RIBUAN petani di sejumlah kawasan di sepanjang Daerah Aliran Sangai (DAS) Bengawan Solo di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, mulai mengolah lahan untuk menanam padi lebih awal. Upaya itu dilakukan agar padi tanaman petani terselamatkan dari rendaman banjir. Terlebih, sejumlah kawasan tersebut menjadi daerah langganan banjir luapan Sungai Bengawan Solo. "Kita sengaja menanam padi lebih awal di musim ini. Jika terlambat tanam, padi menjelang panen selalu busuk terendam banjir," terang Kamsiyo, petani di Kecamatan Plumpang, kemarin.
Wilayah lain yang juga sudah menanam padi, yakni Kecamatan Parengan, Soko, Rengel, dan Widang. Para petani sebagian mengolah lahan dan sebagian di antaranya sudah menanam padi. Hal senada disampaikan Khudori, petani di Kecamatan Rengel. Menurut dia, sekitar 700 ha lahan persawahan di delapan desa telah ditanami padi sejak awal penghujan, dua pekan lalu. "Kita memompa air dari Bengawan Solo untuk mengolah lahan. Harapannya, agar saat banjir nanti, padi selesai dipanen," ungkap Khudori.
Tahun lalu, sedikitnya 1.100 ha lahan tanaman padi dan areal persawahan terendam banjir luapan Sungai Bengawan Solo. Kerugian petani mencapai Rp4 miliar. Di bagian lain, petani di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, mengharapkan bantuan pupuk dan benih diberikan secara merata. Hal tersebut diungkapkan Wakil Ketua Himpunan Kelompok Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Cirebon, Tasrip Abu Bakar, kemarin.
"Tidak semua petani mendapatkan bantuan benih dan pupuk menjelang musim tanam rendeng ini," katanya. Petani yang mendapatkan bantuan menjelang musim tanam rendeng tersebut hanya petani yang desanya mendapatkan proyek normalisasi irigasi desa. Irigasi desa sendiri masuk ke irigasi tersier. Setelah mendapatkan kucuran dana sebesar Rp100 juta untuk normalisasi irigasi sungai tersebut, petani yang ada di desa itu pun kembali dikucuri bantuan untuk benih dan pupuk.
"Untuk pupuk mendapatkan bantuan 100 kg/hektare dan benih mendapatkan bantuan 25 kg/hektare," kata Tasrip. Pupuk tersebut terdiri dari NPK sebanyak 50 kg dan urea sebanyak 50 kg. Di Subang, Jawa Barat, petani berharap bantuan bibit, pupuk, serta obat-obatan. Pasalnya, petani masih terbebani dengan tingginya biaya produksi mulai dari sewa traktor, biaya buruh, dan tingginya harga obat-obatan serta pupuk. Meski dirasakan ada adanya kenaikan harga gabah, itu masih belum sebanding dengan tingginya biaya produksi.