Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Bertahan 30 Jam di Jurang demi Evakuasi Korban Kecelakaan Pesawat ATR

Lina Herlina
20/1/2026 18:35
Bertahan 30 Jam di Jurang demi Evakuasi Korban Kecelakaan Pesawat ATR
Evakuasi korban pertama dari kecelakaan pesawat ATR 42-500 di kedalaman jurang Pegunungan Bulusaraung(Dok.Tim SAR)

OPERASI penyelamatan dengan tingkat kesulitan ekstrem berhasil dilakukan oleh tim SAR gabungan untuk mengevakuasi korban pertama dari kecelakaan pesawat ATR 42-500 di kedalaman jurang Pegunungan Bulusaraung, Kabupaten Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan.

Operasi yang penuh risiko ini memaksa para penolong bertahan selama 30 jam di medan terjal, diterpa hujan deras, dan ditutupi kabut tebal, demi memastikan korban dapat dibawa keluar.

Proses evakuasi dimulai dengan teknik rappeling (turun tali) dari dekat punggungan tempat pesawat diduga menabrak. 

Sepuluh personel dari berbagai unsur, termasuk Basarnas Makassar dan Kopasgat TNI AU, harus menuruni tali sejauh sekitar 100 meter ke dasar jurang yang gelap dan curam.

"Setiap personel membutuhkan waktu 2-3 menit hanya untuk turun. Medan di bawah jauh lebih menantang," jelas Muhammad Arif Anwar, Kepala Kantor SAR Kelas A Makassar yang bertindak sebagai Koordinator Misi.

Setelah mencapai dasar, tim harus berjalan menyusuri celah aliran air dan serpihan pesawat sejauh 200 meter. Perjuangan membuahkan hasil ketika korban pertama, seorang laki-laki, ditemukan tersangkut di dahan pohon pada pukul 13.43 WITA.

Namun, tantangan sesungguhnya baru dimulai. Posisi jenazah yang berada di kemiringan 30 derajat tepat di bibir tebing, membutuhkan proses packing (pengepakan) selama satu jam. 

Upaya awal mengangkat jenazah ke atas sejauh 60 meter pun gagal akibat medan, keterbatasan alat, dan hujan lebat yang mengguyur tanpa henti.

"Kami terpaksa mengubah strategi. Evaluasi lapangan memutuskan evakuasi dialihkan ke arah bawah menuju kampung terdekat," ujar Rusmadi, salah seorang rescuer Basarnas yang turun langsung ke jurang.

Keputusan itu membawa mereka pada perjalanan yang lebih berat. Cuaca kian memburuk, hujan deras, kabut pekat, dan suhu dingin menyelimuti. 

Setelah tiga jam berjuang, keselamatan tim terancam. Mereka pun membuat keputusan berat: bermalam di lereng tebing yang labil dan berisiko longsor.

"Kami terpaksa bertahan di tebing semalaman, bersama jenazah, dalam hujan dan dingin. Kondisi benar-benar tidak bersahabat," kenang Rusmadi penuh khidmat.

Selama kurang lebih 30 jam, seluruh personel bertahan di lokasi yang berbahaya itu. Esok harinya (19/1), demi keselamatan, tim pertama menyerahkan estafet evakuasi kepada tim lanjutan karena kondisi fisik yang sudah di ambang batas.

Perjalanan panjang pun berlanjut. Tim kedua membawa jenazah selama 20 jam, pada (20/1) menuju persawahan Kampung Lampeso, Kabupaten Maros.

Selanjutnya, tim ketiga meneruskan perjalanan berjalan kaki sejauh sekitar 15 km melalui jalan setapak, punggungan, dan sungai di sekitar Desa Lampeso, lalu 5 km lagi menuju jalan poros Kecamatan Cenrana, Maros.

Hingga saat ini, jenazah korban pertama masih berada di Lampeso menunggu proses evakuasi terakhir ke RS Bhayangkara Makassar untuk identifikasi oleh tim DVI. 

Operasi pencarian korban dan black box pesawat masih terus dilanjutkan di medan yang sama-sama ekstrem. Masih ada delapan korban yang belum diketahui keberadaannya, sehingga masih dilakukan pencarian secara intensif. (E-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Heryadi
Berita Lainnya