BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengatakan Indonesia sudah memasuki masa peralihan musim kemarau ke musim hujan. Masyarakat dan pemerintah daerah diimbau bersiap menghadapi bencana, terutama pada saat puncak musim hujan, Februari 2016, yang berpotensi memicu banjir dan tanah longsor. Kepala BMKG Andi Eka Sakya menjelaskan, saat ini telah terjadi peningkatan pasokan uap air di wilayah Indonesia sehingga menimbulkan potensi hujan dengan intensitas beragam.
Bahkan, beberapa wilayah di Sumatra dan Papua sudah memasuki musim hujan seperti di Aceh bagian utara dan tengah, sebagian besar Sumatra Utara, Riau bagian barat, serta Jayapura. "Indonesia secara keseluruhan sudah mulai transisi. Ada perubahan awan yang sangat aktif. Karena itu, kejadian hujan yang belum teratur ini juga harus diwaspadai," ujar Andi di Jakarta, kemarin. Andi meminta warga dan pemerintah daerah segera menyiapkan langkah antisipasi menghadapi bencana.
"Kewaspadaan penting untuk transportasi darat dan laut.Intensitas hujan membawa dampak banjir dan longsor." Di sisi lain, di saat Februari nanti wilayah Indonesia umumnya memasuki puncak musim hujan, sebagian Provinsi Riau berbeda. Kepala Pusat Iklim, Agroklimat, dan Iklim Maritim BMKG Nurhayati menerangkan, pada Januari-Februari, wilayah itu justru memasuki musim kemarau yang bisa memicu kebakaran lahan. Apalagi, El Nino bakal berlangsung hingga April.
Pemerintah daerah, termasuk Pemprov DKI Jakarta, pun bersiap menghadapi bencana. Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama yakin genangan akan cepat surut karena sungai dan saluran sudah dikeruk. "Kami juga menyiapkan pompa-pompa. Jika air tidak bisa mengalir, bisa langsung dibuang dengan cara dipompa," tuturnya. Pemprov Jawa Timur bahkan tidak memberikan batasan anggaran untuk menghadapi bencana.
"Istilah kita anggaran tidak terbatas, baik di dinas maupun BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah). Begitu dibutuhkan, bisa diambil," jelas Kepala BPBD Jatim Sudharmawan. Kesiapan menghadapi bencana juga ditunjukkan Pemkab Kuningan, Jawa Barat, dengan menempatkan relawan di daerah rawan dan menyiapkan logistik. "Kabupaten Kuningan bagian selatan saat ini dipetakan sebagai daerah yang rawan longsor dan pergerakan tanah," kata Kepala Pelaksana BPBD Kuningan, Agus Mauludin.
Mulai melanda Sejumlah daerah sudah dilanda bencana seperti di Kota Padang, Sumatra Barat. Kepala BPBD Padang Dedi Henidal mengatakan banjir dan longsor menerjang Batuang Taba yang merusak 12 rumah dan memaksa 18 keluarga dievakuasi, Bukit Karang Putih, kawasan Bukit Karang Putih, dan Lubuk Paraku. Bahkan, di Kabupaten Tasikmalaya, Jabar, telah terjadi sembilan kali tanah longsor. Namun, tidak semua daerah serius menghadapi bencana.
Kota Cimahi, Jawa Barat, sampai sekarang bahkan belum punya BPBD seperti halnya Kota Bandung, Kota Bekasi, Kabupaten Karawang, Kabupaten Subang, dan Cirebon. Dari Jakarta, Dirjen Bina Keuangan Daerah Kemendagri Reydonnyzar Moenek mengatakan alokasi dana tanggap bencana masih minim, yakni rata-rata Rp5 miliar karena kapasitas fiskal daerah terbatas. "Dana tanggap bencana masuk pada biaya tidak terduga. Dananya kecil dan sifatnya alokatif."