Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
PENDERITAAN korban penyintas banjir besar di Provinsi Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat sudah 45 hari masih mengkhawatirkan. Selain masih hidup di bawah tenda pengungsian, banyak lokasi-lokasi pedalaman di Aceh belum pulih ekses jalur darat dan tidur di kegelapan sunyi tanpa lampu listrik.
Belum lagi banyak anak diserang nyamuk, krisis air bersih, langka gas elpiji hingga tidak ada susu bayi. Lalu aktivitas perekonomian terhenti akibat hancurnya badan jalan dan sulit mengangkut hasil pertanian.
Melihat kondisi demikian, banyak donatur swasta dari berbagai komunitas atau pemilik usaha mengulurkan tangan guna meringankan beban korban bencana dahsyat itu. Bukan saja menyalurkan ke lokasi banjir melainkan juga membantu dari jauh untuk para anggota keluarga korban di perantauan.
Misalnya, sebuah Cafe dan Resto bernama Cak Kaji yang berlokasi di Jalan Pengandaran, Nomor 8, Desa Antirogo, Kecamatan Sumbersari, Kabupaten Jember, Jawa Timur. Sudah 36 hari menyediakan makan nasi gratis 3 kali sehari kepada mahasiwa atau perantau asal kawasan banjir Sumatra. Mereka dari keluarga terdampak banjir di Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat dipersilahkan makan tiga kali sehari tidak perlu bayar.
DIMULAI 4 DESEMBER
Roni, pengelola atau karyawan Cafe Cak Kaji, kepada Media Indonesia, Jumat (9/1) mengatakan, penyediaan makan gratis di mulai pada 4 Desember 2025 atau bertepatan 10 hari setelah bencana alam banjir meluluhlantakkan Sumatra. Aksi sosial itu berawal dari inisiatif pemiliki Cafe dan Resto Cak Kaji, bernama Rozaq Asyhari yang ingin bersedekah membantu meringankan beban hidup keluarga korban banjir.
Apalagi banyak orang Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat yang merantau di Jember dan sekitarnya. Mereka umumnya para putra-putri yang sedang kuliah di Universitas Jember, Politeknik Jember dan lainya.
"Sesuai anjuran pemilik usaha Bapak Rozaq Asyhari kami siap melayani makan gratis untuk korban banjir Sumatra tiga kali sehari, mulai buka pukul 08.00 Wib-23.00 Wib. Kami juga ikut merasakan kondisi mereka, maka ikut membantu walau dari kejauhan. Semoga penderitaan saudara kami cepat pulih. terutama di Aceh yang paling berat dampaknya, "tutur Roni.
SANGAT MEMBANTU
Teuku Khairil Akli, mahasiswa asal Krueng Seumideuen, Pidie, Aceh yang kuliah di Universitas Jember, sangat berterimakasih kepada pemilik usaha dan karyawan Cafe dan Resto Cak Kaji yang telah mengorbankan harta serta tenaga demi kesinambungan hidup perantau asal Sumatra terutama mahasiswa Aceh.
"Ini sangat membantu kami di kala susah. Apalagi para orang tua di kampung yang sedang sulit ekonomi mereka akibat banjir. Sebagian saudara kami hingga kini harus bertahan di bawah tenda pengungsian yang tidak menentu. Jangankan mengirim uang untuk putra-putrinya di rantau kuliah, kadang kehidupan mereka saja penuh derita, " tutur Teuku Khairil.
Dikatakan Khairil, awalnya mahasiswa Aceh banyak yang berkunjung ke Cafe dan Resto Cak Kaji, namun kini sudah berkurang karena sebagian sudah pulang ke kampung halaman untuk melihat kondisi keluarga di sana. Apalagi sekarang bertepatan dengan musim libur semester ganjir yang tidak lama lagi melanjutkan semester genap.
Budayawan Aceh dari Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh, mengatakan kondisi ekonomi masyarakat Aceh terutama para penyintas banjir bandang sekarang sangat sulit. Bahkan roda perekonomian mereka lumpuh total setelah bencana meluluhlantakkan mereka.
Warga yang sebelumnya berjualan seperti di Kota Kuala Simpang, Ibukota Kabupaten Aceh Tamiang sekarang lumpuh dan porak paranda akibat diterjang air bah 25-27 November 2025 lalu. Usaha mereka bukan saja terhenti, tapi semua stok barang dalam toko hingga fasilitas lainnya hanyut satu kota terbawa arus.
Kemudian petani cabai, pemilik kebun kopi gayo, kebun durian, kakao hingga berbagai tanaman hortikultura di Kabupaten Bener Meriah, Aceh Tengah, Gayo Lues dan Aceh Tenggara juga rusak parah dan krisis pemasaran karena ekses jalan terganggu. Begitu juga lahan pertanian dan perkebunan pinang, kakao di Kabupaten Bireuen, Pidie Jaya, Aceh Utara dan Kabupaten Aceh Timur hancur setelah dilanda bencana maha dahsyat kala itu.
BERTERIMAKASIH
Karena itu atas nama masyarakat Aceh dan keluarga besar korban bencana alam bererterimakasih kepada semua dinatur yang telah terbuka hati membantu masyakat Serambi Mekkah. Meskipun bantuan itu sangat sederhana termasuk memfasilitasi makan nasi gratis kepada perantau dan mahasiswa di Jember, Jawa Timur atau di mana lokasi lain. Itu penuh arti karena sangat terbantu dan cukup berharga.
"Sekarang kami yang hari-hari masih menyintas endapan lumpur. Tidak lagi berdaya, kecuali menengadahkan tangan ke atas, seraya mengucurkan air mata mengharap Allah akan membalas berlipat ganda. Terima kasih saudara-saudara kemanusiaan kami. Terima kasih untuk semuanya," tutur Doktor Adli Abdullah yang juga dosen senior Universitas Syiah Kuala. (E-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved