DUA puluh empat jam sebelum KM Kelud berangkat berlayar, Jumat (20/11) lalu, call center PT Pelni mendadak kebanjiran telepon.
Usut punya usut, focus group discussion (FGD) Roadmap BUMN 2015-2019 yang akan diadakan di atas KM Kelud sembari berlayar ke Tanjung Perak Semarang dan Kepulauan Karimun itu membuat para undangan agak was-was.
"Banyak yang belum pernah naik kapal," ujar Direktur Utama Pelni Elfien Goentoro saat berbincang dengan para peserta pelayaran, termasuk Menteri BUMN Rini Soemarno, Jumat petang.
Ia merujuk pada seratus lebih CEO perusahaan pelat merah yang menjadi 'tamu' Pelni dalam kesempatan FGD tersebut.
Menurutnya, call center Pelni menerima tidak kurang dari 230 telepon dari berbagai BUMN lain, sehari sebelum berangkat. Pertanyaan mereka seputar prosedur perjalanan dengan moda transportasi laut itu.
Ada juga yang menanyakan ketersediaan obat-obatan yang dibutuhkan andai ada sesuatu di perjalanan. Kekhawatiran atas perjalanan laut juga sempat dirasakan Rini yang memang belum pernah berlayar dengan kapal besar. Apalagi, Sekretaris Menteri BUMN Imam A Putro sempat mewanti-wanti ketinggian ombak bisa mencapai 6 meter. Namun, berbekal teori 'kapal besar memecah ombak' dan obat anti-mabuk antimo, Rini berkukuh.
Menurutnya, FGD di pelayaran dari Jakarta ke Karimun tersebut akan jadi peluang untuk 'memenjarakan' para bos-bos BUMN. "Kenapa diadakan di kapal? Supaya enggak bisa lari ke mana-mana, kita duduk sama-sama sampai jadi suka antar-CEO, sampai selesai," ucap anak dari Soemarno, Gubernur Bank Indonesia dan Menteri Keuangan era Orde Baru itu.
Kesempatan itu ingin dimanfaatkan Rini untuk menghubungkan semua CEO BUMN. Dari skala besar sampai kecil. Dari yang belum kenal menjadi kenal. Dari yang berseteru menjadi akur.
Maka, ditantangnya 119 direktur utama yang hadir untuk bergadang, membahas dan menuntaskan persoalan yang dihadapi perseroan. "Banyak persoalan bisa ditempuh dengan sinergi," kata Rini.
Sesaat setelah menaiki KM Kelud, mantan menteri perindustrian dan perdagangan di Kabinet Gotong Royong itu meninjau fasilitas kapal berkapasitas 2.000 orang tersebut.
Beroperasi sejak 1998, kapal yang biasanya melayari rute Jakarta-Kepulauan Riau-Sumatra Utara itu merupakan salah satu kapal Pelni yang kemudian menjalani special docking. November 2014, digelar soft launching untuk kapal yang kini dilengkapi fasilitas playground, gym, sinema, dan berbagai fasilitas lain ala kapal pesiar.