Headline

Indonesia tangguhkan pembahasan soal Dewan Perdamaian.

Antrean BBM di Aceh Segera Diatasi Agar Ekonomi Tidak Terganggu

Amiruddin Abdullah Reubee
07/3/2026 19:04
Antrean BBM di Aceh Segera Diatasi Agar Ekonomi Tidak Terganggu
Kendaraan antre mengisi BBM di SPBU di Aceh.(MI/Amiruddin Abdullah Reubee)

ANTREAN panjang kendaraan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Provinsi Aceh masih terjadi dalam lima hari terakhir akibat aksi panic buying masyarakat. Kondisi tersebut dinilai berpotensi mengganggu aktivitas perekonomian jika tidak segera diatasi.

Pengamat ekonomi dari Universitas Syiah Kuala, Amri, mengatakan kepanikan warga dipicu oleh isu kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) yang dikaitkan dengan konflik geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Isu tersebut membuat masyarakat di Aceh berbondong-bondong mendatangi SPBU untuk mengisi BBM.

“Isu bakal terjadi kelangkaan BBM akibat perang AS-Israel menyerang Iran telah meresahkan masyarakat. Dari situ warga ramai-ramai menyerbu SPBU untuk mengisi BBM,” kata Amri kepada Media Indonesia, Sabtu (7/3).

Menurut dia, perilaku panic buying merupakan reaksi yang cukup manusiawi mengingat masyarakat Aceh masih memiliki trauma akibat kelangkaan kebutuhan pokok setelah banjir besar yang melanda wilayah tersebut pada 24–27 November 2025.

“Warga kadang sulit mematuhi imbauan karena sering tidak ada kepastian dari informasi yang disampaikan kepada mereka, apalagi setelah pengalaman pascabanjir yang penuh ketidakpastian,” ujarnya.

Amri menilai kondisi antrean BBM tidak boleh berlangsung lama karena dapat berdampak pada aktivitas ekonomi masyarakat, terlebih saat ini masyarakat sedang memenuhi kebutuhan selama Ramadan dan menjelang Idulfitri 1447 Hijriah.

Menurutnya, BBM merupakan kebutuhan utama yang mendukung berbagai aktivitas ekonomi, mulai dari usaha kecil, transportasi umum, hingga kegiatan perusahaan.

“Kalau bahan energi penggerak bermasalah tentu aktivitas masyarakat, usaha kecil, angkutan umum, hingga berbagai sendi ekonomi akan terhambat,” kata dosen Fakultas Ekonomi tersebut.

Ia mengingatkan pemerintah untuk segera memastikan pasokan BBM tetap tersedia dan distribusinya berjalan lancar agar kepanikan masyarakat tidak semakin meluas.

“Jangan sampai melebar ke persoalan ekonomi yang lebih luas menjelang Lebaran. Kepanikan di Aceh ini masih wajar jika dilihat dari pengalaman masa lalu, misalnya setelah banjir yang menimbulkan trauma,” ujarnya.

Amri juga meminta pemerintah memastikan seluruh masyarakat yang mengantre dapat memperoleh BBM sehingga kepercayaan publik terhadap ketersediaan energi tetap terjaga.

“Isi saja semua yang antre agar mereka percaya bahwa BBM sebenarnya tersedia dan distribusinya lancar. Namun pengawasan harus diperketat agar tidak ada pihak yang mengambil kesempatan untuk menimbun,” tegasnya.

DIPICU PERNYATAAN MENTERI
Sebelumnya, kepanikan masyarakat dipicu oleh pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia yang menyebut stok BBM nasional hanya cukup untuk sekitar 20 hari. Informasi tersebut memicu kekhawatiran masyarakat di sejumlah daerah, termasuk Aceh.

Panic buying di Aceh awalnya terjadi di wilayah tengah, seperti Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah. Kepanikan kemudian menyebar ke wilayah pesisir Selat Malaka, antara lain Kabupaten Pidie, Aceh Utara, Bireuen, Aceh Timur, hingga Kota Banda Aceh.

Berdasarkan pantauan di Kabupaten Pidie pada Sabtu (7/3), antrean panjang kendaraan roda dua dan roda empat masih terlihat di sejumlah SPBU. Di SPBU Pulo Pisang, Kecamatan Pidie, antrean kendaraan sudah terlihat sejak pukul 06.00 WIB setelah salat subuh.

Sekitar 30 menit kemudian, antrean kendaraan bahkan mengular hingga ke tepi jalan nasional Banda Aceh–Medan.

Sementara itu, beberapa outlet Pertashop di wilayah tersebut tampak tidak beroperasi hingga siang hari. Beberapa di antaranya berada di kawasan Paloh, Ulee Birah, Keubang, hingga Lampoih Saka. Pada salah satu lokasi terpasang pengumuman bahwa pasokan Pertamax masih dalam proses pengiriman. (E-2)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Heryadi
Berita Lainnya