Headline

Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.

Sepekan Terendam Banjir Petani Bawang Merah di Kabupaten Pati Panen Dini

Akhmad Safuan
16/1/2026 11:59
Sepekan Terendam Banjir Petani Bawang Merah di Kabupaten Pati Panen Dini
Petani bawang merah di Kabupaten Pati terpaksa melakukan panen dini akibat sawahnya sudah sepekan terendam banjir(MI/Akhmad Safuan)

AKIBAT sepekan banjir merendam ribuan hektare area pertanian hingga ketinggian mencapai 1-1,5 meter di Kabupaten Pati, petani bawang merah di Kabupaten Pati terpaksa melakukan panen dini guna menghindari gagal panen hingga mengakibatkan kerugian semakin besar.

Pemantauan Media Indonesia Jumat (16/1) banjir merendam Kabupaten Pati hibggavsast ini belum terlihat ada tanda-tanda surut, bahkan hujan lebat yang masih mengguyur di kawasan Gunung Muria mengakibatkan banjir semakin tinggi hingga merendam ribuan hektare sawah, ribyan rumah warga dan jalur Pantura Pati-Rembang.

Kondisi banjir tersebut membuat ribuan petani di Pati khawatir mengalami gagal panen, sehingga para petani memilih melakuhan panen dini guna menghindari kerugian semakin besar seperti dilakukan petani bawang merah di Desa Ngurenrejo, Kecamatan Wedarijaksa, Kabupaten Pati, meskipun kualitas bawang anjlok akibat ini.

"Kami terpaksa panen dini, karena khawatir gagal panen hingga kerugian akan semakin besar meskipun kualitas bawang rendah yakni dari segi ukuran maupun rasa, warna serta basah,";ujar Ngadimin,50, seorang petani bawang di Pati.

Hal serupa juga diungkapkan Slamet, petani bawang lainnya bahwa meskipun akhirnya harga bawang anjlok akibat dilakukan panen dini ini, banjir dengan ketinggian mencapai 1,5 meter menjadikan sebagian bawang merah dari lahan seluas 15 hektare yang seharusnya dipanen bulan depan kembusuk.

Pemanenan bawang merah di tengah banjir ini, ujar Slamet, juga lebih sulit karena harus menggunakan rakit dan berendam ke dalam air, sehingga dalam sehari jumlah hasil panen didapat juga hanya dapat 50 persen dari kondisi normal. "Sampai di rumah bawang tersebut harus dipilah dan dijemur karebavsydah mulai busuk," imbuhnya.

Menurut petani lainnya Warsito bahwacpada kondisi normal setiap kali panen ia bisa mendapatkan uang Rp175 juta per 1 hektare, tetapi karena ini panen lebih awal, maka pendapatan yang didapatkan hasil panen diprediksi akan berkurang 50 persen, sehingga meminta pemerintah daerah dapat memperhatikan hal ini.

Sebelumnya Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pati Ratri Wijayanto mengatakan lahan pertanian dengan mayoritas ditanami padi di daerah ini terendam banjir, berdasarkan inventarisasi sementara mencapai 4.400 hektare, sehingga kerugian ditaksir cukup besar karena tanaman padi banyak tang mati sebelum panen.

"Kita masih menghitung kerusakan dan kerugian untuk pengajuan bantuan ataupun asuransi, karena dipastikan banyak yang rusak ataupun mati setelah terendam banjir hampur sepekan," ugar Ratri Wijayanto.

Ribuan hektare sawah terendam banjir dengan ketinggian diatas 1 meter tersebut, menurut Ratri Wijayanto, tersebar di sejumlah kecamatan seperti Gabus, Pati Kota, Jakenan, Tayu, Kayen, Dukuhseti, Sukolilo, Widarijaksa, Batangan dan sejumlah kecamatan lainnya. "Belum dapat memutuskan bantuan bagi petani, masih perlu dihitung dan diajukan," tambahnya.

Sebagai langkah awal, ungkap Ratri Wijayanto, selain melakukan pendataan lengkap terhadap sawah yang mengalami kerusakan, juga berkoordinasi dengan BPBD Pati dan Dinas PU untuk tindak lanjut penanganan banjir ini. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya