingga masyarakat khawatir.
"Sebaiknya masyarakat tenang dan beraktivitas seperti biasa. Nanti akan hilang sendiri seiring peluruhan energi tegangan batuan yang tersimpan."
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved