Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
Upacara Labuhan Parangkusumo di Pantai Parangkusumo, Kretek, Bantul, berlangsung dengan khidmat dan tertib, pada Senin (19/01), Namun, ada momen viral di media terkait munculnya pawang hujan yang akrab dipanggil Mbak (Rara Rara Istiati Wulandari).
Dalam video yang beredar di media sosial, Mbak Rara diceritakan diusir saat prosesi Labuhan Parangkusumo.
Menanggapi hal tersebut, Penghageng Kawedanan Hageng Panitrapura, GKR Condrokirono menjelaskan, pada dasarnya, semua pelaksanaan Hajad Dalem (Labuhan Parangkusumo) kemarin adalah dari Abdi Dalem Keraton Yogyakarta.
Kegiatan itu memang terbuka untuk umum. Artinya, masyarakat diperbolehkan hadir dan menyaksikan dengan menjaga ketenangan dan ketertiban demi kelancaran acara, sesuai tata aturan yang berlaku pada agenda tersebut.
"Kemudian, jika ada pihak luar baik perorangan/lembaga akan terlibat dalam agenda keraton, harus ada izin dari Penghageng Kawedanan Hageng Panitrapura," imbuh putri kedua Sri Sultan HB X tersebut.
Di akun Instagramnya @rarapawang_cahayatarot, Mbak Rara mengeklaim dirinya diundang dari Romo Rekso. "Intinya, kalau buat acara budaya aku pasti mau bantu gratis meskipun tidak diakui," papar Mbak Rara.
Ia pun juga mengeklaim, sering membantu acara Keraton Yogyakarta, baik ke lokasi maupun jarak jauh, agar dikabulkan cuaca baik. Ia mengaku, selama ini, dirinya sukses menjadi pawang hujan untuk membantu Keraton Yogykarta.
Agenda Labuhan Parangkusumo digelar sebagai puncak sekaligus penutup serangkaian upacara peringatan Ulang Tahun Kenaikan Takhta (Tingalan Jumenengan Dalem) ke-38 Sri Sultan Hamengku Buwono X dan GKR Hemas, yang diperingati pada Ngahad Kliwon, 29 Rejeb Dal 1959, bertepatan dengan 18 Januari 2026, berdasarkan Kalender Jawa Sultanagungan.
Khusus pada tahun Dal 1959 ini, Keraton Yogyakarta pun tidak hanya menggelar upacara labuhan di tiga tempat seperti biasanya, yakni di Pantai Parangkusumo, Gunung Merapi, dan Gunung Lawu. Kali ini, Keraton Yogyakarta menambah lokasi labuhan di Dlepih, Kabupaten Wonogiri.
Penghageng II Kawedanan Reksa Suyasa, KRT Kusumonegoro menjelaskan, upacara labuhan digelar sebagai wujud menghargai, menghormati, merenungi, serta menapak tilas perjuangan leluhur pendahulu Keraton Yogyakarta.
Upacara ini juga dilakukan sebagai upaya memelihara keserasian, keselarasan, dan keseimbangan alam serta lingkungan hidup, sesuai perwujudan tugas Sultan, Hamemayu Hayuning Bawono.
“Sri Sultan memiliki kewajiban untuk melestarikan dan juga melanjutkan apa yang telah dilakukan oleh para pendahulunya,” terang KRT Kusumonegoro.
Labuhan itu sendiri sejatinya berasal dari kata labuh yang artinya membuang, meletakkan, atau menghanyutkan. Tujuan dari upacara labuhan ini pun sebagai doa dan pengharapan untuk membuang segala macam sifat buruk.
Kanjeng Kusumo menuturkan, dalam upacara labuhan Parangkusumo ini, Keraton Yogyakarta melabuh benda-benda tertentu yang disebut sebagai ubarampe labuhan. Terdapat sekitar kurang lebih 30 macam ubarampe yang disiapkan. Beberapa di antaranya, seperti perangkat pakaian hingga potongan rambut dan kuku dari Sri Sultan Hamengku Buwono X.
Khusus dalam Labuhan Ageng Dal 1959, ubarampe tambahan berupa songsong gilap (payung) turut disertakan dalam Labuhan Parangkusumo ini. Adapun sebelum dilabuh, seperangkat ubarampe labuhan yang tiba sekitar pukul 10.00 WIB di Pendapa Cepuri Parangkusumo tersebut dicek kembali lalu didoakan bersama.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved