Rencana kebutuhan pupuk bersubsidi sektor pertanian telah disampaikan ke provinsi, Juli lalu. AJUAN kebutuhan pupuk bersubsidi sektor pertanian di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, naik pada 2016. Di sisi lain, penyerapan pupuk tahun ini sampai Oktober rata-rata di atas 75% dari alokasi 2015. Untuk kebutuhan subsektor tanaman pangan/hortikultura dan perkebunan, Dinas Pertanian Klaten mengajukan pupuk urea sebanyak 29.446 ton, SP-36 4.899 ton, ZA 14.140 ton, NPK 20.028 ton, dan organik 10.737 ton. Ajuan kebutuhan pupuk tersebut, kata Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura Joko Siswanto, naik dari alokasi 2015. Tahun ini alokasi urea 27.800 ton, SP-36 2.150 ton, ZA 11.350 ton, NPK 13.200 ton, dan organik 8.000 ton.
"Rencana kebutuhan pupuk bersubsidi itu telah disampaikan ke provinsi, Juli lalu. Ajuan kebutuhan pupuk berdasarkan rencana definitif kebutuhan kelompok tani (RDKK)," jelasnya, kemarin. Realisasi penyaluran pupuk bersubsidi tahun ini sekitar 75% dari alokasi. Hingga Oktober, urea 21.687 ton (78%), SP-36 1.719 ton (80%), ZA 8.798 ton (78%), NPK 10.429 ton (79%), dan organik 5.748 ton (72%). "Alokasi pupuk bersubsidi tahun ini masih dapat mencukupi kebutuhan petani sampai Desember," ujar Joko.
Di Jawa Timur, persediaan pupuk jenis urea di Kabupaten Pasuruan hingga saat ini juga masih aman. Pasalnya, dari kuota pupuk sebanyak 35 ribu ton, masih tersisa 30%. "Kami jamin tidak akan kekurangan untuk mengawali musim tanam," kata Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pasuruan, Ihwan, kemarin. Dia menyebutkan harga pupuk bersubsidi dibanderol sebesar Rp1.800/kilogram (kg) atau sebesar Rp90 ribu setiap sak kemasan 50 kg. Menurut Ihwan, jika harga Rp90 ribu setiap saknya masih ditambah ongkos transpor, harga maksimal ideal tidak lebih dari Rp100 ribu/sak. "Makanya tidak mungkin terjadi kelangkaan. Apalagi jika harganya melambung hingga Rp120 ribu setiap saknya. Kami yakin ada pihak yang sengaja mengeruhkan suasana," ungkapnya.
Mengutang Di Jawa Barat, ketersediaan pupuk menjelang musim tanam dirasakan para petani di Desa Wangunreja, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi, juga tidak terlalu sulit. Apalagi pola pembayaran dilakukan dengan cara mengutang kepada para agen. "Saat ini sedang membajak sawah sebelum nanti lahan sawah ditanam padi. Kalau untuk pupuk, tidak terlalu sulit. Hingga saat ini masih cukup lancar," kata Yosep Taryawan, 26, petani penggarap di Kampung Babakan Bandung RT 01/06, Desa Wangunreja, Kecamatan Nyalindung, kemarin.
Di sisi lain, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Indramayu, Firman Muntako, juga menegaskan para petani tidak perlu khawatir dengan ketersediaan pupuk. Saat ini sudah ada penambahan pupuk dari sebelumnya hanya 76 ribu ton menjadi 80 ribu ton.