Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Ragam Tarian Kalimantan: Warisan Budaya yang Memukau Dunia

Thalatie K Yani
30/12/2025 08:01
Ragam Tarian Kalimantan: Warisan Budaya yang Memukau Dunia
Ilustrasi(Pemprov Palangkaraya)

Kalimantan, pulau terbesar ketiga di dunia yang juga dikenal sebagai Borneo, menyimpan kekayaan budaya yang tak terhingga. Salah satu manifestasi budaya yang paling menonjol dan memikat adalah tarian Kalimantan. Seni tari di wilayah ini bukan sekadar hiburan semata, melainkan sebuah refleksi mendalam dari hubungan antara manusia dengan alam, sesama manusia, dan Sang Pencipta. Dari pesisir hingga pedalaman hutan hujan tropis, setiap gerakan dalam tarian adat Kalimantan mengandung filosofi, sejarah, dan nilai spiritual yang diwariskan secara turun-temurun oleh suku Dayak, Melayu, dan etnis lainnya yang mendiami pulau ini.

Keunikan dan Karakteristik Tarian Kalimantan

Sebelum membahas jenis-jenis tarian secara spesifik, penting untuk memahami apa yang membuat seni tari dari wilayah ini begitu istimewa. Secara umum, tarian dari Kalimantan memiliki ciri khas yang tegas namun anggun. Gerakan-gerakan yang ditampilkan sering kali meniru perilaku hewan seperti burung enggang yang diagungkan, atau gerakan aktivitas sehari-hari seperti berburu dan bercocok tanam.

Selain itu, penggunaan properti sangat dominan. Mandau (senjata tradisional), tameng (perisai), serta bulu-bulu burung enggang pada kostum penari memberikan nuansa magis dan gagah. Iringan musik dari alat musik tradisional seperti sape (alat musik petik khas Dayak) dan gong semakin memperkuat atmosfer mistis dan sakral dalam setiap pertunjukan.

Ragam Tarian Kalimantan Berdasarkan Provinsi

Untuk memahami lebih dalam mengenai kekayaan seni ini, berikut adalah ulasan komprehensif mengenai berbagai jenis tarian adat yang tersebar di lima provinsi di Kalimantan.

1. Tarian Kalimantan Barat: Tari Monong dan Tari Pinggan

Di Kalimantan Barat, suku Dayak memiliki tarian yang sangat sakral bernama Tari Monong atau sering disebut juga Tari Manang. Tarian ini sejatinya adalah sebuah ritual penyembuhan. Dahulu, tarian ini dilakukan oleh para dukun atau ahli pengobatan untuk menyembuhkan warga yang sakit akibat gangguan roh jahat. Penari akan bergerak menghentak-hentakkan kaki sambil membacakan mantra, memohon kesembuhan kepada Sang Pencipta.

Selain itu, terdapat Tari Pinggan yang berasal dari masyarakat Dayak Mualang. Sesuai namanya, tarian ini menggunakan piring atau pinggan sebagai properti utama. Penari menunjukkan atraksi yang membutuhkan keseimbangan tinggi, membawa piring di telapak tangan tanpa menjatuhkannya, yang menyimbolkan rasa syukur atas rezeki dan hasil panen yang melimpah.

2. Tarian Kalimantan Tengah: Tari Balean Dadas dan Tari Mandau

Bergeser ke Kalimantan Tengah, kita akan menemukan Tari Balean Dadas. Tarian ini awalnya merupakan ritual adat masyarakat Dayak Ma'anyan untuk memohon kesembuhan bagi penduduk yang sakit. Ciri khas tarian ini adalah penggunaan selendang berwarna-warni (biasanya merah, kuning, hijau, hitam, dan putih) serta gelang lonceng yang berbunyi gemerincing seirama dengan gerakan penari yang dinamis.

Tak kalah populernya adalah Tari Mandau. Tarian ini merepresentasikan semangat juang prajurit Dayak. Penari membawa senjata Mandau dan perisai Talawang, memperagakan gerakan-gerakan bela diri yang tangkas, penuh kewaspadaan, namun tetap artistik. Tarian ini sering ditampilkan dalam upacara penyambutan tamu besar sebagai simbol perlindungan dan kehormatan.

3. Tarian Kalimantan Timur: Tari Gong dan Tari Hudoq

Kalimantan Timur memiliki tarian yang sangat ikonik, yaitu Tari Gong atau Tari Kancet Ledo. Tarian ini menggambarkan kelembutan seorang gadis. Penari akan menari di atas sebuah gong besar dengan gerakan yang sangat pelan, anggun, dan penuh keseimbangan. Filosofinya adalah bahwa perempuan Dayak memiliki kelembutan budi pekerti dan keanggunan laksana air yang tenang.

Berbeda dengan Tari Gong yang lembut, Tari Hudoq adalah tarian topeng yang memiliki nuansa mistis yang kuat. Tarian ini merupakan bagian dari ritual pertanian suku Dayak Bahau dan Modang. Para penari mengenakan topeng kayu menyerupai hama tanaman atau hewan buas dan kostum dari daun pisang kering. Tujuannya adalah untuk memohon kesuburan tanah dan mengusir roh-roh jahat yang dapat mengganggu hasil panen.

4. Tarian Kalimantan Selatan: Tari Baksa Kembang

Di Kalimantan Selatan yang kental dengan budaya Banjar, terdapat tarian klasik istana yang disebut Tari Baksa Kembang. Tarian ini pada awalnya hanya ditampilkan di lingkungan keraton untuk menyambut tamu kehormatan atau kerabat kerajaan. Penari Baksa Kembang biasanya adalah wanita yang menari dengan gerakan lemah gemulai, memegang rangkaian bunga (kembang bogam) yang nantinya akan dihadiahkan kepada tamu yang datang sebagai tanda penghormatan dan selamat datang.

5. Tarian Kalimantan Utara: Tari Magunatip

Provinsi termuda, Kalimantan Utara, memiliki tarian yang memacu adrenalin, yaitu Tari Magunatip atau Tari Lalatip. Tarian ini mirip dengan Tari Bambu di Filipina. Penari harus melompat di antara dua bilah bambu yang diketuk-ketukkan secara berirama. Semakin lama, tempo ketukan bambu akan semakin cepat, menuntut kelincahan dan konsentrasi tinggi dari penarinya. Tarian ini dulunya digunakan sebagai latihan ketangkasan bagi para pemuda sebelum pergi berperang.

Pentingnya Melestarikan Seni Tari Borneo

Keberagaman tarian Kalimantan adalah aset budaya nasional yang tak ternilai harganya. Di tengah arus modernisasi, upaya pelestarian tarian-tarian ini menjadi sangat krusial. Pemerintah daerah bersama sanggar-sanggar seni terus berupaya memperkenalkan tarian ini ke kancah internasional melalui berbagai festival budaya. Bagi wisatawan, menyaksikan langsung pertunjukan tarian ini memberikan pengalaman spiritual dan visual yang mendalam, menyadarkan kita akan betapa kayanya warisan nusantara.

Dengan memahami makna di balik setiap gerakan, kostum, dan iringan musiknya, kita tidak hanya menikmati keindahannya, tetapi juga turut menjaga agar warisan leluhur ini tetap hidup dan relevan bagi generasi mendatang.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya