BANGKAI-BANGKAI ikan yang mengambang di permukaan air menjadi pemandangan umum di Muaro Jambi, Jambi, beberapa bulan ini. Di tempat-tempat pembudidayaan, kematian induk ikan mencapai 50% bahkan hingga 100%. "Akhirnya banyak pembudi daya yang terpaksa jual rugi," keluh Kepala Balai Perikanan Budi Daya Air Tawar (BPBAT) Sungai Gelam, Muaro Jambi. Ditemui dalam acara Indonesian Aquaculture 2015 yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Perikanan Budi Daya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Kamis (29/10), Mimid mengungkapkan kondisi memprihatinkan itu merupakan buah kemarau berkepanjangan dan kabut asap.
Seperti yang terjadi di daerah lain, El Nino yang tercatat moderat sejak Juli dan memuncak pada Agustus membuat sumber-sumber air di wilayah itu kering. Kepala Seksi Uji Terap Teknik dan Kerja Sama BPBAT, Janu Dwi Kristianto, menambahkan bahwa permukaan air di Sungai Batanghari susut sekitar 50%, sementara di kolam-kolam budi daya air susut hingga 40%. Kondisi itu menyebabkan air menjadi keruh. Tingkat kekeruhan air (turbidity) diperparah dengan adanya kabut asap.
"Gara-gara asap, sinar matahari jadi tidak bisa menembus langsung ke kolam budi daya," ujar Mimid. Padahal, penetrasi matahari merupakan faktor penting dalam kehidupan perairan. Tanpa matahari, proses fotosintesis dalam air pun terhambat dan akibatnya kandungan oksigen terlarut (Dissolved oxygen/DO) pun berkurang. Dalam kondisi normal, tingkat DO di kolam budi daya berkisar 3-4 ppm (bagian per sejuta). Namun, setelah kemarau panjang, turun drastis menjadi sekitar 0,3 ppm. Lebih dari itu, plankton yang merupakan makanan ikan pun tidak dapat tumbuh.
Tidak mengherankan banyak ikan yang mati. Ikan-ikan yang tetap hidup pun bukan berarti sehat. Merosotnya temperatur air yang juga diakibatkan penetrasi cahaya yang rendah, membuat parasit dan bakteri bermunculan. Temperatur air yang semula 30-32 derajat celsius memang turun signifikan menjadi 27-28 derajat celsius. Akibatnya banyak ikan yang menderita penyakit bintik putih (white spot) yang disebabkan ektoparasit. "Penyakit itu dapat membuat ikan mati dalam tiga hari saja," tukas Mimid.
Angka harapan hidup ikan turun jadi hanya 20-30%. Di sisi lain, daya tetas telur ikan rata-rata hanya 0-30%. Bahkan, masa pendederan ikan selama dua bulan yang biasanya bisa membuat ikan mencapai 100 gram, saat ini pertumbuhannya makin lambat, paling hanya mencapai 40-45 gram. Kondisi itu memaksa menebar benih sama sekali tidak direkomendasikan untuk saat ini.
Puasa Meski terdengar aneh, nyatanya ikan harus dipuasakan ketika dihadapkan kondisi ekosistem yang tidak memadai untuk pertumbuhannya. Hal itulah yang disarankan Mimid. "Cukup kasih makan sekali sehari, dosisnya bisa dikurangi hingga sepertiganya soalnya ikan akan lebih tinggi tingkat kematiannya saat kenyang," ungkapnya. Ketika pasokan oksigen kian menipis, pemberian makan terlalu banyak akan berbuah fatal.
Pasalnya, setiap makan, ikan akan menjalani metabolisme yang memaksa tubuhnya bekerja keras. Padahal, tanpa oksigen memadai, dia sudah lemas. Pemasangan kincir air pada kolam memang bisa memunculkan gelembung-gelembung udara pada air. Sayangnya, dalam kondisi asap yang parah, hal itu tidak akan banyak membantu. "Cukup pertahankan agar ikan tetap hidup dan segera dipanen saat sudah cukup usianya, jangan tunggu harga naik karena hanya berisiko gagal panen di kondisi alam yang tidak menentu," simpul Mimid.
Karena bencana asap memengaruhi kondisi ekonomi, daya beli masyarakat pun menurun. Teori ekonomi, yakni tingkat ketersediaan yang berkurang membuat harga melonjak, nyatanya tidak berlaku di Jambi. Sekalipun jumlahnya terus menurun, harga ikan tak kunjung naik. Lebih baik menjual rugi ketimbang membiarkan ikan terus mati di kolam. Pilihan lainnya, panen ikan dan olah menjadi makanan olahan