MENDUNG duka menyelimuti Pura Mangkunegaran, Kota Surakarta, Jawa Tengah. Kemarin, jenazah GRAy Siti Noeroel Kamaril Ngasarati Koesoemowardhani Soerjosoejarso diangkat dari Bangsal Pringgitan, meninggalkan Pura Mangkunegaran menuju Astana Giri Layu di Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar. Di kompleks makam keluarga besar Mangkunegaran itulah, perempuan yang sering dipanggil Gusti Nurul tersebut dikebumikan. Putri Sri Paduka Mangkunegara VII dengan Permaisuri Gusti Ratu Timoer itu meninggal dunia di Bandung, Jawa Barat, Selasa (10/11).
Sang putri yang akrab disapa Gusti Nurul itu wafat di usia 94 tahun dengan meninggalkan 7 anak, 14 cucu, dan 4 cicit. Gusti Nurul lahir di Istana Mangkunegaran pada 17 September 1921. Semasa muda ia dikenal memiliki paras yang cantik menawan. Beberapa tokoh bangsa pada waktu itu berlomba mendapatkan cintanya, di antaranya ada nama Sukarno, Sri Sultan Hamengku Buwono IX, dan Sutan Sjahrir. Namun, Gusti Nurul yang menentang keras praktik poligami itu memilih melabuhkan cintanya dan menikah dengan seorang perwira menengah tentara, Soerjosojarso.
Selain cantik, Gusti Nurul dikenal cerdas dan memiliki pemikiran jauh ke depan. Ia salah satu penggagas Solosche Radio Vereeniging. Kelak di kemudian hari, stasiun radio pertama di Indonesia tersebut menjadi cikal bakal Radio Republik Indonesia (RRI). Gusti Nurul yang gemar olahraga tenis dan berkuda itu juga dikenal piawai menari. Ia pernah diundang untuk menari di acara pernikahan Ratu Juliana di istana kerajaan Belanda pada 1937.
Ketika itu sang putri menari dengan iringan gamelan yang dimainkan dari Pura Mangkunegaran yang dipancarkan langsung ke Belanda melalui Solosche Radio Vereeniging. Kecantikan, kecerdasan, pemikiran, dan kepiawaian Gusti Nurul dalam menari itu membuat kagum Ratu Wilhelmina dari Belanda, hingga Ratu Wilhelmina memberinya julukan Bunga dari Mangkunegaran. "Ibu selalu berpesan untuk menjaga kerukunan, saling menyayangi, dan menjaga silaturahim. Beliau selalu mengingatkan bahwa kami memiliki tanggung jawab untuk menjaga nama baik keluarga besar Mangkunegaran," kata putra sulungnya, Sularso Basarah Soerjosoejarso.