Headline

Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.

Makassar-Gowa-Maros Teken PSEL Rp3 Triliun, Sampah 1.000 Ton/Hari Jadi Listrik 25 MW

Lina Herlina
04/4/2026 20:54
Makassar-Gowa-Maros Teken PSEL Rp3 Triliun, Sampah 1.000 Ton/Hari Jadi Listrik 25 MW
Ilustrasi(Dok Istimewa)

PEMERINTAH Pusat melalui Kementerian Lingkungan Hidup resmi mengucurkan investasi sebesar Rp3 triliun untuk membangun Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di kawasan Tamangapa, Makassar. 

Proyek strategis nasional ini akan mengolah 1.000 ton sampah per hari dari tiga daerah (Makassar, Gowa, Maros) menjadi listrik 20-25 MegaWatt, sekaligus menandai kematian sistem pembuangan terbuka (open dumping) yang selama 66 persen masih terjadi di Indonesia.

Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) pembangunan PSEL berlangsung di Rumah Jabatan Gubernur Sulsel, Sabtu (4/4). 

Kerja sama ini melibatkan Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin, Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang, Bupati Maros (diwakili Wakil Bupati Andi Muetazim Mansyur), dan Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman. 

Acara ini disaksikan langsung oleh Menteri Lingkungan Hidup RI, Hanif Faisol Nurofiq.

"Kolaborasi aglomerasi ini bukan sekadar tanda tangan. Ini solusi nyata bahwa masalah sampah tidak bisa diselesaikan sendiri-sendiri. Makassar, Gowa, dan Maros kini satu gerakan," ujar Gubernur Sudirman dalam sambutannya.

Menepis kekhawatiran warga, Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin yang akrab disapa Appi menegaskan bahwa PSEL yang akan dibangun di lahan seluas 10 hektare di TPA Tamangapa ini menggunakan teknologi terbaru yang sudah teruji secara global.

"Pemerintah tidak akan membangun kalau teknologinya tidak proven (terbukti). Ini bukan insinerator jadul. Ini pembangkit listrik modern yang aman, tidak mencemari lingkungan, dan justru akan menggunungnya sampah di TPA," tegas Appi.

Ia menjelaskan, saat ini kapasitas angkut sampah Makassar baru 67 persen dari timbulan 800 ton/hari. 

Namun dengan tambahan pasokan 150 ton dari Gowa dan 50 ton dari Maros, total 1.000 ton/hari akan cukup untuk mengoperasikan PSEL secara optimal. 

Bahkan, 20-25 persen tumpukan sampah lama (legacy waste) di TPA Tamangapa masih bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku.

Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, menyebut proyek ini sebagai bagian dari instruksi Presiden Prabowo Subianto melalui program Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah).

Ia mengungkapkan data, hingga saat ini, 66 persen TPA di seluruh Indonesia masih menerapkan sistem open dumping (pembuangan terbuka), yang berisiko longsor dan mencemari lingkungan. 

Bahkan, ia mengingatkan tragedi longsoran sampah di TPA Bantargebang pada 9 Maret 2026 sebagai alarm keras.

"Saya targetkan tahun 2026 ini, seluruh TPA di Indonesia, khususnya di Sulawesi Selatan, tidak boleh lagi mempraktikkan open dumping. PSEL ini adalah pemotong generasi sistem sampah lama. Pak Gubernur Sulsel berhasil meyakinkan kami, maka kami hadirkan proyek Rp3 triliun di sini," tegas Hanif.

Appi menambahkan bahwa PSEL hanyalah bagian dari revolusi besar tata kelola sampah Makassar.

Saat ini, Pemkot tengah mempercepat transisi dari open dumping ke sanitary landfill (urugan terkendali) yang lebih ramah lingkungan.

"Setiap hari kita sudah melakukan cover soil di semua blok TPA. Tidak ada lagi penumpukan terbuka yang menyebabkan pencemaran tinggi. Di hulu, kita perkuat bank sampah, TPS3R, maggot, kompos, dan teknologi RDF (Refuse Derived Fuel)," rinci Appi.

Dengan sistem terintegrasi ini, ia optimistis TPA Tamangapa tidak lagi menjadi simbol kumuh, melainkan kawasan energi hijau yang menguntungkan daerah dan menyehatkan masyarakat. (H-2)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya