Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Pertama di NTT, Undana Buka Dua Program Studi Spesialis Kedokteran

Palce Amalo
20/1/2026 20:31
Pertama di NTT, Undana Buka Dua Program Studi Spesialis Kedokteran
Jumpa Pers Pembukaan Dua Program Studi Spesialis Kedokteran di Universitas Nusa Cendana Kupang.(MI/Palce Amalo)

UNIVERSITAS Nusa Cendana (Undana) Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), membuka dua program studi spesialis kedokteran. Yakni Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif Program Spesialis serta Program Studi Obstetri dan Ginekologi Program Spesialis pada Fakultas Kedokteran dan Kedokteran Hewan (FKKH). 

Pembukaan dua program studi ini menjadi tonggak sejarah baru, tidak hanya bagi Undana, tetapi juga bagi  NTT.

Rektor Undana, Prof Jefri S. Bale, mengatakan pendirian program studi spesialis tersebut merupakan implementasi langsung arahan Presiden RI Prabowo Subianto terkait percepatan pemerataan layanan kesehatan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia kesehatan sebagai fondasi menuju Indonesia Emas 2045.

“Ini adalah manifestasi nyata kebijakan Presiden yang ditindaklanjuti oleh Kementerian Kesehatan dan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui pembentukan task force peningkatan layanan kesehatan di perguruan tinggi,” ujar Jefri Bale dalam jumpa pers di Rektorat Undana, Selasa (20/1) sore.

Ia menjelaskan, Undana dinilai memenuhi persyaratan utama pembukaan program studi spesialis karena telah memiliki program studi kedokteran serta rumah sakit pendidikan. Seluruh tahapan persiapan telah dilakukan secara intensif, mulai dari penyusunan dokumen akademik dan administrasi hingga pemenuhan standar sarana dan prasarana. “Ini merupakan komitmen Undana untuk memperkuat layanan kesehatan bagi masyarakat NTT,” jelasnya.

Rektor Undana juga mengumumkan bahwa izin pendirian dua program studi tersebut tertuang dalam Keputusan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Nomor 78/B/O/2026. Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif Program Spesialis dibina oleh Universitas Udayana (UNUD), sedangkan Program Studi Obstetri dan Ginekologi Program Spesialis dibina oleh Universitas Airlangga (UNAIR).

“Kedua program studi ini telah memenuhi persyaratan minimum akreditasi. Kami berkomitmen menjaga mutu pendidikan dengan pendampingan aktif dari universitas pembina,” ujarnya.

Undana dijadwalkan mulai menerima mahasiswa baru untuk kedua program studi spesialis tersebut pada semester genap Tahun Akademik 2026/2027. Kehadiran program studi ini diharapkan dapat menjawab keterbatasan jumlah dokter spesialis di NTT serta memastikan masyarakat memperoleh layanan kesehatan yang optimal dari putra-putri daerah sendiri.

Sementara itu, Wakil Rektor I Undana, Prof. Dr. drh. Annytha I.R. Detha, M.Si mengatakan, pihak universitas tengah menyiapkan regulasi teknis, termasuk Peraturan Rektor tentang SOP seleksi mahasiswa program spesialis. 

Proses seleksi akan dilakukan secara terukur dengan memperhatikan daya tampung, kesiapan fasilitas, serta kebutuhan daerah.

“Kami juga akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah karena dukungan pembiayaan dan komitmen daerah sangat dibutuhkan agar dokter-dokter asal NTT dapat menempuh pendidikan spesialis di Undana,” ujarnya.

Ia menambahkan, sesuai ketentuan kementerian, Undana wajib melaporkan perkembangan pelaksanaan program studi paling lambat satu bulan setelah izin diterbitkan. Oleh karena itu, seluruh persiapan akademik dan mekanisme seleksi saat ini tengah dipercepat.

Dekan FKKH Undana, Dr. dr. Christina Olly Lada, M.Gizi, menyebut pembukaan dua program studi spesialis ini sebagai capaian bersejarah setelah 63 tahun Undana berdiri.

“Ini merupakan program studi spesialis pertama, bukan hanya di Undana, tetapi juga di Provinsi Nusa Tenggara Timur,” ungkapnya.

Menurutnya, pembukaan program studi ini mendapat dukungan penuh dari organisasi profesi, antara lain Perhimpunan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) Cabang NTT, Perhimpunan Dokter Anestesi dan Terapi Intensif Indonesia (PERDATIN) Cabang NTT, serta kolegium masing-masing bidang.

Ia menegaskan, pembukaan program studi spesialis ini bertujuan menjawab persoalan ketimpangan distribusi dokter spesialis di NTT, masih terdapat rumah sakit yang belum memiliki dokter spesialis sehingga layanan medis, termasuk operasi, belum berjalan optimal.

“Kami optimistis kebutuhan dokter spesialis dapat dipenuhi karena pendirian program studi ini dilakukan dengan pendampingan ketat dari fakultas kedokteran pembina. Para dosen juga akan melalui pelatihan dan sertifikasi agar standar pendidikan tetap terjaga,” jelasnya.

Dukungan juga datang dari rumah sakit mitra dan rumah sakit pendidikan, termasuk RSUP Ben Mboi Kupang serta rumah sakit jejaring lainnya, yang didukung penuh oleh Pemerintah NTT dan Kementerian Kesehatan.

“Ini menunjukkan bahwa pembangunan layanan kesehatan di NTT harus dilakukan secara kolaboratif agar pelayanan kepada masyarakat dapat berjalan optimal dan berkelanjutan,” katanya. (PO/E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya