PADA era sebelum 1970-an, Batam adalah sebuah pulau kecil, sejajar dengan Rempang dan Galang. Posisinya yang sangat strategis karena berada di jalur pelayaran internasional serta berdekatan dengan Singapura dan Malaysia membuat pemerintah Indonesia serius menata daerah ini. Empat puluh empat tahun lalu, Otorita Batam diben tuk pemerintah untuk menata Batam menjadi kawasan industri. Kemajuan dan tingginya investasi membuat pemerintah menetapkan Batam sebagai kawasan perdagangan bebas alias free trade zone (FTZ) sejak 2007, seiring dengan perubahan nama Otorita Batam menjadi Badan Pengusahaan (BP) Batam. Dari sebuah pulau yang tidak dikenal, Batam kini menjelma menjadi kawasan industri. Tidak kurang dari 178 ribu pekerja mengais rezeki di kota ini.
Geliat perekonomian itu dilirik negara asing. Sejumlah negara mengirim utusan untuk datang dan belajar mengelola kawasan perdagangan bebas. "Ini menandakan apa yang telah dibuat 44 tahun lalu sebagai masterplan pembangunan masih bisa diterapkan di era globalisasi ini," papar Ketua Badan Pengusahaan Batam Mustofa Wijaya, akhir pekan lalu. Yang terkini ialah kedatangan pejabat dari Afrika Selatan dan Myanmar. Yang secara khusus, mereka mendalami pemahaman tentang pengelolaan FTZ. "Mereka mendapat informasi bahwa sebelum banyak negara menetapkan FTZ, Batam sudah lebih dulu mengembangkannya dan sukses," lanjut Mustofa. Direktur Promosi dan Humas BP Batam Purnomo Andiantono sepakat bahwa fungsi kawasan industri menjadi sentral sebagai motor penggerak perekonomian wilayah, yang tujuan besarnya ialah peningkatan kesejahteraan masyarakat. "Perekonomian Batam terus tumbuh. Tahun ini, kami optimistis jumlah pekerja akan bertambah 20 ribu orang." Sampai November, berdasarkan izin prinsip yang diajukan, ada 203 proyek baru di Batam dengan nilai modal ditanam senilai US$233 juta. Proyek itu akan menyerap sekitar 8.039 pekerja.
Proyek baru Nilai investasi di Batam pada 2012 meningkat ta jam menjadi US$374.956 dari tahun sebelumnya US$75.100. Namun, gonjang-ganjing perekonomian glo bal membuat nilai investasi pada 2013 menurun menjadi US$285.926 dan turun lagi pada 2014 menjadi US$285.183. "Tidak kami mungkiri memang ada penurunan, tetapi hal ini wajar. Pada dasarnya, iklim investasi di Batam semakin kukuh karena tidak sedikit investor asing yang datang untuk melihat langsung kondisi kota ini," papar Mustofa Wijaya. Perlambatan ekonomi tidak membuat BP Batam menye rah. Mereka terus melakukan pembangunan dan pengembangan fasilitas pendukung investasi. Tujuannya agar investasi tetap berjalan sesuai dengan rencana induk yang telah dibuat tim-tim ahli di BP Batam. Pengembangan dan pembangunan yang dilakukan ialah dengan pengembangan dermaga, pembangunan pelabuhan transshipment peti kemas Tanjung Sauh dengan investasi US$805 juta, pembangunan koridor jalan tol di Batam senilai Rp1,6 triliun, pengembangan kereta rel Batam sepanjang 60 kilometer guna meng antisipasi kemacetan lalu lintas senilai Rp1,15 triliun.
Pembangunan lain ialah pengembangan Aero Space dan Maintenance Repair and Overhoull (MRO) Bandara Hang Nadim Batam seluas 120 ribu meter persegi. MRO itu dapat menampung Boeing 747 guna melakukan perbaikan. Proyek berikutnya ialah penambahan waduk untuk kebutuhan masyarakat Batam dengan dana sekitar US$55 juta. Rangkul Jepang Optimisme para pemimpin Badan Pengusahaan Ba tam juga membubung kala pemerintah pusat menggulirkan kebijakan pembebasan pajak penghasilan (PPh) badan sampai 20 tahun. Pembebasan PPh tersebut menjadi insentif tambahan yang ditawarkan BP Batam bagi calon investor. Insentif yang diterima itu tentu bukan sedikit. Karena setiap tahun, Batam menyetor lebih dari Rp1 triliun PPh ke pusat. Insentif baru itu juga di luar insentif pembebasan pajak pertambahan nilai barang mewah, yang berlaku selama ini di kawasan pelabuhan dan perdagangan bebas Batam. "Insentif bagi dunia usaha adalah hal yang penting. Kebijakan pemerintah yang propengusaha menjadikan para pengusaha proaktif mengajukan insentif," lanjut Mustofa. Cuma, Batam tidak boleh hanya mengandalkan insentif sebagai keunggulan kawasan investasi. Untuk itu, BP Batam juga melakukan jemput bola dengan mengunjungi negara-negara yang potensial, salah satunya Jepang. "Hubungan pengusaha Jepang dan Batam sudah cukup lama terjalin," papar Deputi Pelayanan Umum BP Batam Fitrah Kamaruddin.
Dia menuturkan Jepang merupakan negara yang mempunyai tempat tersendiri bagi Batam. Karena itu, salah satu kawasan bisnis di Batam dinamai Nagoya. Di daerah tersebut, orang juga sangat mengenal Nisso Iwai, seorang konsultan yang membuat masterplan pertama Batam. Lebih dari itu, Jepang merupakan negara kedua terbesar yang menginvestasikan dananya di Kota Batam. Investasi di Batam selama 2014-2015 didominasi industri logam dasar, barang logam, mesin, dan elektronik. Ada sebanyak 20 perusahaan Jepang yang datang dengan nilai investasi sebesar US$168,196 juta. Ada sejumlah nama besar dalam deretan itu, di antaranya Epson, Panasonic, NOC, TEC, dan Yokohama. "Kami optimistis dengan membangun pabrik di Batam, kinerja perusahaan terus berkembang. Ke depan, Batam bisa berkembang menjadi tujuan investasi dan daerah industri terbesar di Asia," ungkap Manager Oil & Gas Yokohama, Tamaki Sama.
Belum lama ini, BP Batam berpromosi ke 'Negeri Sakura'. Didampingi Konsul Jenderal Kedutaan RI di Osaka, Wisnu Edi Pratigno, tim berdiskusi dengan pengusaha asal Fukuoka dan Hiroshima yang berminat berinvestasi dalam bidang agrobisnis, hortikultura, dan perkapalan. "Dengan melihat besarnya industri di kedua daerah itu, kami yakin nilai investasi yang akan ditanamkan di Batam tidak sedikit. Karena itu, penting untuk selalu melakukan pertemuan dan memberi penjelasan yang bermanfaat bagi kedua pihak," tambah Fitrah. (N-3)