Headline

Penghapusan tunggakan iuran perlu direalisasikan lebih dahulu sambil menimbang kondisi ekonomi.

Wagub NTT Johanis Asadoma Resmi Sandang Gelar Doktor dengan Predikat Pujian

Palce Amalo
26/2/2026 22:58
Wagub NTT Johanis Asadoma Resmi Sandang Gelar Doktor dengan Predikat Pujian
Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Johanis Asadoma menjalani wisuda doktor.(MI/Palce Amalo)

WAKIL Gubernur (Wagub) Nusa Tenggara Timur (NTT), Johanis Asadoma, resmi menyandang gelar Doktor Ilmu Administrasi pada prosesi wisuda di Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, Kamis (26/2/).

Johanis Asadoma meraih gelar doktor dengan predikat pujian (cum laude) dan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,95. Pengukuhan dilakukan Rektor Undana, Jefri Bale, yang ditandai dengan penyematan tanda kelulusan dan penyerahan ijazah doktor dalam sidang terbuka senat universitas.

Gelar tersebut diraih setelah ia mempertahankan disertasi berjudul “Analisis Kebijakan Publik dalam Penyelenggaraan Pendidikan Menengah Berbasis Teknologi Informasi Digital Inklusif di Kota Kupang, Provinsi NTT.”

Dalam sidang promosi doktor sebelumnya, Johanis dibimbing promotor Alo Liliweri, dengan ko-promotor David B.W. Pandie, serta Melkisedek Neolaka.

Pada periode wisuda kali ini, Undana meluluskan 2.038 wisudawan dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari doktor, magister, profesi, sarjana hingga diploma. 

Untuk jenjang doktor, tercatat tiga lulusan yang diwisuda, yakni Johanis Asadoma (Ilmu Administrasi, IPK 3,95, predikat pujian), Noldy Danny Paul Mumu (Ilmu Administrasi, IPK 3,87, predikat pujian), dan Mikson Metraim Daniel Nalle (Ilmu Peternakan, IPK 4,00, predikat pujian).

Selain itu, universitas juga menetapkan sembilan wisudawan terbaik dari berbagai fakultas, yaitu Patrick Yohanes Meok (IPK 4,00) dari FKIP; Ambrosius Fernando Jomas (IPK 3,98) dari FKKH, Ryna Febryanti Amalo (IPK 3,97) dari FH, Prisila Mita Kurnia Mamo (IPK 3,85) dari FE, Yosua Nobrihas (IPK 3,87) dari FISIP; Theodorus Vigirius Dwi Putra (IPK 3,85) dari FKM, Umbu Yudo Manasye Hanggongu (IPK 3,85) dari Fakultas Pertanian, Rut Riwu Ratu (IPK 3,77) dari Fakultas Peternakan, Kelautan dan Perikanan serta Andre Jeusy P.H. Telnoni (IPK 3,71) dari Fakultas Sains dan Teknologi.

Dalam kesempatan tersebut, Johanis yang akrab disapa Johni juga hadir memberikan sambutan mewakili pemerintah daerah sekaligus menjadi perwakilan para wisudawan. 

Di hadapan ribuan lulusan dan orang tua, ia menegaskan wisuda bukanlah garis akhir, melainkan titik awal perjuangan yang sesungguhnya di tengah dinamika zaman.

“Hari ini bukan garis akhir dari perjuangan saudara, tapi ini adalah garis awal dalam perjalanan hidup. Saudara lulus di tengah dunia yang berubah sangat cepat, teknologi, pola ekonomi, hingga pola hidup,” ujarnya.

Menurutnya gelar akademik merupakan bukti ketekunan, disiplin, serta perwujudan doa orang tua yang tidak terputus. Namun, ia mengingatkan para lulusan agar tidak terbuai euforia sesaat.

RIBUAN SARJANA MENGANGGUR
Secara terbuka, Wagub NTT itu juga menyoroti tantangan dunia kerja. Ia mengungkapkan, saat ini terdapat sekitar 7.000 sarjana (S1, S2, dan S3) di NTT yang masih menganggur dan sedang mencari pekerjaan. Menurutnya, lulusan universitas ternama maupun IPK tinggi tidak lagi menjadi jaminan tunggal meraih kesuksesan.

“Kita tidak kekurangan orang pintar, teori, atau wacana. Yang kita butuhkan adalah generasi yang mampu mengubah pengetahuan menjadi solusi nyata untuk memecahkan persoalan masyarakat,” ujar Johni.

Ia memaparkan sejumlah tantangan krusial yang masih membayangi NTT, antara lain tingkat kemiskinan yang tinggi, rendahnya produktivitas daerah, akses air bersih yang belum merata, serta transformasi ekonomi yang belum memiliki nilai tambah.

Menurut Mantan Kapolda NTT itu, Nusa Tenggara Timur memiliki potensi besar di sektor pertanian, peternakan, kelautan, pariwisata, hingga energi terbarukan. Namun, potensi tersebut tidak akan berkembang tanpa inovasi dan keberanian kaum intelektual untuk terjun langsung memberikan solusi.

“NTT membutuhkan orang-orang yang berintegritas, jujur, dan siap berkorban. Lulusan Undana tidak dididik untuk menjadi penonton, tetapi menjadi pelaku perubahan yang berdampak bagi bangsa dan negara,” pungkasnya.

KARAKTER LULUSAN PERGURUAN TINGGI
Sementara itu, Rektor Undana, Jefri S. Bale dalam orasinya menggunakan metafora unik dari papan catur, yakni bidak kuda (the knight), untuk menggambarkan karakter lulusan perguruan tinggi.

Menurutnya, bidak kuda adalah simbol kemampuan melampaui kebuntuan. Berbeda dengan bidak lain yang bergerak lurus, kuda memiliki pola langkah khas yang memungkinkannya melompati hambatan.

“Kuda mengajarkan kita tentang inovasi dan keunikan cara berpikir yang out of the box. Ia tidak bergerak secara linear atau lurus-lurus saja,” ujar Jefri.

Ia menjelaskan, dalam permainan catur, seekor kuda akan sangat kuat jika berada di pusat papan karena mampu menguasai banyak kotak sekaligus. Sebaliknya, kuda akan menjadi lemah jika hanya berdiam di sudut papan dengan ruang gerak terbatas.

Karena itu, ia berpesan agar para alumni tidak membatasi potensi diri dengan memilih zona aman. “Carilah tempat yang tepat. Jangan membatasi potensi saudara di sudut-sudut kenyamanan. Beradalah di tengah pusat perubahan, di tengah komunitas yang menantang, di tempat di mana keahlian saudara bisa memberikan dampak maksimal,” tegasnya.

Ia menutup orasi dengan mengingatkan bahwa penempatan diri yang keliru hanya akan menjadi belenggu yang menghambat kontribusi lulusan bagi kemajuan bangsa. (E-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Heryadi
Berita Lainnya