Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Air di Antara Kayu Gelondongan Jadi Sumber Hidup

Januari Hutabarat
29/12/2025 14:25
Air di Antara Kayu Gelondongan Jadi Sumber Hidup
Warga Kecamatan Sitahuis mandi dan mencuci di badan Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum).(MI/Januari Hutabara)

DI antara tumpukan kayu gelondongan yang masih tumpang tindih dan tanah yang belum pulih, warga Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatra Utara, terus berjuang mempertahankan hidup pascabencana banjir dan longsor yang terjadi pada 25 November 2025 lalu. Lebih dari sebulan berlalu, krisis air bersih dan sanitasi masih menjadi luka terbuka yang belum tertangani.

Di Kecamatan Sitahuis, tumpukan kayu glondongan sisa banjir bandang kini berubah menjadi sumber kehidupan darurat. Di sela-sela kayu itulah air mengalir, dimanfaatkan warga untuk mandi dan mencuci dengan memasang pipa seadanya sebagai pengganti pancuran.

Tetti Sinaga (47), Senin (29/12) salah seorang warga, mengaku tak memiliki pilihan lain. “Air inilah yang kami pakai setiap hari. Kamar mandi umum sudah tidak ada. Mau bagaimana lagi,” ujarnya, sembari menahan rasa cemas.

Kecemasan itu bukan tanpa alasan. Setiap hujan turun, ancaman longsor susulan membayangi. Kayu-kayu gelondongan masih menggantung di lereng, siap bergerak kapan saja. Namun kebutuhan hidup memaksa warga tetap mendekat, mempertaruhkan keselamatan demi mendapatkan air.

Derita serupa juga dialami warga Kecamatan Badiri. Di kawasan ini, warga terlihat mandi dan mencuci di badan Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum), dengan menggunakan air yang mengalir dari saluran kebun sawit di sekitar lokasi.

Erick Tanjung, warga setempat, mengatakan seluruh fasilitas air bersih rusak parah akibat banjir. “Bak penampungan rata dengan tanah. Air kami ambil dari saluran kebun. Tidak layak, tapi hanya itu yang ada,” katanya.

Kondisi tersebut mencerminkan betapa lambannya pemulihan pascabencana, khususnya pada sektor sanitasi dan air bersih. Padahal, persoalan ini menyentuh langsung martabat dan kesehatan warga, terutama perempuan, anak-anak, dan lansia.

Warga berharap kehadiran negara tidak berhenti pada pendataan dan kunjungan seremonial. Mereka menanti langkah nyata dari pemerintah pusat dan daerah, serta dukungan berkelanjutan dari para relawan, untuk memulihkan akses air bersih dan sanitasi yang layak agar korban bencana tidak terus dipaksa hidup di tengah ketidakpastian dan bahaya. (E-2)

 

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Heryadi
Berita Lainnya